Matinya Kedaulatan Menjadi Manusia

Kemarin, saya mendengar satu celoteh dari Youtube di mana narasumber itu mengatakan bahwa “Manusia itu makhluk berdaulat”.

Ia mengartikan bahwa tidak ada yang bisa mengekang manusia. Tidak ada yang boleh membatasi manusia. Manusia itu makhluk yang bebas, merdeka menentukan jalan hidupnya sendiri.

Statement ini menarik perhatianku langsung.

Saya sangat sepakat dengan pernyataan tersebut, akan tetapi sangat sulit untuk mewujudkan di era semua serba dituntut untuk menjadi selaras.

Ya, memilih menjadi manusia berdaulat sangat sulit direalisasikan di era di mana materi adalah sumber segalanya.

Dan, bilamana subjek bergantung ke suatu object, maka subject itu tidak lagi menjadi bebas.

Bila manusia sudah menggantungkan hidupnya pada materi, maka manusia akan menjadi penyembah materi. Bilamana materi sudah menjadi tuhan manusia, maka manusia sudah hilang akal dan terkungkung oleh sistem yang diatur oleh materi. Disitulah kematian dari kedaulatan manusia.

Apapun akan dilakukan asalkan mendapatkan apa yang materi inginkan.

Bahkan, memutuskan tali persaudaraan demi materi. Menghabiskan waktu dan pikiran demi materi. Tega merampas hak orang lain karena materi. Rela bertumpah dara demi materi. Rela menangis dara demi materi, dan masih banyak lainnya.

Pada akhirnya, manusia yang menjadikan materi adalah pokok segalanya berujung matinya kedaulatan menjadi manusia.

Dan statement yang mengatakan manusia adalah makhluk yang berdaulat agak utopis untuk diwujudkan. Menjadi manusia yang bebas sangat sulit untuk direalisasikan.

Inilah paradigma hidup yang dibangun oleh sistem yang sekarang. Di mana, kita dicekoki pernyataan bahwa kamu dianggap hidup jika kamu selaras dengan sistem yang berjalan, selaras dengan syarat yang dipersepsikan.

Sederhananya, kemirisan yang terjadi saat ini yakni manusia dikatakan hidup adalah manusia yang harus memenuhi syarat yang dibangun oleh sebuah sistem.

Artinya, kamu akan terkucilkan jika tidak mengikuti aturan yang ada. Kamu akan merasa sendiri jika memilih berpaling dari sistem yang terbangun.

Maka matilah arti manusia berdaulat itu.

Dan hal inilah yang menjadi masalah setiap generasi muda.

Ada banyak persyaratan-persayaratan yang dibendung yang pada akhirnya menjadi beban pikiran anak muda. Yang dengan perlahan menggerogoti kebahagiaan anak muda.

Sistem yang mengatakan:

  • Umur 25 tahun kamu sudah harus punya tabungan 100 juta,
  • Umur 25 kamu sudah harus memulai KPR
  • Umur 25 sudah harus punya mobil
  • Dan beberapa persyaratan untuk disebut menjadi manusia layak lainnya.

Padahal, sebagai manusia yang berdaulat, seharusnya tidak ada persyaratan dalam hidup.

Masalahnya, kita hidup di dalam ekosistem yang menganut persyaratan demikian, sehingga berat rasanya, terkucilkan rasanya, mati rasanya jika kita sendirian menolak sistem tersebut.

“Jika kamu membantah, maka kamu bukan bagian dari kami. Jika kamu tidak memenuhi persyaratan itu, maka kamu tidak layak untuk hidup” Itulah kurang lebih bunyi ancaman saat ini.

Lantas, bagaimana cara untuk keluar dari kungkungan ini? Adakah jalannya?

Saya mencoba untuk mengatasinya dengan jalan pikir stoik. Meskipun saya akui sangat sulit dan saya pun masih strugle dalam menerapkannya.

Stoik menjelaskan bahwa kita harus mampu menerapkan 2 dikotomi dalam hidup, yakni apa yang bisa dikendalikan serta apa yang tidak bisa dikendalikan.

Stoik mengajarkan bahwa jika ingin hidup bahagia, jika ingin hidup menjadi manusia berdaulat, maka segala energi harus kita fokuskan pada apa yang bisa dikendalikan dan tidak mempermasalahkan apa yang tidak bisa dikendalikan.

Dan diajarkan pula bahwa apa yang bisa dikendalikan hanyalah pikiran/persepsi dan tindakan kita.

Stoik mengajaarkan bahwa kebahagiaan harus bergantung pada apa yang bisa kita kendalikan. Kebahagiaan harus bergantung pada persepsi dan tindakan kita. Bukan pada apa yang tidak bisa kita kendalikan.

Jika sistem mengatakan bahwa umur 25 tahun harus punya calon istri, maka lepaskan lah pikiran dan tindakan mu dari kungkungan tersebut. Mencoba untuk bersikap bodo amat dari syarat tersebut dan fokuskan pikiran dan tindakan pada apa yang menjadi target saat ini.

Jika sistem mengatakan bahwa umur 30 tahun kamu harus punya bisnis yang stabil. Maka acuhlah dengan pernyataan tersebut dan fokus pada apa yang kamu kejar saat ini.

Pada intinya, untuk menjadi manusia yang bebas, maka bersikap bodo amat pada apa yang berada di luar kendali dan memfokuskan energi pada apa yang berada di dalam kendali.

Memang, terdengar agak sulit, saya pun mengakuinya. Konsekuensi dari sikap tersebut mungkin akan menjadikan diri seperti terkucilkan. Tapi kembali lagi, terkucilkan hanyalah ketakutan yang berasal dari pikiran. Kita bisa untuk berpikiran bahwa aku tidak terkucilkan. Kita bisa untuk berpikiran bahwa tidak masalah terkucilkan asal melakukan apa yang disuka.

Toh, banyak orang yang umurnya 30 tahun tapi tidak punya bisnis, tapi hidup mereka tidak ada masalah, bahagia-bahagia saja.

Justru, ketakutan-ketakutan inilah yang harus dipadamkan segera. Melepaskan diri dari kungkungan ketakutan pikiran adalah salah satu jalan untuk membebaskan diri.

Berujung kepada kesimpulan, bahwa mencoba membebaskan pikiran dan tindakan adalah satu-satunya jalan untuk menjadi manusia yang berdaulat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top