JANGAN PIKIR ENAKNYA!!

JANGAN PIKIR ENAKNYA

Ada hal yang ingin penulis ceritakan tentang cita-cita, Ya.. siapa disini yang belum punya cita-cita? Tentu setiap orang memiliki tujuan hidup masing-masing, kalau tidak? Segeralah mendapatkan cita-cita mu, jika kau hidup hanya sekedar hidup, maka tak ada bedanya kau dengan kapal laut yang lepas mesin terombang-ambing di laut lepas dan hanya mengharap keberuntungan alam, lalu nihilnya tenggelam ke dasar laut, lalu mati. Cari dulu tujuan hidupmu, jangan kalah sama anak kecil yang punya cita-cita menjadi astronaut!!.

Tapi disini penulis tidak akan membahas tentang cita-cita, tapi disini penulis ingin membahas, kesalahan orang dalam menemukan tujuan hidupnya, kesalahan orang dalam menelaah kata pashion, kesalahan orang dalam menelaah kata ingin menjadi ini dan itu.

Coba saya Tanya, bagi kalian para pembaca yang sedang mengejar cita-cita, atau sedang mencari sebuah pashion, atau bagi kalian yang ingin menentukan tujuan hidup. Saya ingin bertanya, apa yang pertama kali kamu bayangkan ketika sebuah cita-cita itu dilayangkan dipikiranmu? Contoh,, jika semisal kamu bercita-cita ingin menjadi Dokter, apa yang kamu bayangkan tentang dirimu jika menjadi seorang dokter? Apakah sebuah kekayaan harta, mengendarai sebuah mobil Ferrari lalu turun di depan rumah sakit besar dengan  memakai jas dokter di lengkapi dengan alat pendeteksi jantung yang di gantung di leher lalu berjalan dengan gagahnya di sebuah koridor rumah sakit dan di gandruingi oleh lirikan mata banyak perawat muda yang cantik-cantik? ATAU kamu membayangkan betapa pusingnya sebuah perjalanan menjadi seorang dokter dengan harus berkuliah 4 tahun atau bahkan lebih yang didalamnya kamu di tembaki secara beruntun tugas-tugas, hafalan, gambaran, praktek, ujian, yang tentu memakan banyak modal, mengeluarkan banyak waktu, dan tenaga serta pikiran. Belum lagi jika berhasil menjajaki predikat dokter. Kamu akan ditumpuki berbagai macam kerjaan pagi siang dan malam sampai harus lembur sampai jam 3 dini hari mengurusi berkas-berkas penyakit yang berserakan di meja kerjamu, pasien yang harus kau pantau setiap hari, itu berarti waktumu bersama dengan keluargamu harus kamu korbankan demi sebuah pekerjaanmu?

Yang mana yang membuatmu lebih tertarik? Cerita pertama atau kedua? Atau kedua-duanya?  Apa yang kamu rasakan sesaat setelah membaca tulisan ini? Apa masih bersemangat? Atau sudah down? Bagaimana? Masih mau menjadi dokter?

Hal ini berlaku untuk semua pekerjaan atau cita-cita yang ada diluar sana. Oke, janganlah mengambil contoh menjadi seorang dokter. Secara umum orang-orang mungkin sadar akan resiko menjadi seorang dokter itu seperti apa. Tapi coba kita ambil jenis pekerjaan yang lain, yang sekarang terlihat santai dan menyenangkan. Yap.. kita ambil sebuah contoh jenis pekerjaan kekinian.

Menjadi seorang youtuber. Kini mungkin banyak pula anak muda yang ingin berprofesi sebagai seorang youtuber. Bagi kamu yang sedang ingin menjadi seorang youtuber atau yang sempat kepikiran untuk menjadi seorang youtuber terkenal dengan subscriber jutaan yang jika  meng-upload 1 buah video saja kamu mendapatkan jutaan viewers dan secara otomatis rekeningmu akan membengkak.

BIG NO, sepertinya harus ada seseorang yang menamparmu dulu.

Jangan kamu pikir menjadi seorang youtuber adalah pekerjaan yang enak pula, kamu pastinya harus berpikir sepanjang hari tentang konten apa yang akan kamu sajikan dimata subscribermu, proses editingnya seperti apa, mengumpulkan subscriber nya bagaimana. Dan seperti apa video yang akan kamu sajikan itu apakah mengundang tepuk tangan netizen atau hanya akan megundang amarah netizen?

Jadi, poin yang ingin penulis sampaikan pada tulisan kali ini, bukannya penulis ingin menakut-nakuti, bukannya penulis ingin memberikan rasa down  kepada hati para pembaca yang sedang merumuskan cita-citanya.

Mungkin beberapa dari pembaca ada yang protes.

“wahh,, kok tulisan kali ini berbeda,,?”

“wahh,, kok tulisan ini berbanding terbalik dengan tulisan sebelumnya?”

“wah,, kok lebih berkesan menakut-nakuti,,?

Tidak.. baiklah, mungkin sekarang penulis harus meluruskan dengan segera tentang poin yang ingin saya sampaikan pada tulisan kali ini.

Disini, penulis tidak bermaksud untuk menakut-nakuti para pembaca. Cuman, yang ingin penulis sampaikan adalah dalam perjalanan menuju kesuksesan, tidak ada yang mulus. Kau akan bertemu dengan segudang halangan dan rintangan di perjalanan yang entah seperti apa beratnya, seperti apa medannya. Yang harus kamu persiapkan adalah, SEBERAPA SIAP KAU TERHADAP PROSESNYA.

Secara umum, banyak orang yang ingin bercita-cita menjadi ini, menjadi itu, tapi pada dasarnya yang ia kejar hanyalah puncak dari cita-cita tersebut, yang ia lihat adalah kondisi luarnya saja. Padahal perlu diketahui apa yang Nampak berkilau diluar, ialah yang sudah menjalani penyiksaan didalam.

Orang-orang terlalu terkesima dengan kebahagiaan, sehingga lupa bahwa definisi dari kebahagiaan adalah sebuah proses rentetan penderitaan. Ini yang perlu menjadi poin pengetahuan bagi mereka yang sedang dalam proses menggapai cita-citanya. Banyak orang gagal dalam meraih cita-cita karena mereka TIDAK SIAP dalam melewati proses penderitaan didalamnya. Orang-orang terlalu gampang memutuskan ingin menjadi ini menjadi itu tapi atas dasar ia hanya ingin bahagianya saja. Sehingga dalam proses perjalanan ia mengeluh, capek, sampai akhirnya putar balik.

Jadi, untuk para pembaca yang sedang dalam mengejar cita-cita. Bersiaplah untuk menderita. Karena sejatinya hidup adalah sebuah rentetan permasalahan yang ketika dinikmati maka akan melahirkan kebahagiaan. Itulah hukum kehidupan. Ketika ingin mengejar sesuatu jangan sekali-kali hanya mencintai hasilnya saja, tapi persiapkan dirimu untuk menjalani prosesnya. Karena proses adalah kumpulan derita, dan hasil adalah puncak bahagia.

CINTAI DERITA, MAKA KAU AKAN BAHAGIA

CINTAI PROSES, MAKA KAU AKAN MENDAPAT HASIL

Terimakasih…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top