Akhir-akhir ini ada keanehan yang terjadi pada diri saya. Pikiran sedang buntu, ingin menulis tapi tak ada ide, ingin membaca tapi tak ada mood baca, ingin rebahan tapi rasanya gelisah, jadwal To do List harian berantakan (Meskipun beberapa masih bertahan dan dikerjakan), tubuh serasa tak bergairah, dan masih banyak lagi.
Lalu, Ku coba untuk bertanya pada diri sendiri, “Ada apa akhir-akhir ini?” apakah saya jenuh dengan aktivitas saya? Apakah saya butuh istirahat lagi? Ah, tidak.. sudah terlalu lama istirahatku, sudah menumpuk pekerjaan yang harus kukerjakan, istirahat saya rasa sudah terlampau lama, jika kulanjutkan, bisa-bisa bukan istirahat lagi namanya, akan tetapi lari dari masalah dan terjebak zona nyaman.
Hari itu pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan “Ada apa akhir-akhir ini” sampai sampai membuat sedikit stress. Kemudian di bumbui lagi dengan pikiran “apakah aku kembali pada mode unproduktif lagi?”. Ah sialnya, semakin berusaha saya menghilangkan pikiran negatif itu, malah semakin jelas ia mengganggu. Nampaknya benar, pikiran negatif agak sulit dikalahkan dengan adu pikiran yang lain, akan tetapi harus dengan tindakan. Maka kusibukkanlah diriku membuka buku-buku To do list harianku, barangkali akar masalahnya kutemukan disana.
Kuperiksa satu persatu, tapi sialnya saya membuat To do list harian juga tidak setiap hari. Jadi mencarinya disini juga tidak akan menyelesaikan masalah. Sedikit pasrah kurasa waktu itu, lalu kulihat sekeliling isi kamarku “sangat berantakan juga akhir-akhir ini” gumamku. Dan tibalah pikiranku mengingat sebuah buku yang berjudul “Seni Hidup Minimalis” yang didalamnya terdapat penjelasan bahwa “Kebanyakan barang = stress”. Interpretasiku saat itu, “apa jangan-jangan ini penyebab hariku kurang bersemangat? Karena dikelilingi banyak barang yang berserakan?”. Pasalnya, kuingat-ingat kembali masa-masa produktifku kemarin adalah masa dimana semua seisi kamarku, barangku, tertata sangat rapih.
Ya. betul, kutemukan masalahnya. Saya akhir-akhir ini hidup berantakan.
lalu ku coba untuk memulai membersihkan satu persatu (Meskipun agak malas), tapi demi untuk menyegarkan pikiranku kembali, kurasa semuanya harus tertata rapih (meskipun ini hanya dugaan awalku).
Seberes merapihkan semuanya, sejenak pikiranku agak lega, moodku jadi membaik. Lalu tibalah saya pada satu kesimpulan, bahwa benar, apa yang dilihat berantakan akan mempengaruhi pikiran kita menjadi berantakan pula. Dan akhirnya perasaan gelisah yang sedari tadi kurasakan tetiba hilang perlahan, pikiran yang awalnya mandeg kini memperoleh ide yang gemilang, dan rasa tak nyaman kini kembali nyaman.
Kudapat solusinya. Adalah Pembenahan..
Ya.. saya rasa kita semua perlu membenahi hal-hal yang nampaknya berantakan agar kenikmatan akan keindahan memancar kembali. Kamar yang berantakan membuat istirahat kita menjadi tidak nyaman, kamar mandi yang kotor membuat mandi kita menjadi tidak segar, Aplikasi smartphone yang berantakan membuat jemari kita bingung mencari aplikasi yang ingin kita buka, file yang berantakan memakan waktu kita untuk menemukan file penting yang dicari, hati yang kotor membuat kita jauh dari kata tentram.
Saya kini berani mengatakan, bahwa tak ada orang yang menyukai hal yang berantakan, jikalau ada, tunggu saja waktu ia akan ikut berantakan pula. Dalam arti, Semua insan butuh pembenahan, memang sulit untuk bergerak dan memulainya, apalagi jika pembenahan itu Nampak merepotkan kita. Akan tetapi akan tambah sulit jika dibiarkan sampai semuanya menumpuk.
Kuncinya adalah kita harus rutin dan menjadikan pembenahan itu sebagai kebiasaan. Produktif bagi saya adalah pembenahan dari rasa malas. Orang yang malas adalah orang yang jiwanya perlu dibenahi, dibersihkan untuk kembali merasakan nikmatnya menjadi orang yang produktif.
Sederhananya, cucian yang kotor jangan dibiarkan menumpuk jika kamu tak mau direpotkan dengannya. lakukanlah pembersihan lebih sering agar semuanya mudah dilakukan.
Dan benar pulalah pepatah mengatakan “Lingkungan bersih, pikiranpun jernih”. Oleh karena itu jika ingin pikiran, hati dan tindakan mu bersih, maka mulailah dari lingkunganmu yang bersih.