Kesalahan orang yang bersedih

Sebagai manusia yang normal, pasti ada masanya kita dipertemukan hal yang membuat kita sedih. Penyebeab kesedihan sangatlah banyak, entah itu karena persoal percintaan, pekerjaan, keluarga, pertemanan dan masih banyak lagi. Sedih terjadi ketika realita yang terjadi jauh di bawah ekspektasi pikiran. Hal ini dikarenakan harapan membawa kita kepada kesenangan, dan ketakutan akan membawa kita kepada kesedihan.

Wajarkah kita untuk bersedih? Ya, sangat wajar, karena itulah cara diri untuk meluapkan kekecewaan, tapi beda halnya jika pertanyaannya menjadi, “wajarkah kita terus-terusan bersedih?”

Percaya atau tidak, mereka yang kebanyakan bersedih adalah mereka yang masih berusia muda. Karena pada usia muda, darah emosi sangat deras alirnya dalam jiwa, ekpektasi akan keindahan akan keras bentuknya dalam pikiran, dan tindakan akan lebih banyak dibanding diamnya. Namun, ketika semuanya terpatahkan oleh kenyataan yang terbalik dengan angan, deras pula kesedihan dan kekecewaan muncul sebagai pukulan. Diusia muda, kita sering kali memiliki ekspektasi yang sangat tinggi, kita sering kali bercita-cita amat besar, kita sering kali menaruh harapan pada orang begitu dalam, dan masih banyak lagi, sehingga inilah yang menjadi alasan kenapa anak muda rentan dirundung kesedihan.

Bersedih adalah hal yang wajar, namun menjadi tak wajar jika terus-terusan. Karena dengan bersedih, cemas, atas stres maka proses imun tubuh akan ikut terganggu, itulah mengapa orang-orang yang selalu galau rentan dengan terkena penyakit, penjelasan ilmiahnya karena ketika stress atau panic maka tubuh akan melepaskan kortisol ke aliran darah. Kondisi ini bisa menekan sistem imun pada tubuh dan membuatmu menjadi lebih rentan terhadap penyakit.

Dalam islam, juga melarang kita untuk berlarut-larut dalam kesedihan

“janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran:139)

“Janganlah kamu berduka cita (sedih), sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At Taubah: 40)

Bersedih membuat seseorang terhalang dari perbuatan baik, sebab bersedih adalah cara syaitan untuk menghalang manusia dalam menuju fitrahnya.

“Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang beriman itu berduka cita” (QS. Al Mujadalah: 10).

Lantas, bagaimana cara agar kesedihan tak berlarut-larut?

Anehnya, pemuda masa kini, ketika ia dirundung oleh kesedihan, kekecewaan, atau kegalauan, mereka bukannya bergeras mencari pelarian untuk mengubah kekecewaannya menjadi kebahagiaan, akan tetapi malah mencari pelarian dengan cara melegalkan kesedihan.

Maksudnya bagaimana?

Mari kita lihat contohnya, banyak diantara pemuda ketika bersedih, mereka malah dengan sengaja memanjakan kesedihannya dengan cara mendegarkan lagu galau yang rasanya lagu itu sepadan dengan apa yang ia rasa atau membaca quotes-quotes sedih yang dirasa sepadan dengan yang ia rasa. Banyak pula diantaranya juga mempertontonkan kesedihannya di media sosial dengan harapan ingin diberi belas kasih oleh orang-orang sekelilingnya.

Lalu apa balasan yang didapatkan?

Pada kasus pertama, yakni seseorang yang sengaja memanjakan kesedihannya dengan mendengar atau melihat kesedihan yang sepadan, sadar tidak sadar secara langsung mereka seakan melegalkan, atau membenarkan kesedihan yang dialaminya itu. sehingga bukannya bergegas untuk menjadi positif, mereka malah akan menjadi sedih berkepanjangan, yang seharusnya dengan waktunya mereka bisa lebih melakukan hal yang bermanfaat, malah dihabiskan dengan mengeluarkan air mata. Sebabnya satu. Karena merasa apa yang ia kerjakan (bersedih) itu pantas untuk dilakukan.

Pada kasus kedua, yakni seorang yang sengaja mempertontonkan kesedihannya di media sosial dengan harapan ingin diberi belas kasih oleh orang disekitarnya. Ada banyak kerugian melakukan hal ini, tapi untuk menjawabnya saya seketika teringat dengan kata Ali bin Abi Thalib, “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang  menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.”.

Ruginya adalah, ketika kau memposting kegalauanmu di media sosial, bukan tidak mungkin ruginya ada dua.

Pertama, orang-orang yang membencimu akan senang, dan bisa jadi kamu menjadi bahan perbincangan mereka, digosipi, dijelek-jelekin, dll, dan untuk orang-orang yang peduli tentangmu, percayalah bahwa mereka tidak bisa apa-apa, mereka mungkin terlihat peduli, tapi percayalah bahwa ia hanya ingin sekedar tau saja, jika pun mereka ingin bantu, mungkin mereka hanya akan memberikan saran, uang, dan lainnya, akan tetapi kembali lagi, apakah dengan itu semua kesedihanmu akan hilang? Tidak. satu-satunya orang yang bisa membantumu adalah diri kamu sendiri. Mau sebagaimana hebatnya motivator yang ada, jika dirimu tak berusaha untuk bangkit sendiri, percumalah hal itu semua.

Kedua, ingatlah bahwa apa yang kau posting adalah apa yang orang lain lihat, dan bisa jadi mereka juga akan berpengaruh. Saya pernah membaca tentang ciri-ciri orang toxic, salah satunya adalah mereka yang selalu memperlihatkan keluhan di media sosial, sehingga dampaknya akan terjadi pada orang lain, orang lain bisa menjadi ikutan sedih, ikutan galau, dan lain-lain. Bukankah dengan ini kita benar menjadi seorang toxic? Meracuni orang lain? Tentu kita tidak ingin menjadi demikian.

Bersedih itu boleh, tapi jangan berlarut. Bergegaslah untuk mencari pelarian yang positif, daripada sibuk mendengarkan lagu galau, mending untuk mendengarkan video motivasi, daripada sibuk mempertontonkan kesedihan, mending ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang melibatkan orang orang positif.

Ingat, selalu bawa diri kelingkungan yang baik, karena itu akan mempengaruhi hidupmu. Sebuah pepatah mengatakan, “kita yang sekarang, adalah seperti apa cara kebiasaan kita 5 tahun lalu, dan kita 5 tahun yang akan datang adalah seperti apa cara kebiasaan kita saat ini”.

Bacalah sesuatu yang positif, tontonlah sesuatu yang inspiratif, dan lakukanlah sesuatu yang bermanfaat. Jika itu semua kita lakukan, niscaya 5 tahun kedepan kita akan merasakan perubahan yang luar biasa dalam hidup.

Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top