SIFAT CINTA MANUSIA

SIFAT CINTA MANUSIA-

Dipertengahan malam, ditemani suara jangkrik alam, saya membaca buku yang amat susah untuk dimengerti, harus berkali-kali mengulang bacaannya agar saya bisa paham maksud dari buku itu. Ialah berjudul “Fihi Ma Fihi”. Bagi pecinta buku mungkin tak asing lagi dengan sosok Maulana Jalaluddin Rumi yang terkenal seorang sufi, yuris, teolog sekaligus penyair masyhur di abad ke-13 dengan berbagai karyanya yang telah banyak di terjemahkan diberbagai bahasa dan dipajang rapi di toko buku.

Di salah satu halaman bukunya tertulis kalimat yang saya garis bawahi ;

“Salah satu sifat manusia adalah begitu mudah melupakan kekasih. Tidakkah kamu lihat bagaimana di dunia ini kamu bisa menjadi kekasih dan sahabat seseorang yang menjadi Yusuf dimatamu. Namun, hanya karena segelincir melakukan satu perkata yang buruk saja, kau singkirkan dia dari pandanganmu dan dengan mudahnya kau melupakannya, dan rupa yang menyerupai yusuf itu kini berubah menjadi seekor serigala”.

Ketika membaca, saya terbiasa sedikit memberi jeda dan melakukan perenungan atas kalimat yang saya baca. Menarik kesimpulan sendiri seraya berkata dalam hati. “Apakah Cinta itu Abadi? Ataukah cinta yang dilakukan manusia hanya sebatas rasa kagum yang tak permanen?”

Saya percaya bahwa cinta itu adalah salah satu sifat Tuhan. “Ar-Rahman – Ar-Rahim” yang maha pengasih lagi maha penyayang. Dan saya percaya bahwa Cinta Tuhan kepada makhluknya permanen, tidak terbatas. Lalu Bagaimana dengan cinta manusia? Apakah sama permanennya?

Manusia adalah makhluk yang butuh cinta tapi kurang pandai perihal cinta. Cinta manusia ada, tapi sulit konstan. Selalu berubah sesuai dengan kondisi hati. Alasannya adalah kita mempunyai sifat terlalu gampang mencintai, terlalu cepat melupakan karena kita terlalu enggan memaafkan

Lalu bagaimana Tuhan memiliki sifat Maha Cinta itu? Karena Tuhan memiliki pasangan Maha Cinta, yaitu Maha Pemaaf.

Cinta dan Maaf. Dua kata yang kiranya sepaket, keduanya tak dapat dipisahkan. Cinta tak bisa langgeng jika tak ada maaf, dan maaf tak akan terjadi jika tak ada cinta. Maka orang-orang yang sejatinya gampang memaafkan maka ialah yang paling gampang mendapatkan cinta, dan sesiapa yang gampang mendapatkan cinta maka ialah jiwa yang paling bahagia.  

Mengapa harus maaf? Sesuai dengan asal mula penciptaan sifat manusia. Sedari nenek moyang kita Nabi Adam, ialah manusia yang paling pertama diciptakan dan yang paling pertama menurunkan sifat salah. Ketika Nabi Adam diberikan kesenangan surga dengan syarat dilarang memakan buah khuldi, tapi karena tergoda oleh bisikan iblis hingga akhirnya melanggar, maka disitulah sifat pertama yang menjadi ciri khas manusia yaitu tempatnya salah. Namun karena kecintaan Tuhan terhadap makhluk ciptaanNya, maka Ia pun memaafkan Adam dengan konsekuensi diturunkan ke Bumi. Maka dari sini pula proses maaf menjadi bukti cinta.

Kita memiliki 1 kata kunci baru : Cinta – Salah – Maaf. Sifat inilah yang terus menerus berputar dalam diri manusia. Manusia membutuhkan cinta, tapi sering berbuat salah, maka solusinya adalah maaf.

Jika manusia terlalu gampang dalam mencinta, terlalu sering berbuat salah bukankah semestinya kita juga harus pandai dalam memaafkan?  Tapi sekali lagi Manusia Bukanlah Tuhan. Namun bukan jadi sesuatu yang mustahil. Mencintai dan memaafkan tentu bisa di miliki oleh tiap manusia, tapi tetap tak akan mampu untuk mencapai bentuk yang sempurna. Itulah hakikat manusia. Diciptakan secara sempurna tapi tak mampu bersikap sempurna.

Tugas kita hanya bisa mendekati kesempurnaan. Berusaha untuk memadukan antara cinta dan maaf. Memang sulit, tapi bukankah setiap kesulitan ada saja jalan menuju kemudahan? Teringat pepatah mengatakan, jika satu pintu tertutup, maka mundurlah sejenak, akan ada pintu-pintu yang lain akan terbuka.

Mencintailah, karena cinta adalah kebutuhan hidup, dan maafkanlah karena maaf suatu kebutuhan dalam mencinta.

Cinta dan Maaf.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top