Rutinitas adalah pekerjaan : Kesenangan adalah kebosanan
Apakah hidup terasa membosankan akhir-akhir ini? Ketika terbangun dari tidur dan mengetahui bahwa yang akan dilalui adalah sama seperti yang sudah dilewati kemarin? Semua pasti sepakat dan mengatakan Ya, itu membosankan, membuat kepala jenuh, dan tentu saja tidak membahagiakan. Saya percaya dan saya sering merasakan.
Ada manusia yang kesehariannya adalah pelajar. Terbangun dari tidur, siap-siap ke sekolah, disekolah ia ditempa berbagai macam materi, pulang, mengerjakan tugas, lalu istirahat dan bersiap mengulang kembali hal itu esok hari.
Ada manusia yang kesehariannya adalah seorang pekerja. Terbangun dari tidur, siap-siap ke kantor, di jalan terjebak macet, sampai di kantor di tempa berbagai tugas dari atasan, pulang sore, kejebak macet kembali, sampai rumah lalu istirahat dan siap untuk mengulang kegiatan itu esok hari.
Ada manusia yang kesehariannya sebagai artis, terbangun dari tidur, siap-siap ke lokasi syuting, menghafalkan naskah, acting, selesai, kembali ke rumah istirahat dan siap mengulang kembali esok hari.
Tanyakan kepada diri, apakah hal ini menyebalkan? Melelahkan? Begitu membosankan? Kalau Ya,, mari kita mengubahnya.
Dapat disimpulkan bahwa Rutinitas adalah sebuah pekerjaan. Apapun yang kita lakukan ketika sudah menjadi rutinitas maka ia akan menjelma menjadi sebuah pekerjaan. Baik itu kita sebagai pekerja kantoran, pelajar, artis, traveler, youtuber, atau bahkan seorang penulis pun yang katanya pekerjannya fleksibel akan tetapi ketika yang dilakukan berulang maka itu akan menjadi sebuah pekerjaan, dan kesenangan pun akan berubah menjadi kebosanan.
Mengapa sebuah pekerjaan menjadi sebuah kebosanan? Karena memang begitulah sifat dasar manusia.. Tidak Pernah Puas….
Lalu adakah cara untuk menjadikan sebuah rutinitas atau pekerjaan yang membosankan menjadi sebuah kesenangan? Jawabannya.. Ya. Ada.
Ketika kau pandai memahami makna.
Makna adalah pengingat akan esensi. Contohnya, menjadi seorang pegawai kantor akan sangat membosankan ketika kau hanya memaknainya untuk melepaskan sebuah kewajiban hingga mendapatkan gaji tanpa berpikir untuk beraktualisasi mengembangkan diri didalamnya. Menjadi seorang penulis akan sangat membosankan ketika kau hanya memaknainya untuk melepaskan sebuah kewajiban untuk menulis sesuatu tanpa berpikir bagaimana tulisan ini menjadi sebuah sumber inspirasi bagi orang untuk menjadi hidup lebih baik.
Pekerjaan yang tak dibarengi dengan perenungan makna akan melupakan esensi sehingga berdampak terhadap hasil yang tak maksimal.
Intinya adalah Pekerjaan – Rutinitas – Kebosanan – Kemalasan – Hasil yang tidak maksimal
Bagaimana cara memahami makna?
Ketika kau bosan dengan pekerjaan mu maka pikirkan kembali, apa tujuanmu? Ingat, jangan pernah memilih pekerjaan hanya atas dasar mencari uang. Memilih sebuah pekerjaan adalah atas dasar kau cinta akan pekerjaan itu, kau ingin beraktualisasi dan mengembangkan diri didalamnya. Tanamkan dalam pikiran bahwa gaji atau uang hanyalah bonus dari kesenanganmu bekerja. Ingat, bukankah yang maha menentukan rezeki adalah Tuhan, bukan seorang bos ataupun atasanmu.
Mungkin terdengar cukup sok idealis tapi prinsip ini cukup banyak membuktikan peningkatan kemajuan bagi mereka yang berani untuk memilih.
Tapi, bukankah mereka yang sudah cinta akan pekerjaannya pun sering mengalami kendala kebosanan yang serupa?
Benar,, memang mereka akan merasakan kebosanan serupa, karena memang sifat dasar manusia adalah tidak pernah puas. Akan tetapi beruntungnya mereka akan mudah kembali memahami makna dan mendapatkan kembali sebuah esensi karena sedari awal hatinya berada dalam pekerjaan dan pekerjaan berada dalam hatinya.
Maka untuk para insan kamil, mari memahami makna, mari kembali kepada esensi. Agar hidup tak hanya dihabiskan berada dalam titik kejenuhan belaka.