Mendapatkan pengakuan dari orang lain adalah salah satu bentuk kebutuhan hidup manusia, dikatakan dalam teori hirarki kebutuhan oleh Maslow bahwa kebutuhan paling puncak dalam diri manusia adalah kebutuhan self actualization.
Zaman sekarang, oleh karena semakin berkembangnya teknologi sehingga ruang dan waktu kini seolah tak terbatas lagi, membuat diri kita semakin mudah memperoleh bentuk pengakuan tersebut.
Mari kita ambil contoh salah satu platform yang populer dijadikan ajang pertunjukan aktualisasi diri, yakni media sosial.
Media sosial, termasuk di dalamnya Instagram, Youtube, Line, Facebook, Twitter, WhatsApp, dll. Kini menjadi sasaran empuk sebagai ajang mencari pengakuan dari orang lain.
pengakuan yang dulunya sulit didapatkan, kini hanya dengan memencet tombol like, menuliskan komentar, atau sekedar mendapatkan viewer sudah dirasa cukup untuk sebuah pengakuan.
Ya, kita lebih dimanipulasi, pengakuan yang didapat tidak nyata, hanya sebatas media semata.
Oleh karena mudahnya mendapatkan pengakuan, dan oleh karena pengakuan memanglah sebuah kebutuhan, maka beragam lah cara untuk memperoleh pengakuan tersebut.
Ada di antara mereka yang mendapatkan pengakuan karena memang pantas untuk mendapatkannya, misalkan mereka memang adalah publik figur atau seorang yang memberi banyak manfaat, sehingga dengan bermanfaatnya orang tersebut di dapatlah sebuah pengakuan yang real dari orang lain, tidak hanya di dunia maya, juga di dunia nyata. Akan tetapi, ada pula di antara mereka yang mendapatkan pengakuan karena memalsukan bentuk diri mereka.
Maksudnya? Ya, dirinya berpura-pura tampil baik agar mendapatkan kata “wah” dari orang lain, padahal dirinya tidak pantas untuk mendapatkannya.
Mereka berpura-pura kaya dengan memaksakan diri membeli barang mahal demi mendapatkan pengakuan orang lain, padahal sejatinya, mereka belum sanggup membeli barang mahal tersebut.
Mereka berpura-pura hidup senang tanpa beban, tertawa haha hihi, padahal dalam kehidupan pribadinya banyak beban dan tanggung jawab yang harus ia jalani.
Apakah salah?
Sebenarnya sah-sah saja, mau menjadi apapun di media sosial itu adalah hak dari setiap pengguna. Namun, perlu digaris bawahi bahwa hal itu lambat laun akan menyiksamu. Ya, berpura-pura untuk tampil sempurna akan membuat kita merasa tersiksa, sebab diri menuntut diri sendiri untuk keluar dari batas kesanggupannya.
Ada pula yang melakukan pembelaan yang menggelitik, katanya, sengaja untuk menampilkan versi terbaik dari diri agar dapat membentuk personal branding yang menarik.
Personal branding?
Ya, ada lagi satu pembelaan yang saya sendiri pun sempat berpikir demikian.
Dulu, saya merasa bahwa menggunakan media sosial dapat dimanfaatkan untuk membangun personal branding, sehingga apapun yang saya posting haruslah merupakan versi terbaik dalam hidup saya, apa yang saya kerjakan yang menurut saya berpotensi untuk “menjual” diri saya harus saya upload di media sosial.
Pertanyaan mendasar adalah, “Betulkah cara membangun personal branding harus dengan cara mengunggah hal-hal terbaik dari kita?”
Perlu kita luruskan sama-sama, jangan sampai kita mengaku ingin melakukan personal branding akan tetapi jatuhnya malah kita menjadi pamer.
“Loh, bukannya personal branding memang dengan cara memamerkan kelebihan?” katamu.
Sayangnya tidak demikian, personal branding dan pamer itu jelas sangat berbeda.
Melakukan personal branding artinya bagaimana upaya kita untuk mengunggah sesuatu yang bernilai bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain juga.
Artinya, apapun yang kita unggah di media sosial, kita harus tanyakan dulu, apakah hal ini bermanfaat untuk orang yang melihatnya? Atau hanya untuk kepuasan batin diri saya sendiri? Nah, jelas berbeda, bukan?
Jika kita mengunggah sesuatu namun hanya untuk memuaskan batin kita saja, itulah yang namanya pamer. Misalnya, kita lagi jalan-jalan ke tempat wisata, terus kita foto, kita unggah di Instagram dengan niat agar personal branding kita merujuk pada seorang traveler. Namun, foto yang kita unggah tadi tidak ada nilai apapun bagi orang lain, tidak ada manfaat apapun yang diperoleh untuk orang lain. Itu hanya untuk diri kita sebagai kepuasan batin kita.
Berbeda halnya jika kita memotret tempat wisata, lalu dalam foto tersebut menunjukan sebuah informasi tentang lokasi, kelebihan, kekurangan tempat wisata tersebut, kita unggah di media sosial, orang lain menjadi tahu tempat wisata tersebut. itu berarti kita mendapat kepuasan batin, orang lain juga mendapatkan informasi yang baik. Itulah namanya personal branding.
Mengapa harus bernilai manfaat? Karena sejatinya seseorang tidak akan peduli kamu menjadi sehebat apa, seseorang tidak membutuhkan seberapa populernya dirimu, yang orang lain butuh adalah seberapa besar manfaatmu terhadap yang lainnya. Itulah kunci personal branding yang sesungguhnya.
Sederhananya, jika apa yang kita posting di media sosial bernilai manfaat untuk diri dan orang lain, maka dikatakanlah sebagai bentuk personal branding, sedangkan jika apa yang kita posting hanya untuk kepuasan batin sendiri tanpa ada hal yang orang lain ambil manfaatnya, maka dikatakanlah sebagai bentuk pamer.
Kuncinya adalah, ketika kita ingin mengunggah sesuatu di media sosial, tanyakan dulu. Apakah hal ini bernilai manfaat untuk orang lain, atau hanya untuk diri saya sendiri?
Akan tetapi, kembali lagi, seperti yang saya katakan di awal bahwa semua memiliki hak masing-masing. Kita semua berhak untuk menjadikan seperti apa media sosial kita. Poin penting yang ingin saya bahas dalam tulisan ini adalah meluruskan salah kaprah antara membangun personal branding dengan ajang untuk pamer belaka.
Kita berhak menentukan jalan hidup masing-masing.