STANDARISASI KEHIDUPAN

STANDARISASI KEHIDUPAN

Saya ingin sedikit berbagi (lagi) perihal bagaimana tips mengatasi Insecure. Perlu disadari bahwa kebanyakan dari diri menganggap salah kepada mereka (orang-orang) yang “Hobi” memamerkan apa yang mereka punya entah itu di media sosial, maupun di kehidupan nyata. Kebanyakan pula dari diri akan secara automatis memberikan respon setidaknya 2 hal dikala melihat orang-orang yang terlihat “Lebih” dibandingkan dirinya. Pertama, merasa Payah dan tidak berguna kepada diri sendiri, atau Kedua, merasa menyalahkan dan menghakimi mereka terhadap apa yang mereka lakukan. Padahal, belum tentu mereka yang terlihat mengenakan pakaian yang mahal pasti berniat ingin memamerkan apa yang ia punya, belum tentu orang yang pergi ke restoran mahal hendak berkata bahwa dirinya lebih baik daripada dirimu, belum tentu orang yang memotret aktivitas tahajjudnya dikala malam ingin menyampaikan bahwa dirinya lebih alim dibandingkan dirimu, belum tentu.

Kemudian, setelah semuanya dibiarkan begitu saja, saya ingin bertanya kepada dirimu yang terus menerus memberikan respon yang negatif kepada mereka yang belum tentu negatif. Apa yang kau rasakan? Bahagia atau tidak?

Saya berani menjamin, bahwa jika yang kau keluarkan kepada dunia negatif, sudah pasti apa yang terjadi pada dirimu adalah negative jua, ini mutlak karena ini adalah hukum alam, kalau tidak percaya silahkan lakukan dan buktikan sendiri.

Saya ingin memberikan pertanyaan dan jawaban atas permasalahan yang kebanyakan orang rasakan. Pertama, mengapa? mengapa sih dirimu selalu memberikan respon yang negatif kepada mereka yang “Terlihat” lebih baik dibandingkan dirimu yang sekarang. Jawabannya adalah karena kamu “Ingin” menjadiseperti mereka, dirimu selalu merasa bahwa “Untuk menjadi manusia, saya harus sama dengan mereka. Kalau tidak, saya akan dibuang”. Dirimu ingin menjadi mereka, tapi karena keadaan dirimu yang sekarang mungkin sulit untuk menjadi mereka, makanya kamu menyalahkan mereka, merasa payah dengan diri sendiri, dan masih banyak lagi kata-kata yang mungkin kamu lontarkan selanjutnya. Pertanyaan kedua, Apa? Apa yang menyebabkan dirimu “Ingin” menjadi seperti mereka. Jawabannya adalah karena kamu membuat standarisasi kehidupan yang sama dengan orang-orang yang kamu lihat sukses.

Membuat standarisasi kehidupan yang sama dengan orang-orang di sekitar yang terlihat bahagia, malah akan membuat diri menjauh dari kata bahagia. Mengapa? Karena bukannya sibuk menyusun tangga untuk mencapai puncak kebahagiaan, kamu malah sibuk mengurusi rumput tetangga yang terlihat jauh lebih hijau dibandingkan rumput sendiri. kamu lebih sibuk membandingkan dirimu dengan kesuksesan dan kebahagiaan orang lain. Padahal definisi sukses dan bahagia dari setiap orang berbeda. Manusia diciptakan dengan lika-liku kehidupannya sendiri, manusia itu unik dengan dirinya sendiri. Jadi akan mustahil membentuk kebahagiaan dengan mengikuti standarisasi kebahagiaan hidup orang lain.

Lantas, bagaimana harusnya diri agar tak sibuk mengomentari dan membanjiri diri dengan sebutan kepayahan lagi? Bagimana harusnya diri agar tak sibuk menghakimi mereka yang memperlihatkan kebahagiannya, entah naitnya baik atau tidak? Caranya adalah dengan membuat standarisasi kehidupan sendiri. pertanyakan kembali kepada diri, “Mengapa saya harus seperti mereka? Memangnya ada apa jikalau saya tidak mengikuti gaya hidup mereka? Apakah saya mati? Ah,, betulkah saya akan kehilangan banyak teman jika tak mengikuti mereka? Apakah mereka benar-benar merasakan bahagia layaknya pemikiran saya? Ah itu kan hanya persepsi saya sendiri.” begitu seterusnya, tanyakan kepada diri, sadarkan diri, gali lagi lebih dalam pertanyaan-pertanyaan yang serupa, sampai akhirnya kamu sadar bahwa, dirimu adalah dirimu, dirimu tak akan bisa seperti mereka, kamu punya jalan hidupmu sendiri, TITIK!

Jikalau selesai, jikalau telah sadar, tentukan mau bagaimana hidupmu, hidupmu, suksesmu dan bahagiamu, terletak pada dirimu sendiri. bukan kepada tangan orang lain, jangan biarkan dirimu fokus memperhatikan rumput tetangga, sampai akhirnya rumput di halamanmu dipenuhi semak belukar, hias sendiri rumput halaman mu sebagaimana yang kau maui, bukan sebagaimana dekorasi punya orang lain. Karena yang menikmati adalah kamu. Maka kamulah yang harus membuat.

Itulah membuat standarisasi kehidupan sendiri.

1 komentar untuk “STANDARISASI KEHIDUPAN”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top