Dalam keseharian, kita sering mendapati sebuah kata kata bijak atau nasihat baik dari sebuah buku, atau yang didapati dari teman, sahabat, atau kerabat kerja. Kadang secara sadar atau tidak, saat kita dihadapi oleh sebuah masalah kita menceritakan dan meminta nasihat dari seseorang, pun ketika kita ingin melakukan sesuatu atau mencapai tujuan hidup. Kita kerap mencari-cari seorang motivator yang bisa memberikan kita sepatah dua kata untuk menunjang dalam menjaga semangat motivasi kita.
Akan tetapi pertanyaannya adalah apakah semua nasihat yang didapat harus kita terima dan telan mentah-mentah. Apakah benar sebuah nasihat yang keluar dari mulut, teman, sahabat, kerabat kerja, atau saudara dapat benar-benar menjanjikan dalam memberi kita batu loncatan dalam mencapai tujuan, atau jangan-jangan mereka yang kita percayai untuk mendapatkan nasihat malah yang akan menjadi penghambat dalam mencapai tujuan. Ini tentu menjadi sebuah masalah besar.
Kerap kali kasus ini di dapati dalam setiap hal. kita mungkin mengira bahwa orang yang membenci akan menjadi penghambat, dan orang yang mencintai dan terlihat support akan menjadi penunjang dalam hidup. Belum Tentu
Kadang malah orang yang paling mencintai kita juga kerap kali dapat menghambat dalam hal member nasihat. Karena mungkin saling cintanya teman, sahabat, kerabat atau saudara terhadap diri kita kerap kali memberikan nasihat yang benar versi dia. Tapi merugikan versi diri sendiri. Seperti apa itu?
Hal ini kerap kali kita temukan dalam hidup dan hampir setiap orang pernah merasakan, ketika misalkan kita menginginkan menjadi pemain musik professional,dan ingin bersekolah di sekolah musik lalu meminta saran kepada orang tua dan mereka mengatakan “Tak usah sekolah di sekolah musik, mau jadi apa kau nantinya. Kau pikir dengan menjadi pemusik kau akan kaya raya. Bersekolah saja di akademi polisi, dan kau akan menjadi polisi yang hebat”. Atau ketika bercita-cita menjadi seorang penulis dengan karya buku yang best seller, lalu meminta saran teman dan mereka berkata “Ah sudahlah, buang saja mimpimu itu, kau tak berbakat dalam bidang itu, tulisanmu saja tak beraturan”.
Mungkin mereka-mereka yang diminta saran adalah orang yang sangat mencintai kita, ingin melihat diri kita mencapai tingkat kesuksesan akan tetapi sukses versi mereka sendiri. Ingat. Satu-satunya orang yang mengerti dirimu adalah dirimu sendiri. Jika telah memutuskan tujuan hidup lakukan saja tujuanmu itu tanpa peduli pikiran, perkataan, ataupun tindakan orang lain. Jika kau berjalan mencari sebuah kota tempat yang pertama kali kau akan menginjakkan kaki kesana, bertanyalah kepada orang yang pernah kesana, begitupun dalam meminta saran. Mintailah saran kepada mereka yang sudah pernah menjadi apa yang ingin kau jadikan tujuan. Bukankah mereka yang lebih tau tentang hal itu? Bukan mereka yang terlihat menerka-nerka kejadian berdasarkan halusinasi dan ketakutan belaka.
Mintalah saran kepada orang yang benar-benar sudah berada dalam posisi itu. Ketika mereka rasa kau tak cukup layak, mereka tidak akan berkata kau tak pantas, tapi mereka akan menuntunmu sampai menjadi pantas. Karena merekalah yang lebih tau, merekalah yang lebih mengenal realitas seluk beluk yang ada karena mereka PERNAH dan telah MENJADI.