SOCRATES MASA KINI (MENJADI PELAJAR YANG BIJAK)

Layaknya perut yang butuh makanan, otak juga butuh makanan untuk tetap aktif dan bekerja, layaknya sebuah pisau dan batuh asah, otak juga perlu di asah dengan ilmu untuk tetap tajam dan kritis. Manusia yang ilmunya sedikit bukan hanya berdampak bahaya bagi diri sendiri, akan tetapi berdampak jua bagi suatu negri. Sebaliknya, manusia yang kaya akan ilmunya maka bukan hanya menjadi penolong bagi diri sendiri, melainkan ia akan menjadi penolong bagi suatu negeri dalam membangun peradaban.

Akan tetapi siapa sebenarnya pelajar itu? seperti apakah dia? Bagaimana ciri-cirinya?

Jikalau seorang penulis adalah ia yang selalu membuat tulisan, jikalau seorang youtuber adalah ia yang selalu membuat konten youtube, jikalau seorang pekerja adalah ia yang selalu bekerja, maka seorang pelajar adalah ia yang selalu belajar dan terus belajar dibarengi mengajar.

Semua manusia adalah pelajar, karena dalam hidup, tentu manusia selalu mengalami proses pembelajaran hidup baik melalui lembaga formal, maupun dari pengalaman. Akan tetapi jika semua orang adalah pelajar, ia belum tentu dikatakan seorang pelajar sejati, belum tentu disebut pelajar yang bijak. Ada sesuatu yang membedakan seorang pelajar biasa dengan pelajar yang bijak.

“Lantas, apa yang membedakan pelajar biasa dengan pelajar yang bijak? Seperti apakah ia? Apakah diriku termasuk pelajar yang bijak?” tanyamu…

Jika dilakukan persentase sebesar apakah pelajar sejati itu, mungkin sekarang sudah terbilang cukup langka, seorang pelajar biasa adalah ia yang ketika mempelajari sesuatu, ia sudah cukup puas dengannya, sedangkan seorang pelajar yang bijak adalah ketika ia mempelajari sesuatu, ia akan merasa semakin tidak tahu.

Lho, mengapa bisa?

Disinilah letak perbedaannya, seorang pelajar biasa adalah ia yang selalu merasa puas jika telah disuapkan sebuah ilmu dari sang pengajar, karena berkat rasa puas akan sesuatu tersebut, ia akan merasa cukup, rasa cukup yang ia rasakan akan menjelma menjadi sok pintar, sampai tiba pada titik dimana ia akan menjadi pengajar yang enggan untuk belajar karena sudah merasa cukup tahu akan segalanya.

Nahh, berbeda dengan yang tadi. Seorang pelajar yang bijak akan selalu merasa tidak puas dengan apa yang telah diterimanya, ia akan bersikap kritis terhadap apa yang ia terima, baik itu ilmu, informasi dll. Karena sikapnya yang terus menerus bersikap tidak puas dan kritis, ia akan tiba pada sebuah titik dimana ia merasa gelisah terhadap dirinya sendiri, kegelisahan itulah nantinya akan membuatnya terus merasa bodoh, dan rasa bodoh itulah yang menyebabkan ia akan terus menerus belajar tanpa paksaan. Orang-orang inilah sebenarnya yang pantas untuk menjadi pengajar, seorang pengajar yang terlahir dari pelajar yang bijak adalah ia yang metode pembelajarannya bukan semerta-merta untuk menggurui, akan tetapi ia akan mengajak untuk berdiskusi dan bertukar ilmu.

Dalam buku novel “Dunia Shopie” disana digambarkan seorang pelajar yang sesungguhnnya bernama “Socrates”, socrates adalah orang langka yang menganggap dirinya selalu tidak tahu. Prinsip yang ia pegang adalah ia tidak tahu segalanya, karenanya,  ia akan terus dan terus bertanya pada segala hal dan terus belajar. Karena rasa ingin tahunya yang sangat tinggi, ia dikatakan sebagai seorang filosof sejati kala itu. Bukan ia yang mengaku diri sebagai seorang filosof.

Inilah yang sulit didapatkan di zaman ini, sangat banyak orang yang merasa tahu akan segalanya sampai ia menjelma sebagai seorang pengajar yang “menggurui” dengan memaksakan apa yang diketahuinya “harus” dipahami dan diterima oleh sang pelajar, dan begitu pula kepada sang pelajar akan menerimanya begitu saja dan “puas”.

Bahayanya seorang yang merasa tahu akan segalanya, ia akan bertindak egois dan merasa paling benar sehingga ketika terjadi sebuah permasalahan maka ia akan bersikeras untuk memaksakan pendapatnya benar dan harus diikuti. Beruntung jika lawan bicaranya adalah seorang pelajar yang bijak, mungkin ia akan sedikit disadarkan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis dan menyebalkan, akan tetapi bagaimana jika lawan bicaranya adalah seorang pelajar yang “sok tahu” juga, mungkin akan terjadi adu jotos. Dan lebih bahanya lagi, bagaimana jika seorang pelajar yang sok tahu itu adalah sebuah pemimpin? Wahh,, sudah pasti ia akan menjelma menjadi pemimpin yang otoriter dengan dalih demokrasi.

Maka dari itu, janganlah menjadi seorang pelajar yang merasa cukup. Jadilah seorang “socrates” masa kini, yang terus menerus merasa tidak tahu, belajar dan terus bertanya. Karena sejatinya sebuah kebenaran ilmu terletak pada kedalaman kita dalam menyelami segala sesuatu. Tidak masalah jika menjadi seorang yang skeptis. Bukankah sikap skeptis akan melahirkan jiwa kritis? Itulah yang menjadi penolong bagi ilmu yang bisa saja dijadikan sebagai alat penipuan. Kritis dan mempertanyakan segala sesuatu.

Jadi, siapkah anda menjadi seorang “socrates” masa kini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top