Ketika berbicara soal alam, apa yang terlintas di benak pembaca? Sebuah hamparan luas yang berisi langit dan awan? Sebuah hamparan hutan tropis yang menghalangi sinar matahari untuk masuk? Atau sekumpulan makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan? Apapun definisi anda tentang alam semuanya benar, akan tetapi yang terpenting disini adalah bagaimana kita belajar dari alam.
“Mengapa harus belajar pada alam?” tanyamu…
Bisa di bilang bahwa, alam itu adalah sebuah kesatuan keteraturan yang bersifat mutlak yang telah disusun oleh Tuhan untuk kemudian manusia mengambil hikmah yang ada di dalamnya.
Ya,, bukan hanya seorang guru di kelas, atau pengalaman yang membuat manusia belajar tentang apa arti hidup, melainkan bisa juga dari alam. Justru pada mulanya, sebelum adanya seorang guru di kelas, sebelum terbentuknya pengalaman manusia, alam lah yang menyumbangkan sebagian besar ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia.
Coba kita ingat-ingat pelajaran sejarah semasa sekolah, bukankah pada mulanya manusia banyak berguru pada hukum-hukum alam yang mutlak? Bukankah dahulu manusia prasejarah bertahan hidup dengan cara berburu karena melihat bagaimana cara si hewan berburu mangsa untuk makan dan bertahan hidup?
Bukankah dahulu manusia prasejarah mengerti bercocok tanam karena melihat tumbuhan itu muncul dari tanah karena sebuah biji/benih? Ya.. semua pada mulanya belajar dari alam.
Dalam ajaran Agama Islam juga diperintahkan kepada manusia sekalian untuk mencari, menemukan, mempelajari, dan meneliti apa-apa saja yang terdapat pada alam untuk kepentingan keberlangsungan hidup, bahkan untuk mengetahui kuasa Tuhan manusia diperintahkan untuk belajar dari alam.
Diantara bukti bahwa manusia di tuntut untuk mempelajari alam sesuai dalam firmanNya yakni:
“Katakanlah, ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. 10: 101)
Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 31: 29)
“dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya.” (QS. 16: 12)
“Jika pada awalnya manusia belajar dari alam, lantas mengapa sekarang harus ada seorang guru? Bukankah mendingan tak usah sekolah saja? Biar kita belajar dari alam saja”. Tuturmu..
Bisa juga, tidak ada perintah untuk bersekolah, tidak ada perintah untuk setiap hari ke sekolah berbaju formal untuk mengikuti proses belajar mengajar selama 8 jam dan disusul dengan tugas rumah. Tidak ada.
Kita hanya senantiasa diperintahkan untuk mencari ilmu darimanapun ia berasal. Akan tetapi karena keterbatasan umur manusia, keterbatasan jangkauan manusia, keterbatasan kesempatan manusia, maka manusia melakukan suatu “Upaya” tentang bagaimana cara agar ilmu bisa lebih banyak dan lebih mudah untuk didapatkan.
Contoh mudahnya begini, si manusia A dan manusia B, hidup di lingkungan A dan lingkungan B, tentu memiliki pengalaman berbeda, tentu melihat alam berbeda, dan mengambil pelajaran dari pengalamannya terhadap alam itu berbeda, dan ia memperoleh ilmu berbeda pula, mungkin si A di lingkungannya mendapatkan ilmu tentang bagaimana proses hujan itu turun, apa tanda-tandanya dan bagaimana setelahnya. Sedangkan si B dilingkungannya mendapatkan ilmu tentang bagaimana cara sebuah pohon menyerap kandungan air.
Nah jika dilihat, si A dan si B mendapatkan pengalaman dan ilmu yang beda, lantas timbul satu permasalahan, bagaimana cara agar ilmu dari pengalaman A dan B ii dapat diketahui oleh banyak orang? Maka dibuatlah wadah penampungan berupa tulisan dan dibukukan.
Nah dibuku inilah kemudian dipelajari, di kaji, di diskusikan dan dibuktikan kembali kepada orang lain tentang kebenarannya, ketika setelah diuji benar dan dapat diterima, maka bisalah ia diajarkan kepada orang lainnya.
Lantas timbul lagi suatu permasalahan, bagaimana kemudian buku ini, ilmu ini, bisa dipelajari secara serentak? Maka dibuatlah sebuah perkumpulan yang sekarang dikenal sebagai lembaga pendidikan formal atau sekolah, dimana orang-orang dikumpulkan dan diberikan pengajaran serta diskusi. Disitulah proses pembelajaran terjadi.
Pada intinya, meskipun sekarang sudah ada seorang pengajar yaitu guru, tidak berarti bahwa alam sudah tak lagi dijadikan sebagai proses pembelajaran hidup, karena secara hakikat, alam adalah guru besar manusia tanpa predikat, yang terus menerus berubah sesuai perkembangan zaman.
Jadi jangan berhenti belajar dari alam, karena ilmu itu terus menerus berubah mengikuti kehendak alam, bisa jadi apa yang kau pelajari kemarin di sekolah, dapat berubah sekarang karena sudah tak cocok lagi dengan proses kerja alam. Bukan berarti karena tidak mutlak kita jadi berhenti belajar. Tidak. Karena tanpa ilmu manusia tidak akan bisa bertahan hidup. Jadi teruslah belajar dan belajar sampai detak jantung terakhir terhenti.
Intinya, belajar, belajar, dan belajar.