Antara PROSES dan PROTES

Antara proses dan protes—

Saat itu saya sedang asyiknya berselancar di facebook karena masa dulu masih banyak teman-teman yang menggunakan sosial media tersebut. Entah karena hal apa waktu itu saya menulis status di beranda  “Jangan Protes Jika Tak Tahu Proses”. Sebuah pepatah yang bermakna jika kau tak tahu sejauh apa perjuangan seseoran dalam mencapai sesuatu maka lebih baik kau diam, karena kau tak lebih dari sekedar pengkritik bodoh.

Awalnya pepatah tersebut sepaham dengan saya, karena saya memang sangat benci orang-orang yang hobinya cuma protes sana sini tanpa tahu perjuangan kita seperti apa.

dalam hidup kita banyak jumpai teman, saudara, keluarga dengan sifat seperti ini dan pastinya membuat siapapun menjadi jengkel. Kenapa tidak, sesuatu yang sudah kita perjuangkan habis-habisan dengan harapan orang lain melihat perjuangan itu dengan balasan memberi tepuk tangan atau pujian pun malah hanya mendapat imbalan berupa olokan karena hasil yang dia lihat tidak sesuai dengan ekspektasi. dan mengalami hal seperti itu kita mungkin akan bersumpah serapah.

Tapi prinsip akan pepatah itu seketika runtuh manakala terlihat notifikasi di ujung kanan layar, kali ini bukan sekadar notifikasi like, akan tetapi komentar. Status yang saya posting beberapa menit yang lalu dikomentari oleh seseorang yang ternyata ayah saya sendiri. Dalam hati berkata “Wahh tumben status ku di komentar oleh ayah.. apa ada yang salah?”. Dengan sigap aku membuka notifikasi dan membacanya. Dengan pemikiran yang berbeda ayah saya mengomentari dan berkata :

Jangan Proses Jika tak Ingin di Protes”.

Ku bacanya berulang kali dengan maksud memahami maknanya dan … Jleebb… kali ini bukan kata-kata putus cinta dari pasangan yang membuat saya sadar. Akan tetapi kata-kata yang sangat simpel tapi bagai pisau yang menusuk. Dan seketika berpikir.

Benar.. sebenarnya saya berproses untuk apa? Dan kenapa saya harus mengkhawatirkan mereka yang protes?

Memang agaknya salah jika saya berusaha lalu mengharap tepuk tangan orang lain, bukankah hal itu terbilang ingin pamrih dan dipuji?

Karena sebaik dan semaksimal apapun kita, pasti akan saja ditemukan orang-orang yang protes. Dan protes pun disini ada 2 macam, protes karena tak suka dan protes karena tak paham. Tugas kita hanya bagaimana meyakinkan orang yang tidak paham agar sejalan dengan frekuensi kita dan membiarkan mereka yang tak suka karena bagaimana pun dia sudah tak sejalan dengan kita.

Pemikiran manusia banyak. Dan kita tak boleh memaksakan diri untuk membuat mereka se frekuensi dengan kita.

Ya. Jangan Proses jika tak ingin di protes. Bukan hanya kata-kata penyemangat belaka. Tapi ini adalah tentang bagaimana kita agar ikhlas dalam bekerja. Tak perlu mendengar penilaian orang lain dan tak butuh tepuk tangan orang lain. Toh kita bekerja tidak untuk membuat orang lain bahagia. Jika ingin bekerja untuk membuat orang lain bahagia, maka saya pastikan kau bekerja sampai matipun akan ada satu kepala manusia yang tak suka. Bukankah Rasulullah yang sejatinya kekasih Tuhan yang tak diragukan lagi kualitas kerjanya dalam kebaikan, tetapi masih banyak pula orang-orang yang membenci beliau? Apalah kita yang hanya seorang manusia biasa yang tak luput dari kekurangan. Maka wajarlah orang-orang akan banyak tak sejalan.

Maka sejak itu prinsip bekerja saya bukan lagi tentang mencemooh orang-orang yang suka protes terhadap hasil kinerja saya karena dia tak tahu perjuangan saya. Tapi karena mereka memang punya hak untuk tidak puas. Dan sayapun bekerja juga punya hak untuk tidak membuat orang lain merasa puas. saya bekerja untuk diri sendiri dan untuk kepuasan diri sendiri. Dan disitulah kebahagiaan muncul.

Bukan tentang membuat orang lain senang. Tapi tentang membuat Tuhan merasa senang dengan cara kita yang maksimal. Bukankah Tuhan yang Maha mengetahui hambanya yang berjuang?

Mari berjuang untuk diri sendiri, dan untuk Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top