PRINSIP : DIPAKSA, TERPAKSA, BISA, TERBIASA, LUAR BIASA

PRINSIP : DIPAKSA, TERPAKSA, BISA, TERBIASA, LUAR BIASA

Beberapa waktu yang lalu, saat saya tidak sedang ada kegiatan dan memang pada waktu itu adalah libur semester, saya iseng membuka youtube dengan dalih mencari hiburan dan kebetulan saat itu lagi senang-senangnya menonton Stand Up Comedy . Stand Up Comedy adalah acara kompetisi berisikan orang-orang yang berdiri sendiri di atas sebuah panggung dan ditugasi untuk membuat para penonton terhibur dengan lawakannya. Yang menarik dari acara Stand Up Comedy adalah saya banyak menemukan para komika – sebutan para pemain Stand Up Comedy – yang selalu menyelipkan sebuah pesan moral atau motivasi dibalik lawakannya itu (meskipun tak semua komika).

Dari salah satu komika yang kebetulan saya kagumi, adalah Dzawin Nur Ikram, dia adalah komika lulusan pesantren yang dalam setiap penampilannya selalu ia selipkan hikmah dan nilai-nilai pesantren serta tak jarang memberikan pesan moral dalam lawakannya. Dalam satu penampilannya ada pesan moral yang membuat saya kagum. Dia mengatakan ada prinsip dalam pesantren yang selalu di sampaikan oleh ustadz nya dalam menghadapi sebuah kebiasaan yang baru.

Di Paksa, Ter Paksa, Bisa, Ter Biasa, Luar Biasa.

Sebuah kalimat yang membuat saya tertegun. Bahwa benar. Untuk membentuk sebuah perubahan dalam diri kita, kita terkadang harus memaksanya. Akan tetapi bagaimana dengan orang yang selalu mengatakan bahwa apapun yang dipaksakan hasilnya akan kurang baik?

Ya. Ada benarnya juga, akan tetapi setelah saya telusuri lebih lagi sembari mengingat-ingat kembali kejadian apa yang pernah membuat saya terpaksa sampai menjadi terbiasa.

Saya menemukan kunci yaitu IKHLAS.

Mungkin terbilang aneh, dan membuat para pembaca bertanya-tanya. Mana bisa ikhlas kalau terpaksa?

Terpaksa tak menutup kemungkinan kita untuk tetap dapat ikhlas. Cara ikhlas dalam keterpaksaan adalah berdamai serta melihat sisi positif dari keterpaksaan. Atau jikalau kita mencoba memaksakan diri terhadap sesuatu karena ada hal yang ingin kita capai. Maka lihat dan ingat terus tujuan itu. Dengan begitu akan tercipta perdamaian yang menumbuhkan sebuah keikhlasan.

Dengan keikhlasan yang selalu mendampingi kita, maka apapun paksaan yang dilakukan selama itu positif maka akan membuahkan hasil yang luar biasa.

Sebagai contoh. Jika kalian pernah menonton  sebuah film inspirasi yang diangkat dari kisah nyata berjudul “Negeri 5 Menara”. Disitu terdapat seorang tokoh yang pada awalnya enggan dan sangat terpaksa menerima kemauan orang tuanya untuk mendaftar di sebuah pondok pesantren di kampung jawa timur. Memang pada awalnya ia terpaksa akan tetapi setelah kian lama menjalani dan mencoba untuk ikhlas dalam setiap apa yang dihadapi maka lambat laun jadilah ia orang sukses dengan sejuta mimpi yang tercapai dengan bekal apa yang ia pelajari selama di pesantren.

Ya.. Prinsipnya : Dipaksa, Terpaksa, Bisa, Terbiasa, Luar Biasa. Dengan tambahan sentuhan keikhlasan.

Saya pikir prinsip ini juga bisa digunakan untuk membentuk kebiasaan baru. Contohnya kebiasaan menulis, membaca, atau hal produktif lainnya yang bisa membuat perubahan baik dalam diri kita.

kebetulan saya pernah baca-baca artikel tentang “Cara menjadi Penulis” saya melihat banyak seorang penulis yang pada awalnya tidak mempunyai bakat apa-apa tentang dunia menulis. Akan tetapi karena kemauannya untuk menjadi seorang penulis, maka ia mencoba untuk membentuk kebiasaan menulis terlebih dahulu dengan cara memaksakan dirinya untuk menulis setiap hari apapun yang ada dalam pikirannya, walaupun pada awal tulisannya amburadul akan tetapi lambat laun dengan kerja keras, konsisten, dan ikhlas. Ia sudah terbiasa menulis dan bahkan ketika ia tak menulis dalam sehari maka ada yang dirasa hilang pada dirinya, dan bentuk tulisannya pun kian hari kian membaik.

Untuk mempermantap dan lebih meyakinkan, saya pernah mengikuti sebuah seminar dengan materi NLP di kampus. Kata seorang pemateri untuk membentuk sebuah kebiasaan baru dalam diri kita, maka diperlukan waktu 31 hari dalam melakukannya secara rutin.

Waktu 31 hari adalah waktu yang sangat lama, dan apalagi cara untuk tahan melakukan kebiasaan baru yang mungkin asing bagi kita kalau tidak ada paksaan.

Intinya. Paksaan bukanlah sesuatu yang negatif yang sering di kumandangkan orang-orang. terkadang paksaan juga dibutuhkan dalam diri agar tidak terlena dengan kemalasan.

Terpaksa bangun pagi akan menjadikan kita terbiasa bangun pagi

Terpaksa melaksanakan Shalat 5 waktu di awal dan berjamaah akan membuat kita terbiasa

Dan masih banyak lagi.

Pertanyaannya adalah. Siapkah kita berubah untuk menjadi lebih baik dengan sedikit paksaan? Jawabannya ada pada diri masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top