Mari Membuka Topeng

Mari Membuka Topeng

Topeng… menurut KBBI 1) n Penutup Muka (dari kayu, kertas, dan sebagainya) yang menyerupai muka orang, binatang, dan sebagainyya. 2) n kepura-puraan untuk menutupi maksud sebenarnya; Kedok: 3) n topeng yang digunakan dalam pertunjukan drama untuk menunjukkan tokoh beserta karakternya.

Menarik kesimpulan, topeng merupakan alat untuk menghalangi jati diri untuk terlihat. Menutupi apa yang seharusnya terlihat secara murni. Disini saya tidak ingin membahas perkara topeng monyet atau topeng pertunjukan yang ada di acara sulap atau sirkus. Disini kita akan membawa topeng dalam dunia realita.

Mengapa dunia realita? Mengapa bukan dunia fana yang ada di media? Bukankah di media semua penuh kepura-puraan?

Ya.. Betul. Di dunia media memang penuh dengan kepura-puraan, tapi itu dunia fana dan kita tidak benar-benar hidup di dalamnya. Yang paling berbahaya adalah yang memakai topeng di dunia realita dan kita hidup di dalamnya.

Mengapa berbahaya? Bukannya di dunia realita kita lebih bisa mengenal keseharian orang tersebut?

Pertama, jangan salah paham dulu. Disini saya bukan membahas tentang kepura-puraan seorang yang tersenyum disaat baru saja putus cinta. Bukan membahas tentang kepura-puraan seorang yang menikmati pekerjaan akan tetapi dia tidak berada di dalamnya. Bukan. Yang ingin saya bahas disini adalah tentang kodrat kita yang sesungguhnya. Yaitu sebagai manusia. Yang sering di tafikkan.

Topeng yang saya maksud disini adalah topeng yang banyak sekali  ketika seseorang menjauh dari kodratnya sebagai manusia. Seperti yang kita ketahui, manusia dibekali oleh 2 hal yang menyebabkannya menjadi puncak ciptaan, yaitu akal, dan nafsu. 2 hal ini yang dapat membedakan mana manusia, hewan dan malaikat. Malaikat memiliki akal tapi tidak dengan hawa nafsu, dan hewan memiliki hawa nafsu tapi tidak dengan akal. Dan disinilah manusia berada di antara keduanya. Ketika manusia memilih untuk meninggikan akalnya maka ia melebihi sosok malaikat, tetapi ketika hawa nafsu melebihi akalnya maka ia lebih rendah dari seekor binatang.

Dalam realita, masih banyak yang mengatakan dirinya sebagai manusia tapi tidak dengan sifatnya. Ia lebih memilih untuk memakai topeng hewannya, memperturutkan hawa nafsunya untuk hal-hal yang menyenangkan dirinya . Ditumbuhi topeng ego, dihiasi topeng serakah. Andai manusia ingin melepaskan topengnya dan kembali kepada fitrahnya, tentu hal ini akan lebih baik karena sejalan dengan hatinya.

Karena hati…. karena hatilah yang selalu berteriak kepada manusia untuk segera kembali kepada asal sifatnya. Sungguh beruntung seorang manusia karena dibekali oleh pengingat yang bersih. Sekotor apapun badan yang empunya, tetap hatinya masih memiliki sepercik harapan yang meronta untuk mengembalikan sang empunya kepada hakikatnya.

Ini bukan sebuah kalimat klasik yang tak berbukti. Coba anda ingat-ingat, terakhir kali ketika anda berbuat yang bertentangan dengan kebaikan. Apa yang pertama kali muncul di pikiran anda? Kalo bukan yang pertama, apa yang kedua, atau yang ketiga. Pasti akan ada sebuah bisikan kecil dari dalam diri untuk tidak melakukan keburukan itu. Sekotor apapun dan sehina apapun diri. Masih ada hati yang terus mengawas diri.

Itulah dahsyatnya manusia dan itu pula bodohnya manusia. Dibekali hati sebagai pengingat tapi tak juga sadar untuk mengingat hakikat. Diberikan kebebasan sebuah pilihan tapi enggan untuk mengambil tindakan kebaikan.

Maka melepaskan topeng kehinaan adalah jalan piliham. Kembali ke hakikat adalah tindakan yang tepat. Duhai diri yang begitu tinggi. Mari kembali ke fitri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top