Pikiran yang Memenjarakan

Pikiran yang memenjarakan. Ya, itulah pernyataan yang bagus untuk menampar diri.

Bahwa sejatinya yang membuat kita takut untuk melangkah adalah pikiran kita sendiri.

Bahwa berlebihan dalam berpikir adalah salah satu hambatan untuk mewujudkan impian kita

Sebagai contoh, rasanya kita ingin mengobrol dengan orang baru, tapi pikiran selalu saja menghalangi kita untuk berkenalan dengan banyaknya dalih ketakutan dan kecemasan.

Takut tak ditanggapi, takut dianggap aneh, takut dianggap penyendiri, dan sebagainya.

Contoh lain, ketakutan untuk mengambil tanggung jawab lebih dalam pekerjaan, sehingga menjadikan kita mentok pada pekerjaan yang itu-itu saja sehingga kemampuan tidak akan berkembang.

Dan, hal itulah yang menjadikan keinginan tak kunjung terwujud.

Padahal, toh apa salahnya untuk mencoba? Jika ternyata ketakutan itu menjadi kenyataan, lalu kenapa memangnya? Bukan kah kegagalan memang menjadi teman hidup kita?

Ketakutan selalu menjadi penghambat. Dan ironisnya, ketakutan itu dibuat oleh pikiran kita sendiri. Artinya, pikiran kitalah yang menghambat diri kita sendiri.

Memang agak sulit keluar dari rasa ketakutan, akan tetapi, mau sampai kapan kita terkungkung dan terbatasi oleh ketakutan yang dibuat oleh pikiran sendiri? Bukan kah kita adalah manusia yang bebas?

Memang, agak berat rasanya untuk melawan rasa takut, apalagi jika ketakutan itu sudah menjadi kenyataan pahit yang harus dijalani. Tapi, percayalah, semakin banyak pahit yang dilalui, semakin banyak ketidaknyamanan dilewati, maka di situlah kita berkembang.

Mengambil pernyataan yang familiar didengar. “Terbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentuk”

Bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Bahwa setiap ketidaknyamanan yang kita lewati, pasti ada kenyamanan yang menunggu diseberangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top