Karma adalah nasib, nasib adalah karma

Jika mendengar kata karma, apa yang terlintas dipikiran para pembaca? Percayakah bahwa karma itu ada? Jika berbicara mengenai karma, manusia akan dibagi menjadi dua golongan, golongan yang satu mengatakan “Iya, karma itu memang benar-benar ada” golongan kedua mengatakan “Tidak, karma itu tidak ada, hanya takdir yang menentukan hidup kita” kurang lebih demikian.

Entah mengapa ada 2 pandangan mengenai karma dan takdir, ada pula yang menyamakan bahwa karma adalah bagian dari takdir. Dan itu semua tergantung dari sudut pandang setiap orang.

Disini saya akan memberikan pendapat saya mengenai apa itu karma menurut pandangan saya yang sebagian besar dipengaruhi oleh buku yang pernah saya baca.

Dalam buku “The Answer” karangan Allan dan Barbara Pease. Saya mendapatkan sebuah pengetahuan baru tentang bagaimana cara kerja karma tanpa pandangan doktrin secara masuk akal. Dan disinilah saya akan berbagi dengan bahasa saya sendiri.

Karma itu ada, dan yang mengendalikan seluruh karma itu adalah diri sendiri. Karma yang saya maksud bukan  yang akan mempengaruhi dan dipengaruhi orang lain. Jika karma yang anda pahami ada campur tangan orang lain seperti “Kamu telah berbuat jahat pada orang itu, suatu saat itu akan kembali kepadamu”, Bukan seperti itu. Disini karma yang saya maksud adalah karma hasil ciptaan diri sendiri, korbannya adalah diri sendiri dan dampaknya kembali lagi bagi diri sendiri.

Layaknya sebuah pepatah mengatakan, apa yang kau tanam, itu yang kau tuai. Karma adalah keseluruhan kondisi manusia saat ini yang diakibatkan oleh tindakan dan keputusan-keputusan yang telah ia ambil dimasa lampau. Secara sederhananya, cara kerja karma disini tak lain hanyalah sebuah hukum sebab akibat pada diri sendiri

Terlalu banyak orang yang tidak tahu membedakan mana takdir dan mana nasib, sehingga banyak dari mereka yang hanya mengandalkan Pasrah dibanding Berusaha. Terlalu mudah mengatakan “Yah.. mau gimana lagi, namanya sudah ketentuan”, dibanding mengatakan “Aku harus bisa, aku harus berusaha”.

Dalam agama islam, takdir adalah ketentuan yang tidak bisa diubah sama sekali, sedangkan nasib adalah sesuatu yang diserahkan sepenuhnya kepada manusia dan manusia sendirilah yang menentukan nasibnya.

Nasib disini saya samakan dengan prinsip kerja karma. Banyak diantara manusia yang hidup sengsara, dengan banyak menyalahkan takdir, atau orang-orang disekitarnya yang menurutnya turut andil membuat hidupnya sengsara.

“andai saja bos saya tidak memecat saya, pasti saya akan hidup berkecukupan!”

“Andai saja saya tidak menuruti kata orang tua saya untuk berkuliah di universitas itu. Saya pasti sudah bekerja dan hidup tenang. Buang buang waktu saja!”

Perkataan-perkataan demikian, tak lain halnya hanya sebuah lelucon belaka. Menyalahi takdir, menyalai orang lain, menyalahi keadaan, dan sekian banyak menyalahi lainnya seakan menjadi pelarian untuk menutup kesalahan diri sendiri. Ujung-ujungnya mungkin akan menyalahkan sang pencipta.

Mari kita mulai membedah, kesalahan orang mengenai takdir, dan bagaimana karma bekerja dalam hal ini.

Orang pertama adalah orang yang hidupnya jauh dari kata cukup, mungkin dia dulunya adalah orang yang baik, akan tetapi karena ia dipecat oleh bosnya, ia lalu menyalahkan bosnya. Secara tidak sadar, ia mengatakan bahwa nasib hidupnya ditentukan oleh si bosnya. Padahal ia tak paham, ia dalam kondisi demikian karena ulahnya sendiri. Meskipun ia dipecat oleh bossnya, bukan berarti lantas itu penyebab dia kesusahan. Yang menyebabkan ia menjadi orang susah adalah karena ia tidak memutuskan untuk mencari pekerjaan kembali. Ia hanya berkutat menyalahi bosnya dan menyalahi takdirnya tanpa mau mengubah nasibya. Ia tidak berusaha, maka karmanya ia menjadi orang susah.

orang kedua menyalahi orang tuanya karena orang tuanya menyuruhnya untuk bersekolah di universitas “X”, ia menyalahkan orang tuanya, karena ia yakin andai saja ia tidak membuang-buang waktunya untuk bersekolah, ia pasti sudah bekerja dan hidup tenang. Dalam hal ini, ia menyalahkan orang lain atas apa yang telah ia putuskan dalam hidupnya. Padahal jika ditilik lebih lanjut. Ia bersekolah di universitas tersebut mungkin memang karena perintah orang tuanya, akan tetapi yang jadi masalah adalah dirinya sendirilah yang membiarkan dirinya untuk memutuskan mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang tuanya. Bisa saja ia tidak bersekolah di sana dan langsung bekerja jika memang ia memutuskan pada diri sendiri untuk langsung bekerja dengan memberikan penjelasan yang baik pada orang tuanya.

Sebagian besar orang menyalahkan aspek eksternal daripada memusatkan perhatian ke aspek internal. Makanya, banyak diantaranya menganggap bahwa hidupnya bergantung dari kondisi disekitarnya, orang tua, teman, sahabat, dll. Padahal tanpa disadari, yang membiarkan mereka masuk dan memberikan kendali hidupnya adalah dirinya sendiri. Ia menjadi begini, karena saran temannya begini, akan tetapi yang memutuskan untuk mengikuti saran temannya adalah dirinya sendiri.

Memang ada hal yang diluar kendali kita yang tak bisa kita kendalikan, seperti lahir dalam kondisi apa, bencana yang menimpa seperti apa, mati dalam kondisi apa, itulah yang dikatakan TAKDIR. akan tetapi kita bisa mengendalikan persepsi kita terhadapnya, kita bisa mengubahnya setelah itu. itulah kekuatan terbesar manusia. Memutuskan dan melakukan sesuatu.

Beberapa juga mengatakan bahwa saya hidup begini karena kebiasaan keluarga saya memang seperti ini”.

Memang sewaktu kecil kita belum mengerti apa-apa dan belum bisa memutuskan dan melakukan apapun dalam hidup, itu berarti sebagian besar hidup anda ditentukan oleh sekeliling anda. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia dan pengetahuan anda. Anda sendirilah yang berhak untuk menentukan sendiri perjalanan hidup seperti apa. Jika dulunya hidup anda dikendalikan oleh orang sekitar. Sekarang saatnya adalah untuk mengambil kendali penuh atas hidup anda

Yang harus disadari sebelum terlambat adalah. KITA MENGAMBIL KENDALI ATAS HIDUP KITA SENDIRI, SEPERTI APA DIRI KITA NANTINYA, ITU DITENTUKAN OLEH KEPUTUSAN KITA DAN ITULAH KARMA.

Maka dari itu, ambil alih hidup anda sekarang juga. Jangan pernah kembali menyalahkan kondisi ekternal anda, karena hidup anda bergantung oleh keputusan keputusan anda sendiri.

Andalah pemilik karma hidup anda sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top