Jalan Apa yang Kau Pilih, Wahai Pemuda?

Sedikit bercerita tentang seorang pemuda yang sedang galau memilih jalan hidupnya.

Ia sangat dilema tentang dua jalur yang berada di hadapannya. Kedua jalur tersebut tampak menjanjikan sekaligus menakutkan.

Jalan yang pertama, menikmati masa muda dengan segala yang ada, memilih untuk bahagia sekarang dan menciptakan kebahagiaannya, dan berserah kepada yang maha kuasa atas masa depannya.

Jalan yang kedua, bersusah payah di masa muda dengan segala kerikilnya, memilih untuk berjuang di jalannya yang penuh lelah, dengan berharap apa yang ia kerjakan saat ini pasti akan berbuah manis di depan. Tak peduli masa mudanya hancur yang penting akan terjamin di masa tua.

Namun, kedua jalan tersebut tentu memiliki minusnya jua yang terus menerus ia pikir.

Jalan pertama, tepatkah menikmati masa muda dan masa kini dengan berserah diri pada yang kuasa atas masa depan yang menantinya? Jangan-jangan itu hanyalah sikap yang bodoh, akan kah hidupnya di masa depan akan berbuah manis jika tak berjuang keras di masa mudanya?

Jalan kedua, tepatkah bersusah payah di masa muda? Bukankah hidup tiada yang tahu? Akan kah besok masih hidup atau mati? Bagiamana jika keberuntungan tak berpihak padanya? Bagaimana jika usaha yang ia bangun hanya menghabiskan waktu?

Ya, sebegitu misterinya kehidupan bagi pemuda ini. Sungguh malang waktunya ia habiskan, terkuras energinya memikirkan dilema yang kini ia hadapi. Begitu terus sampai penghujung hari, bulan, dan tahun ia habiskan berdebat dengan akal pikirannya sendiri.

Kemudian ketemulah ia pada jalan yang ketiga, oh, ternyata jalan itu tak terlihat awalnya, berkabut pikirannya, barulah saat ia hening sejenak dari perdebatan akal pikiran, ia baru menemukan pilihan jalan ketiga.

Jalan ketiga, memilih untuk fokus akan hari ini, maksimalkan apa yang ada di depan, berjuang di masa muda tanpa mengharap yang lebih untuk masa tua. Pikirnya, biarlah yang masa kuasa memberikan jalan padanya di masa depan.

Jalan ketiga, prinsipnya apapun yang terjadi saat ini, haruslah ia fokus dan berusaha semaksimal mungkin. Perkara esok? Toh, mati pun kita tak tahu, Biarkan hidup berjalan sesuai alur yang diciptakan oleh Tuhan.

Biarlah manusia ini, pemuda ini, menjadi lakon yang memainkan perannya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan alur yang diciptakan oleh sutradara kehidupan, yakni Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top