Kudeta Uang terhadap Tuhan

Kudeta Uang terhadap Tuhan–

Uang.. kata orang-orang “Uang bukanlah segalanya tapi segalanya butuh Uang”. Posisi uang zaman ini bukan lagi sekadar barang biasa yang dijadikan alat sebagai tukar menukar barang atau jasa. Kini uang sudah menjelma menjadi tuhan bagi orang-orang yang penggila materi.

Tidak.. saya rasa bukan hanya bagi mereka yang penggila materi. Tapi bagi mereka yang bukan penggila materi pun bisa saja terperangkap oleh godaan uang untuk dijadikan hambanya. Bukti nyata sudah sangat banyak ditemui oleh mereka-mereka yang hidup di pelosok ibu kota yang (katanya) pusat peradaban negara.

Layaknya sebuah drama sinetron. Julukan ibu pada kota yang seharusnya memberikan kasih sayang kepada anak-anak yang diasuhnya justru malah menjelma menjadi seorang ibu tiri yang pilih kasih dalam memberikan kasih sayang hanya kepada anak kesayangannya. Sehingga anak yang tak dianggap itu sukar dalam menjalani hidup dan sang anak yang tak memiliki kesabaran akan berbuat hal yang menyimpang dibandingkan sang anak yang masih memiliki kesabaran.

Begitulah hidup, kita banyak melihat diberita bahwa tingkat kriminalitas makin hari makin tinggi yang tak lain sebabnya adalah masalah perekonomian. rampok, pencurian, pembegalan yang kian hari selalu menjadi topik perbincangan yang selalu saja membuat telinga kita panas.

ketika ditanya mengapa? ada masalah apa sehingga perekonomian kian hari membuat iman manusia banyak yang runtuh?

satu hal yang penulis analisis dan banyak referensi dari buku bacaan. bahwa yang selalu diajarkan pada saat sekolah adalah kebutuhan hidup manusia yaitu Sandan, pangan, dan papan. dan secara tidak langsung ketiga kebutuhan pokok itu bisa didapatkan dengan uang. Maka bisa disimpulkan bahwa uang adalah puncak kebutuhan pokok.

Jika pembaca ada yang protes tentang argument saya diatas maka tak masalah. Karena memang saya pun tak sepenuhnya setuju. Pada hakikat, jika rasa kasih sayang dan saling tolong menolong ditanamkan dalam diri seseorang maka tidak akan ada masalah terhadap uang. Uang tidak akan menjadi Tuhan, melainkan Uang akan menjadi alat untuk menuju Tuhan.

Ketika timbul pertanyaan, bagaimana bisa uang menjelma menjadi Tuhan? Bagai prosesnya? Simpel untuk menjawabnya, karena semenjak sekolah kita banyak diajarkan bagaimana cara memperoleh keuntungan, bagaimana harta kita bisa menjadi banyak, bahkan ketika masih kecil sering kali ditanamkan sebuah pepatah mengatakan “Hemat Pangkal Kaya” dalam artian banyak orang hemat memberi sinonim bahwa ketika punya uang, kita harus rajin-rajin menabung, sehingga lekas nantinya uang yang ditabung akan banyak dan kita akan kaya.

Mindset inilah yang membentuk pola pikir seseorang bahwa “Kita di wajibkan untuk Kaya raya” “Kita di wajibkan untuk mengumpulkan harta”.

Sebenarnya jika ditelisik lebih dalam, pepatah itu mengatakan bahwa kita harus menghemat dalam pembelanjaan tapi kita tidak mesti harus menimbun kekayaan kita dengan menabung. Menabung itu perlu, tapi ingat!! dalam ajaran Agama Islam, seorang muslim diberikan perintah untuk selalu menyedekahkan hartanya kepada sesama. Ada yang dikatakan juga sebagai Zakat, bahwa harta yang kita punyai sekarang sebagiannya merupakan milik orang lain pula. Dan andai ini yang ditanamkan dalam benak seseorang maka yakin tidak akan ada lagi orang yang khawatir besok mau makan apa, tidak ada lagi orang-orang dipersimpangan jalan memungut bekas sisa-sisa nasi oleh orang-orang serakah. Hingga pada akhirnya bukan uang yang dijadikan Tuhan tapi Uang yang dijadikan alat menuju Tuhan dengan bersedekah.

Bersedekah adalah kuncinya, kunci yang membuat seorang ibu tiri kota menjelma menjadi ibu kandung kota. Yang menjadikan para anak-anaknya sejahtera. Yang menjadikan anak-anaknya bisa tidur nyenyak dalam hangat nya keteduhan beratap. yang pada awalnya dunia menjadi alam yang begitu menakutkan menjelma menjadi alam yang begitu penuh kasih sayang.

Sampai saat ini, belum ada yang menerapkan benar system itu. Mindset belum berubah. Pohon yang sudah tumbuh bertahun-tahun akarnya akan sangat kekar, sehingga sulit untuk ditumbangkan. Tapi sulit tidak menandakan ketidakbisa-an, maka dibutuhkan tenaga ekstra untuk menumbangkan pohon tersebut.

Begitu pula mindset untuk terus menerus menjadikan diri sendiri kaya, dengan menumpuk uang sendiri dan menghiraukan orang lain yang membutuhkan sudah tertanam dalam dalam diotak kita. Diperlukan sebuah kesadaran bagi tiap individu. Sebuah revolusi mental !!.

Namun inilah bagian tersulitnya. Satu-satunya cara adalah dengan memulai dari diri sendiri. Bahwa bukankah sesuatu kebaikan yang dilakukan  seorang individu akan menular kepada individu lain?

Ayo mulai dari diri sendiri. Bagi orang-orang yang memiliki kekayaan lebih, cobalah untuk menengok orang-orang sekitar. Jangan egois dan berkata “Ini adalah Hak ku, karena ini adalah hasil kerja kerasku”.

Memang benar itu adalah kerja kerasmu, tapi ingat!! Kau tak akan bisa bekerja sendirian. Kau tentu perlu orang lain untuk membantu, kau juga perlu Tuhan untuk membantumu. Bukankah ketika kau menaati perintah Tuhan merupakan wujud terimakasih atas bantuan yang diberikanNya? Maka ia perintahkan kau untuk membagikan hartamu maka lakukanlah..

Jangan Menjadikan Uang sebagai Tuhan. Tapi Jadikanlah Uang menjadi alat menuju kedekatan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top