Narkoba yang Baik
Tetiba penulis bangun dari tidur subuh tadi, berpikir bahwa sudah 2 hari jeda saya tak menulis lagi, tapi bingung sedari kemarin ingin menulis tapi tak ada inspirasi yang didapat karena semua buku sudah habis dibaca. Inspirasi yang selalu penulis dapatkan tak lain dan tak bukan hanya dari apa yang penulis dapat dari buku buku yang dibaca lalu penulis kembangkan menjadi sebuah tulisan.
Tak sengaja mata memandang sebuah papan pengingat yang terbuat dari karton putih yang dibungkusi plastik bening yang kupajang di dinding kamar sebagai pengingat, disitu tertulis kalimat motivasi yang penulis pun jarang membacanya, sebuah kalimat yang bertuliskan “Zona Nyaman Adalah Narkoba”.
Kata kata yang Nampak asing bagi pembaca, pun juga dari penulis. Entah dari mana penulis dapatkan tapi yang jelas pada waktu itu langsung terngiang di kepala bahwa ini kata motivasi yang jarang hadir.
“Zona Nyaman”, teringat sebuah lagu yang sempat popular di tahun 2018 yang dinyanyikan oleh Fortwenty yang menceritakan sebuah keharusan bagi manusia yang ingin bergerak maju untuk segera meninggalkan Zona Nyamannya. Ini adalah sebuah lagu inspirasi bagi kaula muda sejak itu.
Namun sebenarnya perlu di perjelas, Zona nyaman yang seperti apa yang harus ditinggalkan. Akhir-akhir ini muncul pertentangan batin dalam diri, hati berkata bahwa apakah setiap hal yang dianggap nyaman itu harus di tinggalkan? Seperti apa definisi Zona nyaman yang selalu orang orang gaungkan, yang selalu para pengisi seminar katakan. Apakah dengan keluar dari sisi nyaman kita akan menjamin sebuah perubahan maju? Atau malah meninggalkan jati diri kita yang sesungguhnya.
Ah, lagi lagi perdebatan tentang definisi. Tapi bagi penulis sendiri Zona nyaman itu tak perlu di tinggalkan, tapi dipilah, di saring, mana yang merugikan dan mana yang menguntungkan.
Sering kali orang berkata bahwa jika saya terus-terusan seperti keadaan saya sekarang, hanya hobi bercerita, hobi bermain, hobi berpetualang, hobi bernyanyi yang seharusnya saya berada untuk menjadi orang yang terjun ke komunitas social dan berbisnis agar berpeluang menjadi orang yang kaya.
Tak sadar bahwa ada posisi ketika apa yang kita anggap nyaman adalah apa yang sebenarnya menjadi bakat yang terpendam yang kebetulan belum kita kenali sisi manfaatnya dan hanya menjadi ketakutan semu. Kerap kali kita ingin terlihat menjadi apa yang rata-rata orang lain lakukan atau kerjakan.
Ketakutan untuk terlihat berbeda jalur membuat sebagian orang tak menikmati apa yang menjadi rutinitasnya karena keterpaksaan untuk memuaskan penglihatan orang lain. Ini yang sangat berbahaya.
Saya tak sependapat dengan kata Zona Nyaman adalah Narkoba. Zona nyaman tak perlu diidentikkan dengan hal yang berbau negatif. Justru dengan bergelut di zona nyaman kita dengan berkomitmen untuk menjadi baik di dalamnya, maka hal itu saya rasa sah-sah saja, dan kalau di identikkan dengan candu maka itulah candu yang membuat orang bahagia.
Nyaman dalam bercerita dapat kau kembangkan, asal kau lurus kau akan menjadi seorang pembicara professional yang di undang di acara seminar tingkat dunia.
Nyaman dalam menikmati kesendirian dalam membaca kau dapat kembangkan, asal kau lurus kau dapat menjadi salah satu orang yang bergelut di bidang penerbitan.
Nyaman dalam bercanda kau dapat berkembang menjadi seorang comedyan yang di bayar jutaan rupiah setiap kali berhasil membuat orang tertawa dalam sebuah panggung spektakuler tingkat nasional
Lalu apa yang kau cemaskan dengan Zona Nyamanmu.?
Kuncinya adalah mencoba untuk mencari sisi produktif dari apa yang membuatmu sekarang nyaman. Dan nikmatilah proses menjadi diri sendiri mu.