TAK PERLU BERAMAL
Mungkin tulisan-tulisan sebelumnya saya selalu tegaskan bahwa nilai hidup manusia dikatakan bermakna ketika dia sudah mampu beramal, karena kita hidup di dunia ini hanya sebatas beriman, berilmu, dan beramal.
Beriman dalam artian kita harus memiliki pegangan hidup, sebuah kepercayaan tempat kita bersandar oleh suatu Dzat yang maha besar, biasa orang menyebutnya Agama atau Tuhan.
Berilmu dalam artian kita hidup di dunia jika ingin bertahan maka harus mempunyai ilmu. Orang yang tak berilmu tak akan dipandang apa-apa oleh dunia dan tak akan mendapat apa-apa dari dunia. sangat mudah terseret arus atau bahkan tak mengenal dirinya sendiri. alangkah berdosanya diri kita yang telah dikaruniai nikmat terbesar yaitu akal tapi tidak dipergunakan dalam mencari ilmu yang seluas-luasnya.
Beramal dalam artian setiap ilmu yang kita punya harus di terapkan dalam keseharian. tanpa amal ilmu bagaikan sebuah nahkoda kapal tanpa kompas. amal bisa saya artikan sebagai kegunaan kita. mudah untuk diterjemahkan, apa yang dilakukan selama hidup maka itulah yang dimaksud amal, jika tak beramal maka tak hidup. Maka dari itu nilai hidup manusia tergantung pada amal perbuatannya. dan amal pula yang akan menjadi penerang kita saat di alam kubur nanti
Sejatinya orang hidup di dunia tak akan bisa bertahan jika tak dilandasi oleh 3 hal tadi. Walaupun seorang atheis sekalipun, mereka tetap beriman. Mereka tetap membutuhkan kepercayaan walaupun yang dipercayainya bukan Tuhan melainkan akal. 3 konsep dasar yang manusia pegang untuk menunjang hidupnya.
Orang beriman haruslah berilmu, untuk apa iman yang dia pegang erat tanpa ilmu yang dimiliki, bisa-bisa orang seperti ini hanya akan banyak tertipu, dan untuk apa juga orang berilmu tanpa beramal, seperti yang sudah saya katakan pada tulisan sebelumnya bahwa seorang yang memiliki ilmu tapi tak diamalkan akan celaka dan tidak akan tenang di hari pembalasan nanti, bagaikan sebuah lilin yang terbakar api, niat ingin menerangi sekitarnya akan tetapi lama kelamaan akan habis, lenyap dan tak berguna.
Namun hal yang ingin saya tekankan pada tulisan kali ini ialah tentang Amal.
Apakah amal saja sudah cukup untuk membuat sang insan menjadi selamat dihari penghisaban kelak? Amal yang seperti apa yang akan menyelamatkan kita. Amal itu tak selamanya akan membawa ketenangan. Malah jika tak hati-hati amal yang sering kita lakukan malah justru akan menjadi musuh yang akan mendorong kita masuk ke dalam neraka. Hati-hati…
Saya katakan amal disini terbagi-bagi lagi. Seperti definisi amal dalam kamus KBBI, amal adalah perbuatan (baik atau buruk). Jadi sudah jelas ada golongan amal baik ada pula golongan amal buruk. Untuk golongan amal buruk mungkin kita sudah tahu jelas, yaitu segala sesuatu yang diperbuat yang melanggar aturan-aturan-Nya. Namun ternyata amal baik pun terbagi lagi. Apakah itu?
Ya.. Amal baik ada dua jenis. Bergantung dari cara memperolehnya. Amal baik yang dilakukan secara ikhlas tanpa berharap pujian dari apapun kecuali mengharap ridha nya. Dan amal yang dilakukan secara pamrih dengan harapan untuk memperoleh imbalan atas amal baik yang dilakukan.
Amal baik yang dilakukan dengan pamrih tidak dikategorikan sebagai amal buruk karena bagaimanapun ia telah melakukan hal baik dan orang lain mendapatkan kebaikannya. Akan tetapi amal baik itu tidak akan terpantul kepadanya. Dalam artian ia dikali 0 atau bahkan mendapat celaan. Ia teramat rugi, membuat kebaikan kepada orang lain akan tetapi tidak mendapatkan pahala atas amalan yang ia perbuat. Karena ia tak ikhlas.
Bukan pahala yang didapat akan tetapi malah pengurangan pahala. Betapa meruginya orang-orang seperti itu.
Maka saya lantang untuk mengatakan, tak perlu beramal jika amal yang kita perbuat bukan amalan untuk mencari ridha-Nya.
Lalu bagaimana cara beramal dengan keikhlasan? Mungkin sudah banyak dibicarakan oleh para guru di sekolah. Oleh para ustadz di majelis ilmu atau pada video-video hijrah yang tersebar di sosmed dan banyak pula tersebar di berbagai buku bacaan islami.
Sangat familiar, terdengar sangat mudah sekali. Akan tetapi sangat berat untuk dilakukan. Yaitu tidak mengharapkan apa-apa. -Berikan kebaikan itu lalu lupakan- Ini saya akui sangat sulit, karena sudah nurani manusia untuk mendapatkan pengakuan orang lain.
Akan tetapi justru karena kesulitan itulah yang akan menjelma menjadi pahala yang berlipat ganda
Lalu sesulit apa? bagaimana caranya? sesulit apapun percayalah manusia bisa melakukannya, karena bagai cobaan, Tuhan tidak memberikan cobaan (kesulitan) bagi hambanya diatas kemampuan. Kita BISA, tinggal bagaimana niatan kita lurus untuk mempersembahkan amal-amal kita hanya untuk mengharap ridha nya. Bukan untuk mengharap pengakuan atau pujian.
Mari mencoba berlatih untuk ikhlas. segala sesuatu tak ada yang instan, harus terus menerus berlatih. maka latihlah hati untuk ikhlas.
Ingat Sulit bukan berarti suatu hal yang mustahil dan percayalah bahwa kita bisa.