Ada sebuah ungkapan yang menjadi favorit saya dalam memposisikan kebenaran dalam toleransi yaitu,
“Kita semua berhak merasa benar atas apa yang kita yakini benar, karena tanpa “merasa benar” itu maka kita sudah menyatakan keraguan atas keyakinan sendiri. Namun, jangan sampai karena “merasa benar” lantas membuat kita memaksa orang lain menyetujui atau menyepakati kebenaran kita, karena masing-masing individu berhak untuk menentukan kebenarannya masing-masing”.
Ada pula sebuah ungkapan yang pernah saya dengar berkata, “Kebenaran itu bagaikan sebuah kaca yang dilempar dari angkasa lalu jatuh ke bumi kemudian pecah, maka kebenaran yang ada di bumi adalah sesuatu yang sudah tidak murni lagi, melainkan hanya sebagian kebenaran, jika kita ingin mendapati kesempurnaan kebenaran, maka bersikap terbukalah untuk mencari serpihan serpihan kaca tadi”.
Orang-orang terlampau sering berkata “Kebenaran” akan tetapi tak mengerti hakikat dari kebenaran itu sendiri. Terlampau sombong dengan kebenaran yang mereka punya sedang menyalahkan kebenaran yang dipunyai oleh orang lain, sehingga tibalah saat dimana pencarian kebenaran harusnya menciptakan ketentraman, malah menjadi sebuah ajang pertengkaran.
Ya, bertengkar karena terlalu sibuk saling menyalahkan mana yang benar dan mana yang salah, terlampau sibuk memberikan pembenaran atas kebenaran yang diyakininya, sehingga bukannya mereka meluaskan pandangan untuk menerima kebenaran sesungguhnya, malah mempersempit ruang nalar akibat kesombongan egonya.
Toleransi sudah tak ada lagi definisinya. Toleransi hanya berlaku bagi mereka yang memiliki kesepahaman akan kebenaran. “Jika kau sepaham denganku, maka mari kita bertoleransi dengan tidak menghianati kesepahaman kita, namun jika kau bukan bagian sepaham denganku, maka kita adalah musuh abadi”.
Inilah yang disebut fanatisme. Dan sesiapa yang memiliki ciri sifat demikian, maka tak ada kedamaian pada dirinya.
Fanatisme adalah sebuah ungkapan ketika kita berlebihan terhadap sesuatu. Kalian pasti pernah mendengar fanatisme agama, fanatisme sepak bola, atau fanatisme lain-lain. lantas benarkah sifat demikian?
Fanatisme adalah sebuah kecenderungan individu untuk membela apa yang diyakininya benar sehingga membuat akal rasionya buta terhadap fakta-fakta. Apakah fanatisme sama halnya dengan idealis? Ah tidak. Saya rasa idealis itu hal baik karena masih mempertimbangkan hal berdasar akal sehatnya dan terbuka jika hal itu sejalan dengan akal sehat, namun bagaimana dengan fanatisme?
Ya, seorang fanatisme adalah seorang yang buta akan akal sehat, mereka layaknya seorang hamba terhadap apa yang di fanatiskan olehnya. Persetan dengan timbangan akal sehat, mereka hanya dimainkan oleh nafsu ego memenangkan kebenaran dengan pembenaran. Seorang fanatisme juga adalah mereka yang memenjarakan dirinya sendiri terhadap apa yang mereka puja-puja.
Tak usah jauh-jauh membahasnya sampai ke permasalahan Agama. Kita seringkali menjumpai seorang fanatisme terhadap klub sepakbola tertentu, dan bukan hal baru ketika kita menjumpai penggemar klub A tawuran dengan penggemar klub B karena salah satunya kalah tanding, yang satu merasa dicurangi, yang satu merasa tidak mencurangi. Bertengkarlah mereka sampai membuahkan korban jiwa, bercucuran darah, yang sejatinya berawal dari perbedaan angka dilapangan kemudian menghasilkan banyak korban jiwa di belakang lapangan. Itulah akibat dari fanatisme.
Fanatisme terhadap lawan jenis, nah ini yang sangat banyak dijumpai di kalangan mereka yang sedang berpacaran. Mungkin dampaknya agak beda, tidak memakan korban jiwa (meskipun sering juga terjadi), namun lebih kepada mengorbankan kebebasan. Jika tadi fanatisme menggubris kebenaran individu lain, maka kini fanatisme menggubris kebebasan individu lain.
Tak jarang kita dapati seorang yang dilanda kasih asmara rela mengorbankan kebebasan masing-masing pasangan atas dalih “cinta dan peduli”. Si cowok melarang ceweknya bergaul dengan teman-teman si cewek. Sebaliknya si cewek melarang cowoknya mengeksplore hobi-hobinya. Semua di bungkus dengan romantisme kata “Cinta dan Peduli”. Yang sering di dengar, “Kamu kok lebih mentingin itu dari pada aku?”. Nah yang senyum-seyum sendiri pasti pernah menjadi korban atau menjadi pelaku kan. Hihi.
Lantas… Tenteram kah orang yang bersifat fanatis? Berlebihan?
Rasulullah pernah bersabda, “Sebaik-baiknya urusan ialah yang dilakukan dengan biasa-biasa atau sedang-sedang saja, sekalipun itu sedikit”.
Jangankan dalam urusan duniawi saja, urusan beribadah yang jelas-jelas merupakan kewajiban kita saja dilarang untuk berlebihan. Salah seorang sahabat rasul pernah ingin melakukan ibadah terus tanpa istirahat, ingin berpuasa terus tanpa berbuka. Namun ketika Rasulullah saw mendengar kabar tersebut lantas dilarangnya untuk berbuat demikian.
Sederhanakanlah segala sesuatu wahai kawan, janganlah berlebihan terhadap sesuatu yang menurutmu benar, dan apalagi sampai sikap fanatikmu itu kau gunakan untuk menggoyahkan kebenaran yang orang lain punya. Karena kebenaranmu belum tentu menjadi kebenaran orang lain, dan kamu pun tak akan sudi ketika kebenaranmu diganggu oleh kebenaran orang lain.
Ibarat sebuah rumah, kebenaran itu merupakan bagian dapurnya. Posisikanlah dirimu sebagai tamu dalam rumah itu, jika dipersilahkan masuk, duduk sajalah diruang tamunya, jangan sampai kau langsung masuk saja di ruang dapurnya apalagi sampai mengobrakabrik isi dapurnya. Karena ingat, kau pun juga punya dapur dalam rumahmu yang pastinya kau akan menjaganya dan marah apabila diobrakabrik oleh orang lain. dan apabila dirimu berniat untuk memasukkan “kebenaran” sesuai paham mu kepada si pemilik rumah, maka tawarkan sajalah diruang tamu itu, jangan sampai menyelinap diam-diam masuk ke dalam dapurnya. Jika tuan rumah tersebut menerima, maka tujuanmu telah sampai dan syukurlah, akan tetapi jika ia menolak, maka sudahilah, tawarkan saja kepada pemilik rumah yang lain.
Bersikap benar itu hal baik, tapi memaksakan seorang bersikap benar menurut kita adalah sesuatu yang egois.
Terimakasih…