Desember Gak Seasyik yang Dikira

Bismillah.

Bulan Desember memang dikenal dengan musim penghujan. Ya, itu sudah sedari dulu kita tahu.

Namun, desember kali ini berbeda, baru saja kemarin saya melihat beberapa pengharapan netizen di media sosial yang mengatakan, “Semoga Desember ini bersahabat” atau “Semoga Desember lebih baik”.

Namun, lagi-lagi tak sesuai yang diharap, Desember gak seasyik yang dikira.

Baru-baru ini, terdengar kabar bahwa Gunung Semeru di Jawa mengeluarkan erupsi yang tajam, sehingga seluruh warga sekitar terpaksa mengungsi. Tak ayal, puluhan korban pun berjatuhan.

Bukan hanya gunung yang mengamuk, hujan pun turut memperlihatkan taringnya. Terdengar kabar banjir di mana-mana. BMKG memperingatkan bahwa bulan ini beragam cuaca ekstrem akan menerjang berbagai daerah.

Huft, bulan Desember.

Tapi, mari kita ambil sisi positifnya. Per hari ini, Selasa, 7 Desember 2021, pertama kalinya di daerahku mengalami banjir sampai hampir masuk rumah. Ya, sejatinya rumahku berada di daerah yang agak tinggi, sehingga banjir sangat amat jarang terjadi.

Namun, hari ini, sekalinya banjir, kebun milik seseorang yang berada di belakang rumahku hanyut terbawa air. Tanah-tanahnya longsor, tersapu rata oleh aliran air.

Bahkan, sungai pun menjadi satu dengan sawah-sawah di sekitarnya.

Ya Allah, hanya dalam hitungan jam, kebun dengan luas beberapa hektar langsung lenyap terbawa air.

Sontak saja berkata, “Sebegini mudahnya harta itu meninggalkan kita”.

Saya kembali berselancar di media sosial, kejadian yang tak kalah mengerikan juga terjadi. Ada 2 rumah warga yang hanyut terbawa banjir.

Rasa prihatin pun tak terbendung. “Tuhan memang tak main-main”.

Jika kita sering mendengar bahwa harta tak dibawa mati, maka benarlah.

Jangankan dibawa mati, kita masih hidup pun, harta kita bisa langsung meninggalkan tanpa permisi.

Lantas, kembali saya merenung.

Merugilah kita yang terlalu mendewakan harta.

Merugilah kita yang melupakan Tuhan demi harta.

Merugilah kita yang memutus tali silaturahim demi harta.

Sudah jelas nyatanya bahwa Harta Tak Dibawa Mati, lalu mengapa kita hidup seolah harta membuat kita bisa hidup selamanya

Mengapa kita hidup seolah harta adalah nafas kita.

Mengapa kita hidup seolah harta adalah pedoman kita.

Dan, maaf, mengapa kita hidup seolah harta adalah Tuhan kita.

Tapi, saya juga bukan orang yang suci. Saya hanyalah seorang manusia biasa. Pendosa.

Ya, kita memang pendosa, namun pintu maaf Tuhan tak pernah tertutup sampai mata kita yang tertutup usia.

Saya pernah mendengar petuah, Matinya seorang pendosa yang bertaubat lebih baik daripada matinya seorang saleh yang sombong.

Ya, harta tak dibawa mati dan kita semua hanyalah pendosa yang harusnya senantiasa bertaubat setiap saat. Bahkan setiap detik.

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top