Penyakit yang banyak melanda anak muda sekarang adalah penyakit individualis, ingin menang sendiri, ingin merasa tinggi sendiri, ingin populer sendiri, ingin kaya sendiri, atau ingin ganteng/cantik sendiri. Sehingga apa dilihatnya oleh orang sekitar adalah mereka tak lebih baik dari dirinya.
Ini menurut saya paling banyak di jangkit oleh pemuda masa kini sekaligus sebagai penyakit fatal untuk generasi masa depan.
Saya pikir bahwa tidak ada satupun orang di dunia ini yang berhasil menjadi orang kaya, orang populer atau orang sukses dengan cara bersikap individualis. Rata-rata orang yang sukses adalah mereka yang senang bekerja sama dengan orang lain, membentuk tim, dan menyelesaikan masalah serta mencapai kesuksesan bersama sama.
Kita harus sadar, bahwa diri kita adalah makhluk sosial, artinya makhluk yang cenderung harus bersosialisasi dengan makhluk lain. Ingat, disini saya mengungkap kata “Makhluk lain” yang berarti bukan sebatas sesama manusia saja akan tetapi masuk dari padanya seperti hewan tumbuhan serta lainnya.
Andai kata kita melihat sejarah dan pandai memaknainya, maka akan kita jumpa bahwa kepunahan seseorang tersebab oleh ketidakmampuannya untuk berbaur kepada sesama, sebab kepada sesama itulah kita menjadi kuat dan mampu untuk beradaptasi.
Coba kita ambil makna kebersamaan ini seperti sebuah sapu lidi. Kita semua tahu, bahwa satu sapu lidi bisa sangat rentan untuk dipatahkan, namun bagaimana jikalau lidi itu digabungkan dan berjumlah ratusan? Maka pastinya akan susah untuk di patahkan, mentok-mentok yang patah hanya satu dua batang saja. itulah makna kebersamaan.
Kita juga bisa melihat sejarah bangsa kita, sewaktu masa penjajahan, mengapa kita begitu lama di jajah oleh bangsa asing? Karena dulu kita masih terpecah-pecah, maka barulah setelah di deklarkan sumpah pemuda yang isinya seluruh pemuda Indonesia akan bersatu melawan penjajah, barulah sedikit demi sedikit bangsa kita bangkit, dan akhirnya berhasil mengusir penjajah.
Maka cocoklah sebuah pepatah mengatakan, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”
Maka dari itu, mulai saat ini, wahai diri yang masih menjunjung tinggi sifat individualis, percayalah bahwa tidak ada satupun yang menyukai seseorang bersifat individu, meski katamu aku adalah seorang introvert yang tak suka berbaur dengan orang lain, bukan berarti kamu harus menutup diri dengan dunia luar.
Individu erat kaitannya dengan egois. Kalau diri masih terus-terus bertindak egois. Apakah mau diri ini ketika mati nanti tidak ada yang urus? Pasti tidak. maka dari itu, mulai sekarang, mulailah untuk menghilangkan sikap individu dan egois itu pada diri sendiri.
Ketahuilah bahwa manusia itu ada kurang dan lebihnya masing-masing, maka daripadanya kita disebut makhluk sosial agar kiranya apa yang lebih dari kita menjadi penutup kekurangan orang lain, dan apa yang menjadi kurang dari kita, bisa di tutup oleh kelebihan orang lain. Bukankah keindahan pelangi tercipta akibat kebersamaan warna?
Ku pikir, apapun yang ada di dunia ini tercipta karena adanya saling bahu membahu. Lihatlah pakaian yang kamu pakaikan sekarang, bukankah baju itu terdiri dari anyaman benang yang banyak? lihatlah tulisan yang kamu baca ini, bukankah makna dari tulisan ini tercipta karena adanya rangkaian kalimat, huruf per huruf, kata per kata, dan paragraf per paragraf? lihatlah dirimu yang sekarang, bukankah kamu merupakan gabungan antara kepala, badan, dan kaki? Lihatlah tanganmu, bukankah kamu bisa menggenggam sesuatu karena adanya bantuan jari jemari yang banyak?
Sungguh seberat apapun sesuatu akan mudah jika kita bersama, dan sungguh semudah apapun sesuatu akan terasa sulit jika di kerjakan sendiri.
“… dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS Al-Maidah : 2)
Senada dengan apa yang di firmankan Tuhan pada ayat diatas, diterangkan bahwa manusia wajib untuk saling tolong menolong yakni dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa. Jadi, sebagai manusia yang bijak maka sudah menjadi kewajiban bagi diri untuk saling tolong menolong dalam catatan, jadikan tolong menolongmu itu untuk membuat perubahan ke arah negatif.
Sesuatu yang dikerjakan bersama-sama dengan kebaikan, maka kebaikan itu akan kembali kepada diri masing-masing, dan sebaliknya sesuatu yang dikerjakan bersama-sama dengan keburukan, maka keurukan itu akan kembali pada diri masing-masing. Jadi tinggal pilih, mau menjadi baik atau menjadi buruk, itu semua tergantung pada masing-masing pribadi.