Sudah Berapa Umurmu?

Teringat Firman-Nya :

 (1) Demi masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. (3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran
(QS. Al ‘Ashr).

Tak main-main, Allah memberikan kita penegasan bahwa ada satu hal yang manusia benar-benar berada dalam kerugian, Allah memberikan sumpahnya meliputi waktu, yang artinya demi kehidupan. Manusia itu benar-benar rugi dan lalai akan waktu yang diberi-Nya,  kecuali bagi mereka orang-orang yang saleh, menaati kebenaran, saling memberi nasehat dan menetapi kesabaran.

Lantas, bagaimana dengan perenungan ayat diatas? Apakah diri termasuk orang yang disinggung oleh ketiga ayat diatas? Ah, rasanya terlalu subjektif ketika kita menilai diri sendiri, pasti kita akan berkata “Ya, mungkin saya sudah berada dalam kateogori yang disinggung di ayat tiga diatas, yakni orang yang sudah beriman, sudah mengerjakan amal saleh, dan sudah saling menasihati” Astaghfirullah. Terlalu PEDE kita menilai diri, sesungguhnya Tuhanlah yang berhak memberi penilaian pada hambanya.

Demi masa., masa yang dimaksud adalah waktu. Sepertinya saya lebih ingin menekankan pada hal ini, sudah berapa banyak kita melakukan amal shaleh sehingga kita selamat dengan waktu yang kita miliki? Tidak, amal saleh tak sependek dugaan hanya melakukan shalat, puasa, sedekah dan berbagai amalan yang sering diperbincangkan oleh ustadz di setiap kajian dan yang mungkin sering kita lakukan sehingga diri sudah merasa AMAN. Akan tetapi disini amal shaleh yang dimaksud adalah dalam cakupan yang luas. Yakni seberapa bermanfaat kah kamu selama ini menjadi manusia? Apa kontribusimu pada dunia yang telah kau singgahi untuk berpijak dan bernafas? Ya, Itulah amal saleh yang luas, ketika hidup kita bernilai manfaat bagi orang banyak.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
(H.R. Ahmad, ath-Tharbani)

Sekiranya itu lah tugas kita hidup, yakni untuk bermanfaat dengan orang lain. Lantas bagaimana kita dikatakan bermanfaat bagi orang lain? Coba kita tanya lagi pada diri masing-masing, sudah berapa lama kita hidup di dunia? Apakah sudah ada sesuatu yang kita buat yang memiliki nilai kebermanfaatan bagi orang lain? Sudah berapa banyak kita menolong orang lain? Sudah berapa banyak kita membuat karya, yang dengan karya itu di sambutnya positif oleh orang lain, karena karya kita kian berguna dan menggugah bagi orang banyak?

Ah.. apa jangan-jangan selama ini diri belum berbuat apa-apa? Lantas, untuk apa waktuku selama 24/7 di berikan Tuhan tiap minggu? Hanya terbuang sia-sia?

Betapa irinya saya ketika melihat orang-orang yang umurnya masih kisaran belasan, akan tetapi sudah banyak menorehkan karya di negeri, sedangkan diri yang sudah berkepala dua, berkepala tiga, atau bahkan berkepala empat, belum ada karya yang ditorehkan pada negeri. Betapa irinya saya ketika melihat ada orang-orang yang begitu antusias ikut gerakan sosial, membantu orang-orang yang butuh bantuan diluar sana. Sementara diri hanya menghabiskan waktu dengan sibuk berselancar di internet, bermain game online, dan scrolling media sosial sampai mentok. Mungkin inilah mengapa manusia diabadikan dalam Al-Qur’an dan di nisbat-Nya sebagai orang yang merugi.

Hal ini yang harus di perhatikan oleh generasi kini, generasi millennial, yang katanya menjadi penerus bangsa nantinya. Saya tetiba teringat oleh kata bapak soekarno “Berikan saya 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Melihat kalimat ini, saya jadi teringat dengan kisah seorang pemuda yang masih berumur 19 tahun, berhasil memimpin sebuah peperangan untuk merebut kota konstantinopel jatuh ke tangan orang muslim. Ya, beliau adalah Muhammad Alfatih. Seorang panglima perang yang mampu memimpin banyaknya pasukan perang di usianya yang begitu belia. Beliau juga sudah menguasai banyak bahasa diusianya yang baru seberapa itu.

Lalu, bandingkanlah dengan diri, generasi yang hidup dengan keberlimpahan materi, ditunjang dengan dipermudahnya oleh teknologi. Kita malah terlalu sibuk untuk berleha-leha, menguasai 2 bahasa pun terasa sulit, bahkan berbahasa Indonesia yang baik nan santunpun masih belum bisa. Hanya disibukkan oleh game online, rebahan, melihat kesibukan orang lain di media sosial, dan berbagai hal lain yang membuang waktu kita sia-sia. Jangan tanya perkara amal saleh, kita pun masih sering menunda-nunda, jangan tanya perkara saling nasihat-menasihati dalam ketaatan, dalam kebenaran, kitapun yang ketika ada yang menasihati dibilanginya sok suci, tidak gaul, dan lain-lain.

Wahai sang diri, pemuda masa kini. yang selalu di sibukkan oleh materi, yang selalu ingin mengejar eksistensi sehingga sering kali lupa untuk apa penciptaan diri ini. Ingatlah, Tuhan menciptakan diri bukan untuk disibukkan oleh materi, namun disibukkan memakmurkan negeri, bukankah kita dicipta sebagai “khalifah fil ard”, sebagai wakil Tuhan untuk ditugaskan memakmurkan negeri?

Wahai diri janganlah terlalu memikirkan eksistensi, eksistensi itu tumbuh sendiri tatkala kita memang pantas mendapatkannya, bukan malah dikejar dengan berbagai cara sehingga menurunkan kualitas diri. ingin menjadi eksis, terkenal, lantas dengan cara mempertontonkan hal yang aneh pada publik.

Wahai diri yang bijak. Mengharap eksistensi itu perlu, namun eksistensi ada ketika karyamu ada bermanfaat. Betapa banyak pula orang yang berkarya tapi nyatanya karyanya tak begitu memberi manfaat, tapi bahkan berkesan membuat publik marah, membuat kebohongan, membuat keresahan, dan lain-lain.

Eksistensi saya rasa saat ini bukan perkara yang susah untuk didapatkan. Buat saja keonaran jika ingin populer, tapi lihat saja, kepopuleranmu tak akan membuahkan hasil yang baik untukmu, malah mungkin akan mencelakakan hidupmu.

Hiduplah yang bermanfaat. Sekecil apapun manfaat yang kau tebar, Insha Allah akan kembali jua pada dirimu. Banyak contoh orang yang telah menuai karya yang bermanfaat, dapatlah mereka hasil yang setimpal. Menjadi terkenal jua menjadi idola public pula. Mengapa bisa? Karena mereka menebar manfaat. Banyak pula contoh yang telah menuai karya yang mudharat, dapatlah mereka hasil yang setimpal, menjadi terkenal jua, namun terkenal oleh cacian dan hinaan. Mengapa bisa? Karena mereka menebar mudharat.

Wahai para pemuda, yang katanya generasi penerus bangsa, tirulah orang-orang sesudahmu, yang memberi manfaat tiada tara dimasa mudanya, bukan mereka yang memberi mudharat di lingkungannya. Jadilah seperti Muhammad Al-fatih, tapi bukan berarti kamu harus ikut mengangkat senjata di medan perang. Tirulah bagaimana ia memiliki etos kerja yang baik, bekerja keras untuk mendapatkan suatu pencapaian. Itulah yang dibutuhkan bangsa saat ini, itulah anak muda yang dimaksud oleh soekarno, hanya membutuhkan 10 pemuda untuk dapat mengguncangkan dunia.

Mari sejenak kita untuk berdo’a.

Ya Allah, Ya Tuhan Kami, jadikanlah kami sebagai orang yang selalu menebar kebermanfaatan untuk negeri, jadikanlah kami orang yang lurus dalam berkarya, yang dengan karya, kami menjadi ada untuk orang lain, yang dengan karya, teralirkan lah amal jariyah bagi kami, sehingga kelak, jika diri ini sudah tiada, namun pahala tetap ada dan mengalir untuk kami nikmati di kubur nanti. Aamiin, Aaamiin, Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Semoga dengan ini, kelak kita bersama akan menjadi pemuda yang bermanfaat. Pemuda yang kelak akan menorehkan prestasi gemilang. Sehingga diakui oleh dunia, di terima oleh akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top