Kata maaf, hanya terdapat 4 huruf, begitu terlihat sederhana, akan tetapi tidak banyak orang yang bisa mengamalkan.
Ada berbagai tipe orang di dunia ini terkait cara memaafkan, ada orang yang pemarah tapi pemaaf, ada orang penyabar dan pemaaf, ada orang penyabar tapi tidak pemaaf dan ada orang pemarah dan tidak pemaaf.
Yang paling banyak adalah orang yang pemarah dan tidak pemaaf, dan yang paling jarang kita temukan ialah orang yang penyabar dan pemaaf.
Hanya sebagian kecil manusia yang memiliki sifat demikian, andaikata semua orang memiliki sifat penyabar dan pemaaf, maka tidak akan ada keresahan yang timbul di negara, semua akan aman, tentram, dan damai, tidak ada lagi hoax yang beredar, tidak ada lagi cacian dan makian di media yang berserakan,
begitu dahsyatnya dampak dari seorang yang pemaaf, ada sebuah kisah inspiratif yang penulis dapatkan yang berkaitan tentang “memaafkan”
Ada seorang guru TK yang sedang mengajak para murid-muridnya untuk melakukan permainan tantangan, dimana pada permainan ini murid murid akan di tantang untuk membawa sebuah kantong plastik yang berisikan sebuah kentang, dimana kentang itu berjumlah orang yang dibenci oleh murid murid itu, tak perlu menuliskan nama yang dibenci yang terpenting adalah jumlah orang yang di benci harus sesuai dengan jumlah kentang yang akan di bawa.
Lalu kemudian tantangan selanjutnya adalah murid murid itu harus membawa kentang itu kemanapun ia pergi selama 7 hari. Murid murid itu terlihat tidak keberatan dan melakukan tantangan itu dengan enjoy.
Hari pertama setelah tantangan itu para murid masih terlihat santai, lalu kemudian masuk dihari ke 4, para murid mulai mengeluh karena kentang yang selalu di bawanya kian hari kian membusuk, lalu satu persatu murid protes, dan tak ada yang tahan untuk membawanya sampai seminggu. Guru itu pun tersenyum dan menjelaskan hikmah yang didapat dari permainan itu.
Ya.. Menyimpan kebencian itu sangatlah merugikan kita, awalnya memang terlihat biasa saja, akan tetapi lambat laun kebencian kita dengan orang itu akan merugikan diri kita sendiri, contohnya saja, bisa jadi orang yang dibenci sekarang akan sangat kita butuhkan bantuannya sebulan kedepan atau setahun kedepan, dan dampaknya dengan kebencian yang tadi kita jadi sungkan untuk meminta pertolongan.
Tidak ada yang tau orang orang disekitar kita kedepannya akan menjadi apa, Bayangkan itu terjadi dan dapat menghambat karir kita. Bisa saja teman kita yang kita benci sekarang, 4 – 5 tahun kedepan akan menjadi pemilik sebuah perusahaan yang kita dambakan, Betapa meruginya kita hanya karena kita gengsi untuk meminta maaf, rusaklah karir kita selamanya.
Maka dari itu. Cobalah untuk menjalin sebuah persahabatan dengan banyak orang, dan minta maaflah, walaupun dalam pertikaian itu bukan kita yang menjadi penyebab masalah, tidak akan menjadi hina diri ini jika meminta maaf, derajat kita tidak akan merosot, malah akan menjadi naik.
Akan lebih mulia jika kita yang memulai meminta maaf, dan itu adalah perbuatan yang sangat sulit untuk dilakukan, akan tetapi sangat mulia bagi orang yang menyanggupinya serta mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah serta kebahagiaan di dunia.
Tidakkah setiap manusia menginginkan perdamaian? Akan tetapi mengapa enggan untuk memaafkan? Hanya dengan memaafkanlah perdamaian akan tercipta, karena sebuah konflik akan terus ada. Maka yg menjadi akhir adalah maaf.
Wahai Insan mulia. Belajarlah mengesampingkan ego demi kemakmuran bersama. Meminta maaf meski tak salah, akan membuahkan kebahagian bagi pelakunya.
Hidup akan bahagia tanpa kebencian sebagaimana bahagia tanpa beban, karena yang membuat pikiran ini banyak beban adalah banyaknya pikiran pikiran kotor yang tak semestinya ada, lalu kemudian bersarang negatif dan membelenggu kreatifitas serta kebahagiaan diri,
Oleh karenanya maka lepaskan belenggu kebencian itu di pikiran kita, niscaya bahagia akan datang menyerbu bagaikan seekor macan yg menyerbu mangsa..
Maka dari itu. Bersediakah diri ini untuk memaafkan?
Mulailah saat ini juga carilah orang orang yang telah engkau sakiti. Perbaiki hubungan, agar kiranya suatu saat tak ada lagi beban yang di tanggung. Tidak ada lagi penyakit hati yg bersarang.