LABELING

LABELING

Labeling a.k.a pemberian  label atau cap atau pelekatan. Semasa penulis SMA, penulis ingat pernah diberikan sebuah materi di pelajaran sosiologi tentang labeling, setau penulis labeling itu pemberian cap kepada seseorang terhadap sesuatu, entah itu bersifat positif atau negatif. Misalkan Si A di sekolahnya sering berbuat pelanggaran, maka dia di labelkan oleh teman-teman atau guru sebagai siswa yang nakal begitu pula untuk si B misalkan yang selalu tepat waktu dalam hal apapun maka dia mendapatkan label sebagai siswa teladan.

Pemberian label sebenarnya sah-sah saja jika masih mampu menggunakan logika untuk menerapkannya. Akan tetapi istilah labeling juga memiliki dampak buruk bagi si korban. Hal itu akan mempengaruhi kondisi psikisnya.

Mengapa penulis berkata demikian. Sebenarnya simpel. Sesuatu yang dikatakan atau di dengar atau di rasakan atau di terima secara berulang-ulang, itu akan masuk ke alam bawah sadar, tak peduli apapun itu. Itu akan menjadi sebuah kebiasaan pikiran dan bahkan menjadi bagian dari diri sendiri.

Orang yang pada masa kecil sering di katai sebagai anak nakal oleh orangtuanya, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang benar-benar nakal. Penulis rasa hal ini sudah banyak orang-orang yang paham, meskipun sebagiannya tidak. Akan tetapi penting di ketahui bahwa, sesuatu yang berulang itu akan menjadi kebiasaan dan menjadi bagian dari diri.

Mengapa demikian?

Dalam otak ada yang dikatakan SPR (system pengaktifan retikuler) sebuah kekuatan maha dahsyat yang dimiliki oleh manusia yang mampu mengidentifikasi setiap apa yang diterimanya. Mungkin tentang SPR akan saya jelaskan lebih lanjut di tulisan selanjutnya. Pada intinya apa yang diterima SPR atau apa yang diberikan kepada SPR itu akan menjadi sebuah kenyataan.

Tak heran mengapa dalam keseharian sering kita mendengar, utamanya seorang yang beragama selalu berkata bahwa “apa yang diucapkan adalah doa” atau “hati-hati dalam berucap nanti bisa jadi kenyataan”. Itu bukan hanya sebuah guyonan belaka untuk menakut-nakuti, atau bukan sebuah cerita fiktif dari nenek moyang yang tak perlu di percaya tapi itu adalah sebuah fakta yang sudah banyak terbukti dan bahkan sudah diteliti oleh para ilmuwan. Karena apa yang dikatakan adalah apa yang akan diterima oleh SPR dan bakal masuk di dalam bawah sadar kita jika itu benar benar di yakini.

Jika dikaitkan dengan Labeling atau proses pelabelan maka tak heran jika apa yang sering dikatakan atau diberikan kepada seseorang lambat laun akan menjadi kenyataan karena mereka menerimanya dalam sebuah pikiran. Terkecuali jika mereka mampu mengendalikan pikirannya atau merasa bodo amat atau merasa itu tak berhak terjadi kepadanya.

Maka Labeling yang baik adalah labeling yang positif untuk kita keluarkan. Jika menemukan seseorang yang anda rasa tidak sesuai dengan aturan. Misalkan dia nakal. Maka tak perlu mengatakan bahwa ia adalah orang yang nakal. Cukup ingatkan mereka dengan kata-kata yang positif.

Perlu diingat bahwa untuk menjadi pribadi yang baik harus selalu berucap yang positif. Maka dari itu sebagai insan yang baik maka patutnya kita menjadi bagian dari sebuah gerakan kecil untuk perubahan besar. Jangan pernah menggunakan labeling untuk hal-hal yang negatif.

Ingat! Setiap manusia punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan sampai karena apa yang kita labelkan kepada seseorang menghalanginya untuk segera bergerak maju. Jangan kita menjadi pribadi yang bersifat parasit untuk diri seseorang tapi jadilah sebagai mutualis yang senantiasa membantu manusia bergerak melangkah kea rah yang positif. Dengan cara tidak melabelkan yang menjurus kearah negative. Dan senantiasa untuk berkata hal hal yang baik.

Ingat pula. Apa yang diucap kepada semesta itu pula yang terjadi pada diri. Jangan sampai kita kebiasaan mencemooh orang lain, akan tetapi kata-kata termakan sendiri oleh diri kita. Seperti yang saya sampaikan. Apa yang didengar, diterima, adalah apa yang akan menjadi kenyataan.

Berucap yang positif, bertindak yang positif, berpikir yang positif. Dan kau akan menjadi seorang yang positif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top