ILMU ITU PENOLONG, BUKAN PENGGOLONG, APALAGI PENODONG.

Sebagai generasi muda sekaligus generasi muslim. Sudah menjadi  kewajiban dasar kita untuk menuntut ilmu. Ilmu merupakan landasan awal manusia untuk dapat hidup dan berkembang bersama dalam membangun sebuah peradaban. Seorang yang masa mudanya dihabiskan untuk perkara ilmu, niscaya pada masa tuanya ia akan merasakan nikmatnya hidup. Sebaliknya, seorang yang masa mudanya di habiskan untuk perkara sia-sia, maka tunggulah masa tuanya di penuhi perasaan sengsara.

Memang, menuntut ilmu itu bukan perkara yang mudah, menuntut ilmu pasti dipenuhi derita. Namun, bukan berarti derita membuat kita untuk surut. Bukankah semasa kecil kita selalu di ajarkan sebuah pepatah yang berkata,”Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian”. Senada juga dengan yang dikatakan Imam Syafi’I, “Jika kamu tidak tahan terhadap penatnya belajar, maka kamu akan menanggung bahayanya kebodohan”.

Derita adalah fasilitas untuk membuat diri bertumbuh, derita bukanlah sebuah hal yang harus dihindari, bukan pula hal yang harus dicari-cari. Karena, derita itu akan muncul sendiri ketika kita sedang berjuang. Pilihannya adalah, apakah dengan derita kita akan mundur, atau dengannya kita malah bertempur? Ya, sudah pasti orang yang ingin tumbuh akan memilih untuk bertempur lalu akhirnya menang dengan kegembiraan, dan yang jiwanya pengecut memilih mundur dan berakhir pada penyesalan.

Apalah arti hidup seorang diri jika berakhir dalam perasaan sesal. Kita semua tentu menginginkan hari tua kita berada dalam sebuah tempat yang nyaman, finansial yang aman, dan keluarga yang sejahtera. Itulah sebab mengapa seorang anak muda harus di genjot dengan keras untuk segera berilmu, mengapa harus di masa muda? Karena masa muda adalah saat-saat derasnya darah semangat mengalir, jika masa muda sudah loyo-loyo, bagaimana dengan masa tua? Bukannya semakin bertambah umur semakin susah untuk bergerak? Apalagi pikiran, sudah tak sesegar waktu masa muda, ingatan pun tak sejernih masa muda, inilah mengapa masa muda dikaatakan sebagai masa emas manusia, itulah mengapa masa muda sering dikaitkan dengan generasi penerus bangsa. Ya, pemuda dikatakan generasi penerus bangsa jika ia punya berilmu.

Ilmu adalah kebutuhan, apalagi kita sebagai generasi muslim. Bahkan dalam Islam, menuntut ilmu itu tidak mengenal batas, baik anak, remaja, dewasa, maupun tua sudah menjadi kewajiban untuk menuntut ilmu sampai akhir hayat.

Senada dengan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah dalam sabdanya “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no.224).

Oleh karenanya, tak ada lagi alasan bagi diri untuk tidak menuntut ilmu. Kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun. Apalagi hari ini kita sudah dipermudah dengan berkembangnya teknologi, sudah banyak sekali di temukan platform-platform untuk mempermudah diri dalam menuntut ilmu. Ada yang gratis seperti Mbah Google, dan adapun yang berbayar. Tinggal satu yang harus dimiliki oleh diri pemuda saat ini, yakni niat dan kemauan yang kuat.

Jangan sampai kita menyia-nyiakan fasilitas yang telah diberi oleh-Nya untuk tidak kita pergunakan sebagai sarana menuntut ilmu. Jadi, malulah diri saat ini jika didapati tidak berilmu, sebab semua sudah tersedia, tak ada lagi alasan tentang si kaya dan si miskin, semua sudah merata.pun jika masih ada secercah yang tak dapat menikmati, kita pun dikaruniai oleh-Nya sebuah kekuatan untuk “Berusaha” sebaik mungkin agar kita dapat berilmu.

Namun, satu hal yang harus diingat bagi para pembelajar adalah Niat apa yang kau bawa untuk mendapat ilmu tersebut?

Fenomena yang terjadi saat ini, apalagi pada generasi muda milenial, ialah kecenderungannya untuk menuntut ilmu dengan tujuan mendapat sebuah penghargaan individu. Dalam arti ilmu yang ia miliki hanyalah untuk dirinya sendiri. Apakah boleh begitu? Jawabannya sangat Tidak boleh.

Wahai diri, ingatlah, bahwa ilmu yang kita punya adalah untuk menjadi sebuah penolong dalam keberagaman. Maksudnya? Ya. ilmu itu tidak dikonsumsi dan dinikmati sendiri-sendiri. Melainkan ilmu itu ada untuk kita berbagi dalam kebersamaan.

Sungguh, tak ada guna bagi seorang berilmu jika ia hanya mencari mencari dan mencari ilmu hanya untuk mendapatkan kepopuleran semata. Sekolah tinggi-tinggi, menjalani S1, S2 sampai S3, bergelar doctor, professor, insiyur, namun jika ia tidak berbagi kepada orang lain. Niscaya tiadalah guna ilmu itu padanya. Jangankan ilmu yang dicari bernilai ibadah, ia hanya menjelmah menjadi musibah yang membuat diri sering bersusah payah, dan derita yang ia peroleh atas semua lelah bukan berbuah kebahagiaan, melainkan hanya berbuah air mata.

Saya tertarik menganalogikan hal ini dengan sebuah teko yang berisi air. Sekejap kita melihat teko itu adalah wadah yang berguna untuk diisikan air dengan volume yang banyak, sedang gelas adalah wadah untuk menampung air yang diisikan oleh teko tersebut. Ketika teko itu adalah teko yang aktif memberi air kepada para gelas-gelas, maka sudah pasti ia adalah teko yang selalu merasakan air yang beragam diisikan padanya, kadang di isi oleh air teh, air jeruk, air kopi, dan berbagai macam, maka tahulah ia bahwa ada berbagai macam air di dunia ini.

Lain hal dengan teko yang diisikan air, lalu ia enggan untuk membagi air itu kepada gelas-gelas yang ada. Maka hanya air itu saja lah yang ia ketahui, karena terus-menerus berada di badannya. Ia tak akan merasakan bahwa ternyata di dunia ini ada yang dinama air teh, air kopi, dll. Biarpun kita memaksa untuk mengisi. Apalah jadinya sebuah teko yang penuh di isikan paksa dengan air yang lain. Pasti akan tumpah dan sia-sia saja. bahkan, air yang dipikulnya lama-lama akan menjadi keruh, karena tak pernah di jamah dan bergerak lalu membusuk.

Imam Syafi’I juga pernah menyinggung hal ini dalam sebuah perkataan, “ Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak, maka ia akan menjadi menjadi keruh lalu membusuk”. Inginkan ilmu yang kau cari bersusah payah dan penuh derita menjadi busuk dalam dirimu sendiri?.

Begitulah kiranya orang yang berilmu, akan tetapi hanya untuk dirinya sendiri, ilmu yang tertinggal akan mandeg, itu-itu saja. lain halnya jika orang yang berilmu, akan tetapi ia menjadikan ilmu itu sebagai alat untuk berbagi, bukan hanya ia akan mendapat manfaat pahala kebaikan, ia bahkan akan merasa ilmu yang ia punya akan terus bertambah dan bertambah secara beragam.

Hal ini telah saya buktikan sendiri, dulu semasa masih SMA, saya di percayakan oleh guru saya untuk menjadi mentor geografi pada anak-anak bimbingan, sebenarnya awalnya saya tak cukup pede menerima tawaran itu, namun karena ini adalah amanah, maka saya bernaikan diri saja untuk menerima sembari saya belajar. Setelah beberapa lama menjadi mentor, entah mengapa, saya semakin mantap dalam memahami ilmu geografi, lebih dari sebelum saya mengeman amanah ini.

Mungkin begitulah mengapa ada pepatah yang mengatakan bahwa “Orang yang mengajarkan ilmu kepada orang lain, maka ia akan merasakan bertambahnya ilmu itu padanya” konsep ini mirip-mirip dengan konsep sedekah, yakni “Semakin banyak kita berbagi, maka semakin banya kita mendapati”.

Saat ini banyak kita jumpai orang-orang yang berilmu, namun ilmu nya dibuat hanya untuk memperkaya dirinya sendiri. Lalu, apakah ia ada manfaat untuk orang lain? Jangankan bermanfaat untuk orang lain, ia bahkan tak dapat penghargaan di mata orang dan juga tak dapat berkah di mata Tuhan.  Ingatlah, jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang yang kikir ilmu, karena ketika kita kikir ilmu, niscaya kita akan fakir ilmu.

Wahai kawanku, inilah sebuah nasihat. Untuk ku, untukmu, dan untuk kita semua sebagai generasi bangsa. Bahwa tuntutulah ilmu itu sampai liang lahat, jadikanlah ilmu itu sebagai sarana untuk menolong, bukan untuk menggolong, apalagi untuk menodong.

Jangan sampai dengan ilmu kita menjadi orang yang sok elit, sok ngartis, karena orang-orang dibawahmu akan menertawaimu.

Ingatlah bahwa sebanyak apa ilmu yang melekat pada dirimu. Ia hanyalah sebuah titipan, yang harus kau bagi pada sesama. Ingatlah, ilmu itu berguna ketika kita mengamalkannya. Oleh karenanya, Ilmu dan Amal adalah sesuatu yang tak boleh terlepaskan.

Tuhan berkata dalam firman-Nya :

“ Dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan sedikit saja” (QS. Al-Isra’:25)

Maka darinya, wahai anak muda, jadilah orang yang kaya akan ilmu namun suka akan amal, niscaya kamulah yang akan menjadi generasi perbaikan bangsa. Jadilah sebuah mata air, yang kelak akan menjernihkan air-air keruh yang ada disekitarmu, jangan ikut jadi air keruh, sebab kamu hanya menambah beban air disekitarmu.

Ya Allah, berikanlah kami ilmu yang seluas-luasnya, agak kami bisa menjadi pribadi bermanfaat sebanyak-banyaknya. Ya Allah, luruskanlah niat kami dalam menimba ilmu, jangan sampai diri ini terjerumus kedalam lembah kesombongan dan keangkuhan. Jadikanlah kami sebagai pribadi yang murah ilmu, bukan sebagai pribadi yang kikir ilmu. Ya Allah, engkaulah yang Maha membolak-balikkan hati, maka dari itu, teguhkanlah hati kami, ke jalan yang lurus. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top