Filsuf, mungkin sebagian orang paham dan sebagian tidak. Tapi bagaimana dengan kata Filsafat? Nah mungkin bagi para pembaca sudah tak asing lagi dengan kata filsafat, yang mungkin bagi sebagian orang yang “agak tau” itu adalah pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran tinggi, orang-orang yang radikal. Namun apabila digeserkan kembali pertanyaan tentang apa itu filsafat kepada orang-orang diantaranya mungkin berkata :
“Ah,, itu pelajaran yang membuang-buang waktu saja…”
“Ah.. itu cukup rumit, aku pernah mendengarnya tapi tidak bisa masuk ke otakku”
“Ah.. saya pikir itu adalah pelajaran bagi orang-orang gila, mereka hanya kurang kerjaan, makanya pikirannya aneh.. masa apa apa di logikakan”
“Ah.. aku malas dengan perkumpulan orang-orang aneh itu, tak usah lagi kau membahasnya, lebih baik bantu aku habisi makanan ini”
Dst..
Sebenarnya, tak ada yang patut disalahkan bagi mereka yang “belum paham” dengan kata filsafat, yang mesti dilakukan adalah bagaimana kita yang “Paham” akan filsafat itu memberikan sedikit pengenalan tentang apa filsafat itu sebenarnya dan apa pentingnya filsafat bagi kehidupan. Mereka yang “Menolak” mengenal filsafat adalah mereka yang salah sangka, disesatkan, atau mungkin mendengar doktrin keburukan dari mereka yang tak paham juga filsfat itu sesungguhnya seperti apa.
Sekarang, mari kita sama-sama mengerti tentang apa filsafat itu dan apa pentingnya bagi kehidupan manusia.
Filsafat berasal dari kata Philosophia yang dibagi dari dua kata yakni “Philien” yang berarti “Cinta” dan “Shopia” yang berarti “Kebijaksanaan”, jadi arti dari katanya adalah Cinta akan Kebijaksanaan, jikalau penulis tafsirkan, filsafat adalah sebuah ilmu tentang upaya seorang manusia untuk menemukan inti, akar, dan hakikat dari segala sesuatu atas dasar kecintaannya terhadap sesuatu itu dengan bijak atau benar. Jadi orang yang berfilsafat adalah orang yang ingin menelusuri sesuatu itu sampai ke realitas akhirnya. Namun, banyak yang mengartikan filsafat adalah proses berpikir secara radikal. Tapi, pada dasarnya memang begitu, Cuma karena budaya kita lah yang terlalu menganggap radikal itu sesuatu yang jahat, jadi orang-orang awam akan menanggap bahwa berfilsafat sama artinya mengikuti paham radikal, padahal jika dilihat dari KBBI, kata radikal berarti mendasar. So? Apa salahnya dengan kata radikal?.
“Lalu, apa pentingnya mempelajari filsafat itu, bukankah hakikat atau akar kebenaran dari segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah relatif? Tergantung dari sudut pandang seseorang,? ahh sudahlah.. membuang waktu saja.” Katamu…
Ya.. memang hakikat kebenaran akan sesuatu yang ada di dunia adalah relatif, tergantung sudut pandang masing-masing, akan tetapi kembali lagi bahwa, filsafat adalah “Upaya” seseorang untuk menelusuri akan hakikat sesuatu. Jadi tentu ketika kita berupaya maka kita akan semakin tahu, semakin kritis, dan semakin memahami dengan berdialog dan memberikan asumsi-asumsi terkait dengan kenyataan yang ada dari pengalaman masing-masing, nah hal inilah yang membuat kita menjadi tidak gampang percaya, tidak gampang terlena akan tipuan-tipuan, yang membuat diri kita menjadi seorang yang kritis. Dan tentu menjadi seorang yang kritis adalah dambaan seseorang, maka jalan untuk menjadi kritis adalah berfilsafat. Itulah pentingnya!
Nah,, poin yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini adalah, dengan berfilsafat berarti kita menjadi seorang kritis yang banyak ingin tahu, banyak tanya, dan tidak menerima kenyataan dari sesuatu dengan begitu saja. Akan tetapi, tahukah anda bahwa sebenarnya kita semua “Seluruh Manusia” pernah menjadi seorang filsuf atau orang yang berfilsafat. Benarkah demikian? Ya.. Kapan? Semasa kita masih anak-anak.
Tentu, ketika melihat seorang anak kecil yang baru saja pintar berbicara, tentunya akan menjadi anak yang sangat amat banyak tanya, pun kepada hal-hal yang menurut kita pertayaan yang sangat amat tidak penting dan membuang waktu untuk menjawabnya, sehingga membuat orang tua atau kita sendiri menjadi agak kesal lantaran pertanyaan-pertanyaan anak kecil tadi. Lalu kemudian memarahi anak tersebut. Nah, inilah kesalahan kita, inilah kesalahan cara mendidik anak-anak. Rasa ingin tahu anak seakan dimatikan semasa kecilnya, sehingga apa? Membuat anak itu tumbuh menjadi seorang yang takut untuk mengetahui sesuatu. Padahal, walaupun bagi kita pertanyaan tersebut tidak penting (karena sikap bodo amat), akan tetapi bagi anak itu dan bagi mental baiknya, amat sangat penting, dan memang seharusnya pertanyaan sepele tersebut memang amat sangat penting bagi orang dewasa pula. Orang dewasa sangat egois dan merasa dirinya harus menguasai sang anak. Jadinya? Hilanglah sikap kritis anak, dan hilanglahh cara berfilsafat kita.
Ini juga berarti bahwa berfilsafat atau menanyakan hal-hal yang “dirasa” tidak penting-padahal sebenarnya sangat penting- adalah bagian dari diri kita sejak lahir, dan pada mulanya kita semua dibekali dengan bakat seorang filsuf dari sang pencipta. Akan tetapi karena budaya yang “Salah” membuat bakat itu perlahan terkikis, terkikis, lalu hilang.
Sekarang, mungkin para pembaca kiranya sudah agak tersadar, betapa pentingnya berfilsafat itu dan semoga dengan tulisan saya kali ini, dapat memberikan manfaat besar bagi para pembaca. Intinya, janganlah takut untuk berfilsafat karena sejatinya sedari lahir kita sudah berfilsafat, jika bakat itu hilang, kita bisa kembali menumbuhkannya dengan pertama-tama mencintai filsafat itu dan tidak menolaknya. Untuk para pembaca yang belum mengenal filsafat cobalah untuk mencari buku-buku tentang pengantar filsafat atau baca buku “Dunia Shopie” untuk mengenal filsafat dengan gaya novel yang ringan.
Halo, senang bisa (gak sengaja) menemukan blog ini dan tulisan2 menarik di dalamnya. Very nicely-written indeed 🙂 salam kenal dari follower baru!
halo kak,, terimakasih telah mampir di blog saya.. semoga tetap produktif. salam kenal juga