Jangan Asal Share

Penelitian menyebutkan, seseorang cenderung melihat “bias informasi” dan hanya menaruh perhatian, serta menyebarkan informasi yang sesuai dengan kepercayaannya. Bahkan meskipun informasi tersebut palsu.

Berbicara perihal informasi, tentu sangat menaik. Jika dulu informasi merupakan sebuah barang berharga untuk setiap jiwa, maka sekarang sudah biasa saja. jika dulu informasi sangat minim untuk didapatkan, sekarang informasi sudah sangat melimpah-ruah, sampai kita pun dibuat bingung dan pusing.

Apa sih pentingnya informasi?

Sebagai seorang awam mungkin kita tidak terlalu sadar dampak yang akan terjadi sehingga kita dengan santainya saja menyebar dan menerima informasi apapun, tapi secara tidak sadar kita ikut menjadi korban dan bisa jadi berdampak pada diri kita sendiri.

Informasi itu ibaratkan sebuah mata pisau, jika kau pandai menggunakan dengan bijak, bisa jadi itu bermanfaat, sedang jika kau kurang bijak dalam menggunakan, maka akan berbahaya untuk diri dan orang lain.

Bagi sebuah negara, memiliki informasi yang akurat terhadap negara lain merupakan sebuah kekuatan dan kekuasaan bagi negaranya, sebab dengan informasi tersebut, mereka bisa tahu semua unsur di dalam satu negara, mulai dari sumber daya alam sampai sumber daya manusia, terkhusus ketersediaan alam, bahkan sifat dan kebiasaan manusia itu sendiri.

Bagi sebuah perusahaan, informasi tentang perusahaan kompetitor juga merupakan senjata. Dengannya, mereka dapat mengetahui resep kesuksesan perusahaan kompetitor beserta kelemahannya. Dengan mengetahui kelemahan dan kelebihan lawan perusahaan, mereka bisa  memakai berbagai metode untuk dapat mengalahkan perusahaan tersebut.

Bagi seorang pengusaha, memiliki informasi calon pelanggan bisa membuat bisnisnya berkembang, sebab mereka bisa tahu kebiasaan, minat, dan kemampuan beli calon pelanggan, sehingga mereka bisa menyesuaikan dan menarik minat calon pelanggan.

Namun, fenomena sekarang yang seringkali terjadi yaitu misinformasi dan disinformasi.

Secara sederhana, misinformasi berarti salah informasi. Informasinya sendirilah yang salah, dan orang yang menyebarkannya percaya bahwa informasi itu benar. Penyebaran informasi dilakukan untuk tujuan baik alias tidak ada niat untuk membahayakan orang lain. sedangkan disinformasi dalam kamus KBBI daring diartikan sebagai penyampaian informasi yang salah yang dilakukan dengan senagaja bertujuan untuk membahayakan orang lain.

Sangat berbahaya jika kita menjadi seorang korban dari informasi yang salah, baik kita sebagai penyebar dengan niatan baik, maupun sebagai penerima atau korban misinformasi tersebut. Mari kita simak dua kisah yang menceritakan bahayanya misinformasi.

Kisah pertama.

ada seorang pasangan yang sedang menjalani LDR, sang lelaki yang berangkat merantau ke luar kota untuk menyelesaikan pendidikannya, sedangkan sang wanita menunggunya di kampung halaman. Sebelum mereka berpisah, mereka mengingat sebuah janji untuk bertemu disaat mereka sudah siap untuk menjalin ikatan pernikahan.

Komunikasi yang terjalin antar kedua pasangan tersebut cukup baik, kepercayaan antar keduanya pun juga erat.

Beberapa lama kemudian, tibalah saat mereka tiba-tiba putus komunikasi, sang lelaki sangat susah untuk dihubingi, sehingga wanita tersebut dibuat cemas olehnya.

Suatu saat terdengar sebuah berita yang sampai pada wanita itu, berita bahwa kekasihnya telah selingkuh di luar kota, lelakinya bahkan sudah melamar wanita asing itu.

Wanita yang tadinya telah mendengar kabar buruk itu, awalnya tidak percaya, namun karena sudah sangat banyak berita yang sampai ketelinganya menandakan seolah berita itu benar, apalagi beberapa waktu ke belakang kekasihnya tidak bisa di hubungi.

Timbul lah pikiran kecewa, dan akhirnya si wanita memutuskan untuk mengambil langkah sepihak. Ia memutuskan untuk berpisah dan mencari lelaki lain di kampongnya saja.

Satu bulan atas kejadian tersebut, seorang lelaki muncul di depan rumahnya, wanita yang baru saja terbangun dari tidur, melihat sosok lelaki itu adalah mantan pacarnya yang diputuskan itu, pria itu dengan girangnya mengatakan, “semua sudah disiapkan, maaf kemarin saya sengaja tidak memberimu kabar, karena saya ingin memberikanmu kejutan”.

Wanita tersebut menyesal,. Ia meninggalkan lelaki yang setia dan mengikat janji lantaran hanya mendengar kabar bohong dari orang lain, dan langsung mengambil keputusan sepihak.

Sang pria juga lantas kecewa atas tindakan kekasihnya.

Alhasil, janji yang dulu terikat, kini terluluh lantahkan oleh kabar bohong.

Kisah kedua.

Ada seorang tokoh masyarakat yang berpengaruh di satu daerah. Orang tersebut disegani, dihormati, dan dijadikan panutan oleh masyarakat setempat. Hal itu karena ia mempunyai gelar pendidikan yang tinggi, pengalaman akan kehidupan sungguh banyak.

Dalam satu waktu, ia membuka media sosialnya, hari itu suasana hatinya sangat buruk, pikirannya kacau. Di media sosialnya ia mendapatkan berita bahwa tiga hari lagi akan terjadi sebuah bencana besar, karena panik suasana hati sedang buruk, pikiran juga kacau, ia tiba-tiba membagikan berita tersebut di media sosialnya. Padahal, ia belum melakukan pemeriksaan silang atas informasi tersebut.

Masyarakat yang kebetulan terhubung dengan akun sang tokoh tadi, akhirnya melihat berita tersebut dan percaya saja karena beliau adalah seorang yang disegani dan dihormati.

Masyarakat setempat itu panik tiada ujung.  Dikemas semua barang-barangnya, ada yang sudah putus asa, perekonomian ditempat itu kacau dalam sekejap, dan semuanya ambyar.

Padahal, tiga minggu setelah berita tersebut muncul ternyata tidak terjadi apa-apa,

Alhasil, sebab menebarkan informasi yang salah, seorang tokoh tersebut telah kehilangan marwahnya, sudah tidak dihormati, dan sudah tidak disegani.

Apa hikmah yang bisa kita tarik atas dua kisah di atas?

Ya, jika dulu orang-orang berkata bahwa informasi adalah kekuatan, kini sudah tidak relevan lagi, sebab informasi kini siapa saja sudah bisa memilikinya, ratusan sampai jutaan informasi sudah bisa masuk dalam sekejap dalam genggaman kita.

Saat ini, bukanlah sebuah informasi yang menjadi kekuatan terbesar manusia, tetapi kemampuan untuk mengolah, memilih, dan memilah sebuah informasi itu sendirilah yang menjadi kekuatan terbesar.

Barangsiapa yang memiliki kemampuan mengolah informasi, maka dia lah pemegang kekuasaan sesungguhnya.

Maka wahai diri, hati-hati dalam menyikapi sebuah informasi, Jangan asal share, meskipun menurut kita itu informasi yang baik, tetapi yang baik belum tentu benar, dan informasi yang baik pun tidak dibenarkan untuk turut disebar.

Jangan mudah terpancing, disiplinkan dan tahan jari kita, biasanya ketika mendapatkan informasi sekecil apapun, tangan kita serasa gatal ingin membagikannya pada orang lain.

Lakukan pengecekan silang, lihat siapa yang menyebarnya, lihat sumber validnya, memang sangat repot, inilah tantangan terbaru kita. Jika dulu tantangan kita adalah mencari informasi, maka sekarang tantangan terbesar kita adalah memilah informasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top