HIDUP TAK SEINDAH YANG TERLIHAT
Ada yang perlu penulis sampaikan kepada para pembaca, yang mungkin ini terlihat sepele dan kuno, tentang bagaimana orang-orang memandang kehidupan, tentang bagaimana menentukan standarisasi kehidupan, tentang bagaimana harusnya kita hidup di dunia ini, sampai pada akhirnya tentang bagaimana saya, anda, kita, bisa mengecap apa yang namanya ketenangan hidup.
Sebenarnya, kebanyakan dari kita gampang untuk di bohongi, gampang untuk di tipu, gampang untuk percaya kepada hal-hal yang semestinya tidak real, tidak sama dengan kenyataan yang ada. Mengapa?
Sebagai contoh. Ketika apa yang terlihat di sebuah film drama di TV, kita seolah terhipnotis kita seolah mengira bahwa apa yang di tayangkan di layar TV ialah sebuah kehidupan yang nyata. Buktinya? Kita kerap kali sampai pernah tertawa, menangis, tak terima, dan bahkan teriak-teriak karena ketidakterimaan kita terhadap skenario yang sebenarnya telah dirancang khusus oleh sutradara. Padahal jauh sebelumnya kita tahu bahwa ini hanyalah sebuah adegan. Tapi entah mengapa ia menjadikan kita seolah percaya bahwa apa yang terlihat adalah ia yang benar-benar ada.
Contoh kedua, yang kerap kali merusak mental kita, yang mampu mengubah gaya hidup kita sangat drastis, adalah sosial media.
Di sosial media, orang kerap kali memperlihatkan apa yang menjadi sebuah nuansa istimewah dalam hidupnya. Kalau kata orang-orang, sosial media bukan lagi wadah untuk mencari teman, teman sudah gampang untuk di cari. Kini sosial media adalah ajang untuk memamerkan kehidupan yang Wahh… setiap story dari sebauah akun akan memperlihatkan kondisi atau penampilan terbaiknya. Memakai baju mahal, makan di restoran bintang 5, bahagia dengan sang kekasih, dan masih banyak lagi kebahagiaan-kebahagiaan yang terpamerkan di sosial media. Dan bagi anda para penikmat sosial media, jangan harap karena anda tahu bahwa itu adalah sebuah kepalsuan, bukan berarti anda akan bebas dari yang namanya penyakit membandingkan diri. Insecure. TIDAK!!! Secara otomatis kau akan percaya bahwa apa yang kau lihat adalah hal yang benar-benar nyata dalam hidup. Dan kabar buruknya, ia akan membuat standarisasi dalam hidupmu.
Maksudnya?
Baikk.. perhatikan baik-baik perkataan saya. Apa yang kau lihat, akan secara otomatis memengaruhi pikiranmu untuk membuatmu percaya, dan kepercayaan itu akan mempengaruhi pola hidupmu. Ketika kau melihat seseorang memakai baju mahal, makan di restoran bintang 5 memiliki kehiduan dengan pasangannya dengan sangat romantis dan penuh dengan kebahagiaan, dan hal ini anda melihatnya berulang-ulang kali, dan dengan orang yang berbeda, secara tidak sadar anda akan percaya bahwa “Ya.. beginilah kehidupan yang seharusnya…” sehingga secara tidak sadar pula, standarisasi kehidupanmu mengikuti apa yang terlihat disana. Kau akan memaksakan dirimu memakai baju mahal, makan di restoran mahal, memaksa hubunganmu dengan pasanganmu untuk selalu berjalan mulus tanpa masalah sedikitpun di dalamnya. Inilah yang namanya membandingkan diri. Dan mirisnya anda membandingkan diri anda kepada hal-hal yang sebenarnya adalah fatamorgana. Palsu. Tidak nyata.
Itulah bentuk tipuan yang kerap kali menghampiri kita. Secara tidak otomatis.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Karena begitulah cara kerja pikiran, mampu memberikan respon kepada hal-hal yang terlihat oleh mata dan diteruskan kepada pikiran hingga akhirnya memberikan respon berupa tindakan. Pikiran tidak akan tahu apakah yang masuk di dalamnya nyata atau tidak. Intinya ia hanya akan memberikan respond dan akan menghasilkan sebuah tindakan. Itu saja. dan Ini adalah hukum psikis manusia.
Lalu apa yang harus saya perbuat?
Gampang, meskipun pikiran kita secara otomatis akan percaya dan memberikan tindakan kepada hal-hal yang selalu kita lihat. Itu memang cara kerjanya, akan tetapi. Kabar baiknya. Kita. Bisa mengendalikan pikiran kita. Kita. Bisa menyeleksi mana yang akan di percayai, dan mana yang akan otomatis terpercayai. dengan cara “Menyadari pikiran”.
Yap.. layaknya seorang yang tenggelam dalam mimpi indah tidurnya, kita bisa menyadarkannya dengan cara membangunkannya.
Maka untuk membentengi diri dari pengaruh-pengaruh tipuan fatamorgana kehidupan. “Sadarilah” bahwa, apa yang kau lihat di TV, Sosial Media, dan semua tempat yang “Hanya” memperlihatkan kehidupan yang “Sempurna”. Percayalah Itu hanya sebuah “Settingan”. Itu adalah “Racun” yang ketika kau percayai akan membuat hidupmu kurang bersyukur, stress, tidak mencintai diri sendiri, merasa bodoh, dan berbagai jenis kejelekan lainnya yang membuatmu merasa tak berguna.
“Sadarilah” bahwa hidup itu tidak ada yang baik-baik saja, tidak seperti drama Hollywood yang kau lihat di bioskop. Tidak seromansa film romeo dan Juliet, tidak sebagus FTV percintaan di TV, tidak semahal apa yang selalu teman-teman kamu pamerkan di Sosial Media.
Setiap orang memiliki masalah-masalahnya masing-masing yang tak mungkin ia pamerkan di kehidupan nyata. Percayalah bahwa apa yang kau rasakan dalam hidup, juga dirasakan kebanyakan yang lainnya. Percayalah bahwa seorang yang pebisnis sukses pun memiliki masalah perihal percintaannya. Percayalah bahwa seorang milyarder memiliki masalah pada pertemanannya.
Yang perlu anda catat adalah. Dalam sebuah buku yang berjudul “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, karya Mark Manson” yang menjadi best seller, disana mengatakan bahwa “Agar bisa benar-benar luar biasa pada suatu hal, Anda harus mendedikasikan waktu dan energy yang sedemikian besar terhadapnya, dank arena kita semua memiliki waktu dan enerti yang terbatas, hanya sedikit diantara kita yang bisa menjadi istimewa di lebih dari satu bidang”. Begitulah Kodrat kehidupan
Jadi, jangan pernah patah semangat jika merasa hidupmu lebih dangkal dari orang lain, percayalah bahwa setiap manusia dilahirkan memiliki kelebihan berbeda.