JANGAN MENUNTUT ILMU

Jangan Menuntut Ilmu

Mungkin dalam hidup, teman-teman, orang tua, kerabat, atau siapapun selalu menganjurkan kita untuk terus menerus menuntut ilmu tanpa mengenal lelah. Mungkin saat di sekolah sering kali para guru tak henti-hentinya memberikan kalimat motivasi agar kita senantiasa terus belajar dan belajar. Mungkin tulisan-tulisan inspirasi yang sering kita temukan di sosial media maupun buku selalu menuliskan tips kiat-kiat belajar yang baik dan benar. Lalu selanjutnya, pernahkah kita tersadar untuk menanyakan hal mendasar. “Kenapa dan untuk apa saya harus belajar?”.

Dan jawabannya simpel dan beragam. Jawaban yang paling sering didapatkan adalah untuk menjadi pintar, untuk mendapatkan nilai yang bagus, untuk menjadi kaya, untuk menggapai cita-cita, untuk menjadi manusia dan masih banyak lagi.

Lalu? Se-simpel itu kah?

Nampaknya kata-kata yang terbiasa terdengar hanya akan menjadi sebuah kata-kata klise saja. Sesuatu yang harusnya bermakna mendalam jika terus menerus diulang tanpa penjelasan mendetail tentang hakikat didalamnya akan menjadi tidak berguna dan dipandang ecek-ecek, yang tinggal hanya sebuah kata-kata jargon yang seakan menjadi sebuah penyemangat padahal nyatanya kosong. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Tapi ada satu poin penting yang tertinggal yang sebenarnya adalah hakikat, akar dari tujuan menuntut ilmu itu sendiri. Sesuatu yang terbilang kecil dan dianggap sepele oleh orang-orang yang sibuk memperdalam ilmu-ilmu nya.

Saya katakan banyak diantara orang terpelajar, orang yang berintelektual tapi ilmu yang didapatkan terpenjara di dalam otaknya. Padahal jika dianalogikan. Ilmu itu bagaikan air jikalau ia dialirkan maka akan mendapat manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan. Akan tetapi jikalau hanya di tampung dalam bejana besar. Ia bukan hanya akan keruh dan tak berguna. Akan tetapi akan menjadi sarang nyamuk berbahaya berkembangbiak yang nantinya akan membawa penyakit bagi orang-orang.

Orang berilmu tidak dapat dikatakan berilmu jika ilmu yang didapat hanya untuk dirinya sendiri. Karena itu telah menyalahi aturan dari kegunaannya. Bukankah ilmu itu untuk di alirkan kepada orang-orang hingga selaraslah ilmu yang didapat dengan perbuatan?

Ilmu jika dipegang oleh orang-orang yang tepat dan pintar dalam mengamalkan maka ganjarannya adalah ia akan semakin dekat dengan sang pencipta. Seluruh tindakan oleh orang-orang yang benar berilmu akan menjadi orang teladan yang kehadirannya bagaikan mata air yang mengalir menghidupi sekitarnya, membuat yang keruh menjadi jernih, mengubah yang bodoh menjadi pintar.

Tuhan senantiasa memerintahkan kita dalam firman-Nya untuk terus mencari ilmu untuk mengamalkannya. Menjadikan manusia menjadi manusia, bukan hanya untuk diperbanyak. Sedikitnya ilmu yang kita amalkan jauh lebih bermakna daripada banyak ilmu yang kita dapat tapi sama sekali tidak mengamalkan.

Ibnu Abbas pernah berkata : Barang siapa yang berusaha mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah akan menganugerahinya ilmu yang belum diketahuinya.

Orang-orang yang menuntut ilmu tanpa mengamalkan bagaikan sebuah lilin yang membakar dirinya sendiri. Semakin lama ia menimba ilmu maka semakin hancur dirinya dihadapan Tuhan. Karena “tidaklah bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, Ilmunya tentang apa yang diamalkan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia habiskan, serta tentang badannya untuk apa ia pergunakan” (H.R At-Tirmidzi).

Ilmu dan amal adalah satu paket. Ilmu tanpa amal adalah kesia-siaan, amal tanpa ilmu adalah kesia-siaanpula. Lebih baik sedikit ilmu tapi bermanfaat untuk sesama, dari pada banyak ilmu tapi hanya menjadi pajangan dalam otak. Mending tak usah menjadi penuntut ilmu karena itu hanya akan membuat pelakunya menjadi sengsara.

Oleh karenanya. Marilah, sebagai insan yang cerdas. Ilmu itu merupakan ladang pahala jika kita pandai menggunakannya. Bagikanlah ilmu walau sedikit. Tapi sebelum diberikan pada orang. alangkah baiknya agar selaras dan menjadi baik untuk diri sendiri, harus kita amalkan terlebih dahulu dengan tindakan.

YAKINKAN DENGAN IMAN

USAHAKAN DENGAN ILMU

SAMPAIKAN DENGAN AMAL

YAKIN USAHA SAMPAI, KARENA HIDUP HANYA SEPUTAR BERIMAN, BERILMU DAN BERAMAL.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top