KRITIK BUKAN TANDA KEBENCIAN

Bismillahirahmanirrahim..

kali ini saya akan membuat tulisan yang tak jauh dari keadaan indonesia kita hari ini, dimana semua yang kita liat seakan akan hanyalah ujaran kebencian, semua ini bermula dengan adanya konstelasi atau persaingan merebutkan suatu posisi, bukan hanya itu. banyak hal hal lain di luar sana yang seakan akan menunjukan bahwa indonesia darurat adab, darurat sopan santun dan semacamnya.

saya tidak ada dalam satu pihak mana pun jikalau pembaca kali ini mengerucut dan berpikiran bahwa saya akan membahas sebuah kericuhan pilpres yang baru saja terjadi belakangan ini, bahkan beberapa bulan sudah selesai masih saja ada hastag hastag yang menandakan ketidak terimaan.

tapi pada tulisan kali ini saya hanya mengambil sampel gambaran umum yang sering terjadi dan banyak orang yang keliru lantaran masalah ini,

tidak. saya tidak akan menyebutkan bahwa itu masalah tapi lebih tepatnya kesalah pahaman.

dan yang sangat banyak menjadi korban kesalah pahaman ini ialah mahasiswa. yang lekat oleh masyarakat sekitar dengan kata tukang kritik pemerintah.

itu adalah satu contoh. belum lagi contoh contoh yang lainya, tapi pada tulisan kali ini saya hanya membahas satu contoh yang sangat lekat dengan saya sebagai mahsiswa pengkritik

tidak sedikit orang yang menganggap bahwa orang yang suka mengkritik adalah orang yang benci pada apa yang ia kritik itu, padahal itu salah besar. orang mengkritik sesuatu karena orang yang melakukan kritik menganggap bahwa ada sesuatu yang tidak beres akan hal itu,.. sebagai contoh kecil. mahasiswa selalu mengkritik kebijakan pemerintah terkait kenaikan harga pangan. akan tetapi mindset orang awam mengira bahwa mahasiswa kembali membuat onar, bahkan ada yang menganggap bahwa mahasiswa telah di remot oleh oknum tertentu dan di bayar untuk melakukan kerusuhan untuk menjatuhkan dan menebar kebencian.

hal ini yang telah sangat lama di telan mentah mentah oleh mahasiswa sehingga menybebakan banyak mahasiswa yang mentalnya drop untuk mengurusi kehidupan negara dan bahkan menjadi bersikap egoistik, mementingkan diri sendiri, dan tak lagi berani bersuara karena takut dilabel sebagai penebar kebencian.,

padahal. mahasiswa sendiri adalah satu satunya kelompok yang bisa menjadi lidah rakyat karena mahasiswa lah yang dekat dengan rakyat dan memiliki jiwa pemberani dan intelektualitas yang segar untuk mengkaji masalah masalah yang ada dan kemudian di sampaikan kepada berwenang.

namun apadaya. semuanya telah di blokade oleh masyarakat sendiri. kini kritik bukan lagi di anggap sebagai pembangun tapi sudah melekat di pikiiran orang lain bahwa mengkritik adalah membenci

sungguh hal yang ironi melihat semua ini. jangan sampai kedepannya hilang sudah mental kritik dan semua berlaku semau maunya.

bersikap egoistik. individu, menindas, dsb.

semoga dengan salah satu gebrakan tulisan saya ini, kepada siapapun yang membacanya ikut merasakan kekhawatiran yang saya rasakan.

dan tolong jangan sampai kita sebagai pemuda generasi penerus bangsa, tak tahan untuk di kritik dan takut untuk mengkritik.,

karena sejatinya kritik adalah bersifat membangung dan memperbaiki.

bukan sebagai penebar kebencian

#DzL FqRm 1/08/19 10.35

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top