HIDUP DILUAR PENGKOTAKAN

Kita terlalu dibiasakan hidup dalam pengaruh identitas, entah itu agama, suku, ras, warna kulit, jenis rambut, perbedaan pemahaman atau bahkan perbedaan pandangan politik. Kita terlalu kaku dalam memandang persaudaraan yang di kurung dalam sekat identitas, jika kamu adalah golongan A, maka kamu tak boleh berteman dengan kami yang dari golongan B.

Sebenarnya penulis pun bingung, entah dari mana munculnya pembeda identitas ini, siapa yang pertama kali mengkultuskan. Padahal sains telah membuktikan bahwa kita ini semua adalah satu golongan, satu nenek moyang, yang dulunya kita hidup bersama yang disebut homo sapiens.

Akan tetapi karena efek penjelajahan, maka kita semua dibuat berbeda oleh lingkungan. Yang kulit putih ada karena efek lingkungan yang jarang terkena sinar matahari, yang kulit hitam ada karena efek lingkungan yang intensitas mataharinya yang tinggi. Yang agama islam ada karena ia dilahirkan dan dibesarkan oleh keturunan islam, yang agama nasrani ada karena ia dilahirkan dan dibesarkan oleh keturunan nasrani, dll.

Sering kali kita diberikan identitas yang entah darimana kita dapatkan dan secara otomatis melekat pada kita, dan identitas itu pula yang memberikan kita batas untuk mengeksplore hal luar.

Sedari kecil kita sudah dikurung dalam sebuah kotak yang dimana ketika kita keluar dari batas kotak itu maka kita sudah dianggap sebuah penghianat. Bukankah begitu?

Dampaknya apa, kita jadi menyalahi aturan kita sendiri yang diciptakan dan ada sebagai makhluk social. Tahu makhluk social kan? Ya. makhluk yang tidak bisa hidup tanpa bantuan makhluk lain, dalam arti, ketika kita memenjarakan diri dan membatasi diri di dalam kotak yang dikatakan identitas. Maka sama saja kita membunuh hakikat kita sendiri sebagai makhluk social yang tak kenal batas dan harus mengenal dunia luas tanpa sekat identitas.

Layaknya sebuah burung dalam sangkar yang sempit,, yang pada hakikatnya ia harus terbang mengangkasa, akan tetapi terjerat, stress, lalu matilah ia.

Terkadang identitas memang dibutuhkan seseorang sebagai bentuk dirinya yang unik (pembeda dari yang lain) akan tetapi, diri yang unik dan beda tidak harus menjadi orang yang anti terhadap apa yang beda dari dirinya.

Warna merah adalah unik, akan tetapi ia akan begitu flat dan tak enak dipandang jika hanya sendiri, terlalu polos dan membosankan. Bagaimana kalo melihat pelangi yang menyatu dengan banyak warna. bukankah begitu indah? begitulah indahnya hidup jika kita ingin menyatu tanpa melihat perbedaan.

Kita harus belajar untuk menyatu dalam perbedaan. Layaknya seorang filsuf Socrates yang ketika ditanya perihal tempat tinggalnya, ia tak pernah menjawab bahwa ia adalah orang yang tinggal di Athena, akan tetapi ia lugas menjawab bahwa ia adalah warga dunia. Tidak ada Athena, tidak ada romawi, tidak ada yunani, yang ada adalah kita warga dunia.

Secara natural, kita sebenarnya makhluk yang begitu baik. Andai kata kita tak mengenal istilah sekat identitas dan pikiran kita tidak tercemari olehnya, maka kita dalam hati nurani adalah orang yang selalu berbelas kasih kepada sesama tak peduli siapapun, atau dari mana pun asalnya.

Kita memiliki rasa empati yang natural yang mendorong tubuh kita untuk selalu sigap membantu siapapun yang perlu untuk dibantu. Akan tetapi yang membuatnya terhalang adalah pikiran yang tercemari oleh rasa pemilik identitas yang kuat.

Buktinya?

Cobalah untuk melihat kejahatan-kejahatan yang terjadi betebaran di media sosial. Bukankah mengerikan? Bukankah kita tak ingin hal itu terjadi pada kita? Bukankah kita ingin membantu mereka? Cobalah rasakan tanpa melihat ia dari sudut pandang sekat.

Jika identitas menjadi sekat buatmu berbuat baik, maka perluaslah identitasmu menjadi universal. Ingatlah bahwa kita semua warga dunia, kita hidup di satu dunia yang sama. Identitas kita adalah sebagai makhluk social, bukan berbatas suku, agama, ataupun ras. Kita adalah makhluk yang sama sama memiliki akal pikiran, hati nurani yang baik. Itulah identitas kita yang sejati.

Maka dengan kesadaran universal ini, maka hilanglah pengkotak-kotakan kecil bagi kita menjadi lingkaran luas yang menyeluruh. Tak ada sekat, tak ada batas, kita bebas mengekspresikan dan membagikan kebahagiaan pada sesama manusia. Dan alhasil. Tak adalah bullyan, berkuranglah kejahatan. Dan damailah kehidupan.

Berlajarlah untuk menerima perbedaan, karena kita hanya berbeda di sedikit hal, tetapi sama di banyak hal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top