BERSINAR SEBELUM TERBENAM
Hidup, adalah sebuah siklus dimana beruntung tidaknya adalah ditentukan oleh diri kita sendiri, adalah Tuhan sang pencipta yang telah menciptakan manusia sebagai makhluk dengan predikat puncak ciptaan yang telah dikaruniai oleh-Nya sebuah akal, pikiran, nafsu, tindakan, dan kebebasan untuk menentukan jalurnya sendiri selama hidup.
Benar adanya bahwa kita dilahirkan didunia dalam kondisi yang berbeda-beda, ada yang terlahir dengan fisik yang sempurna, ada yang terlahir dalam fisik yang kurang, ada yang terlahir dalam kondisi ekonomi yang sulit, ada yang terlahir dalam kondisi ekonomi yang sangat berkecukupan.
Namun, itu semua hanyalah kondisi yang kebetulan saja, selebihnya yang menentukan arah langkah kita, goresan pena dalam buku catatan kehidupan kita adalah hanya diri kita sendiri. Layaknya kompetisi balap motor, ada yang posisinya paling depan, ada pula yang posisinya paling belakang, akan tetapi itu tidak menjadi masalah, karena sejatinya yang menentukan bukan permulaan start nya melainkan bagaimana proses balapan itu akan terjadi, apakah akan terjadi kecelakaan, dan sebagainya itu semua bergantung dengan pengendaranya.
Jadi, bukan salah diri ketika terlahir dalam kondisi terpuruk, akan tetapi salah diri jika hidup berjalan terus dalam keadaan terpuruk.
Dalam sebuah firmanNya pun berkata : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum melainkan diri mereka sendiri yang merubahnya” sangat jelas.
Hidup layaknya sebuah siklus hari dan kita sebagai mataharinya, ketika pagi menyingsing, matahari mulai terbit, ia akan dihadapkan dengan beberapa kondisi, ada yang sinarnya tertutup oleh awan mendung, tapi sebagian ada pula yang sinarnya membentang ke alam dan membuat suasana indah, namun tak apa, tak apa tertutup oleh awan mendung, toh kita adalah matahari yang bertugas untuk tetap bersinar, masalah awan mendung adalah masalah luar, ia akan pergi pada waktunya, dan sinar yang lain pun juga akan merasakan awan mendung itu, yang terpenting tugas kita adalah satu, yaitu tetap bersinar sampai tiba waktu untuk tenggelam.
Bersinar, adalah arti dari kata memberikan semua kemampuan yang kita miliki dalam hidup, melakukan hal-hal yang memiliki manfaat bukan hanya untuk diri melainkan untuk kepada sesama makhluk- termasuk hewan dan tumbuhan-
Mungkin teman-teman atau para pembaca pernah mendengar kisah haru seorang motivator dunia yang sangat sangat terkenal, ialah yang bernama Nicholas James Vujicic yang akrab dengan sapaan Nick, motivator terhebat dunia yang terlahir cacat tanpa tangan dan kaki, akan tetapi dalam hidupnya ia mencoba untuk tetap mensyukuri keadaan dan tetap ingin bersinar memberikan manfaat bagi sesamanya walaupun jelas ia terlahir dalam kondisi yang memprihatinkan. Mungkin banyak orang yang menyangka bahwa hidupnya tidak akan bertahan lama, dan benar saja, disaat usianya menginjak umur 8 tahun, ia mencoba ingin bunuh diri, akan tetapi ia kemudian tersadar akan hadirnya di dunia ini sungguh sangat disayangkan jika diakhiri sebegitu saja, ada banyak hal yang bisa dilakukan meskipun dalam kondisi yang memprihatinkan, kuncinya adalah tetap bersyukur dan tetap bersinar.
Kita adalah matahari, yang memegang kendali atas rantai hidup di dunia ini, seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa Tuhan menciptakan kita sebagai puncak ciptaan yang dalam arti kita ditugaskan untuk memimpin jalannya kehidupan, kita ditugaskan untuk memakmurkan isi dari dunia ini, jika sinar kita redup, maka punahlah isi dunia ini, tapi jika kita tetap bersinar,maka makmurlah dunia ini, semua akan berjalan dengan baik.
Bersinarlah selagi masih berada di ambang langit, sebelum akhirnya tiba masa kita terbenam. Itulah tugas kita sebagai manusia, sebagai puncak ciptaan, dan sebagai matahari dalam kehidupan.