BERGERAK …

”Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

(Q.S. AnNajm:39)

Hakikatnya makhluk hidup itu adalah ia yang bernyawa, dan manakala ia yang bernyawa maka ia yang bergerak, sebuah batu tidak dikatakan hidup jikala ia tidak memiliki nyawa dan kemampuan untuk bergerak, itulah yang menjadi pembeda makhluk bernyawa dan makhluk tak bernyawa. Tumbuhan pun hidup dan bergerak, hewan, dan apapun yang notabenenya sebagai ciptaan Tuhan yang bernyawa pastilah ia bergerak. Begitupun diri ini, manusia sebagai puncak ciptaan adalah ia yang diberikan keistimewaan diantara makhluk ciptaan yang lain, maka dari itu sudah menjadi fitrahnyalah diri ini untuk senantiasa bergerak, bergerak dalam konteks disini adalah berusaha., puncak ciptaan adalah ia yang mandiri, mengusahakan hidupnya atas nama peradaban yang di pimpinnya. Peradaban suatu makhluk tergantung dari apa yang telah ia usahakan untuk menciptakannya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (13:11).

Manusia diberikan hak perogratif dari sang maha kuasa untuk mengatur dunianya. Akan tetapi dalam hal mengatur itu tentunya  ia diberikan batasan batasan yang harus ia taati sebagai hukum sunnatullah dari-Nya, aturan itu dibuat agar kiranya manusia ingat akan posisinya sebagai hamba sehingga tidak berjalan dengan kesombongan, jangan sampai diri ini dibutakan akan nikmat sesaat yang ada didunia ini, akan selalu ada peringatan peringatan yang di turunkan bagi mereka yang telah melanggar dari batas batas yang di tentukan.

Singkat cerita ada seekor kucing yang dahulu hidupnya sangat makmur, dia bertubuh gemuk, bulunya mekar dan cantik. Ia diperlihara oleh majikan yang kaya raya sehingga apa yang menjadi keinginannya dipenuhi oleh majikannya itu, seketika ia pun merasa nyaman dengan hidupnya saat ini dan tak memikirkan lagi usaha untuk mencari makan sendiri lantas dirinya sudah merasa bahwa majikannya akan terus menerus memberinya makan. Suatu ketika majikannya telah tiada kucing itupun khawatir akan dirinya, siapa lagi yang memberiku makan kalau bukan dari majikanku, tiba saat kucing itu merasakan kelaparan yang sangat hebat, dirinya pun tetap tak mau berusaha dan terus menerus berharap agar dirinya ada yang memberinya makan. Sehingga kelaparan tersebut semakin menjadi dan menjadikan kucing itu mati.

Lihatlah apa yang dapat dijadikan pelajaran dari sebuah kucing pemalas tersebut? Ya, kucing itu terbiasa akan hidup dimasa dimana ia sangat bergantung kepada majikannya, ia tidak memikirkan lagi cara untuk berusaha sehingga menyebabkan dirinya mati konyol. Begitupun diri ini. Kita hidup di dunia dimana kita diberikan amanah untuk menjaganya dan juga diberikan kekuasaan untuk mengatur jalannya, meskipun masih ada sunnatullah yang mengatur batasan kita. janganlah diri ini menjadi seperti seekor kucing yang senantiasa selalu berharap diberikan kenyamanan dari orang lain, Kita tidak boleh sepenuhnya pasrah akan keadaan yang menjadikan diri ini kurang tentram, jika kita ingin hidup dengan layak maka sudah kewajiban kita pula untuk mengusahakan dengan bekerja keras. Bekerjalah, maka kau akan merasakan nikmatnya hasil dari pekerjaanmu itu, Tuhan hanya memberikan sebuah reward bagi mereka yang senantiasa berusaha bekerja keras.

Ketika diri ini bekerja dengan keras dan mendapatkan hasil yang diluar dugaan kita, maka itu merupakan bonus dari Tuhan,

“Apabila kamu telah selesai mengerjakan suatu urusan, maka tetaplah bekerja keras untuk urusan berikutnya. Dan hanya kepada Tuhanmu hendaknya kamu berharap”

(Al- Insyirah: 7-8)

Lantas timbul pertanyaan, apakah yang harus saya lakukan ketika saya telah selesai bekerja keras? Jawabnya lakukan lah lagi pekerjaan berikutnya. Bukan kah sudah menjadi fitrah manusia untuk senantiasa berjalan mengurusi dunianya? Karena kita diberikan misi untuk menjadi khalifah fil ardh maka sangat banyak yang harus kita perbaiki di dunia ini, jika dihitung hitung, hampirlah tidak ada waktu untuk diri ini bersantai ria, karena pekerjaan demi pekerjaan akan terus bermunculan dihadapan kita. Dan jangan lupa, ketika diri ini selesai dalam satu urusan, tetaplah untuk menyerahkannya kepada sang pemilik kekuasaan, tawakkal terhadap keputusannya merupakan kunci dari kebahagiaan sejati, karena kembali lagi semuanya atas kuasanya. Diri ini hanya sebagai hamba yang senantiasa harus mengikuti aturan main dari sang pengatur, tapi percayalah. Tuhan tidak akan mungkin mengecewakan hambanya yang senantiasa berusaha dan bertawakkal kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top