Disetiap kehidupan ada sejarah, disetiap sejarah ada kisah, disetiap kisah ada peristiwa dan disetiap peristiwa ada pembelajaran. Setiap manusia hidup didunia pasti telah membuat catatan sejarah masing-masing dalam hidupnya, dan itu berarti bahwa setiap manusia memiliki pembelajaran tersendiri untuk dirinya. Itulah mengapa sebuah pepatah pernah berkata “Pengalaman adalah guru terbaik”.
Akan tetapi sangat disayangkan jika hanya mengambil pembelajaran dari pengalaman diri, karena kita semua tahu diri memiliki batas tersendiri. Demi untuk meraup banyak pembelajaran hidup yang banyak tentu tak bisa mengandalkan pengalaman diri saja. Karena ada milyaran orang pernah hidup dengan berbagai kisah yang berbeda itu berarti ada sangat berlimpah hikmah yang bisa di ambil sebagai pembelajaran dalam tiap insan.
Sayangnya, karena keterbatasan pula, tak semua pembelajaran bisa kita tampung. Pasalnya, sebagian besar manusia tidak sadar akan pentingnya mengabadikan sebuah perjalanan hidup, karena tidak semua paham tentang arti kata hikmah dalam setiap peristiwa. Sudah tentu meskipun pengalaman adalah guru terbaik, bukan berarti setiap pengalaman memberikan pembelajaran yang terbaik. Meski banyak yang mengabadikan catatan sejarah hidupnya, kita harus memilah yang mana paling sesuai dengan diri kita, yang mana yang membuat hati kita tergugah. Untungnya, banyak para tokoh-tokoh yang paling berpengaruh di dunia yang menuliskan catatan perjalanan hidupnya dan bisa kita ambil sebagai buah pembelajaran dalam hidup.
Adalah Steve jobs, seorang tokoh besar berpengaruh dalam bidang teknologi, ia adalah seorang penemu perusahaan Apple, yang dulunya merintis perusahaannya mulai dari nol yang ditemani dengan seorang temannya. Sangat menarik jika kita ingin menelaah kisah hidupnya, ada banyak pembelajaran yang dapat dijadikan sebuah inspirasi pembelajaran hidup dari orang yang dulunya seorang putus sekolah ini.
Pernah pada suatu peristiwa ia menceritakan 3 kisah hidupnya yang berpengaruh atas kesuksesannya saat ini.
Berikut kisahnya. :
Kisah pertama tentang MENGHUBUNGKAN TITIK-TITIK
Ia pernah berkuliah di Reed College, dan memutuskan berhenti setelah 6 bulan, dan kembali selama 18 bulan atau lebih sampai ia benar-benar berhenti kuliah.
Mengapa?
Berawal dari ia dilahirkan dari seorang wanita mudah, tidak menikah dan lulusan akademi. Ia diputuskan untuk diadopsi oleh seorang sarjana sehingga segalanya sudah dipersiapkan. Ia rencana akan diadopsi oleh seorang pengacara. Akan tetapi setelah ibunya tahu bahwa yang ingin mengadopsi steve jobs ternyata bukan seorang pengacara, bahkan ibu angkatnya tidak lulus kuliah dan ayah angkatnya tidak lulus SMA, sehingga ibu kandungnya menolak untuk mengadopsinya sampai akhirnya menyetujuinya beberapa bulan kemudian setelah berjanji akan menguliahkannya.
17 tahun berlalu, ia akhirnya masuk di akademi, atas janji orangtuanya ia menghabiskan seluruh tabungan untuk membayar uang kuliah steve jobs pada waktu itu. Lalu setelah 6 bulan, stevejobs berpikir bahwa ia tak tahu apa yang diinginkan dalam hidup dan akademinya pun tak membantu soal itu. Jadi ia pun memutuskan berhenti dan yakin bahwa segalanya akan baik-baik saja. Akan tetapi meski dinyatakan dropout dari kuliah, ia tidak berhenti belajar, ia memasuki kelas yang ia senangi, ia bahkan pernah memasuki kelas kaligrafi yang kemudian menjadi pengaruh besar dalam berdirinya Apple.
Setelah 10 tahun kemudian, ketika merancang desain pertama computer Macintosh, harapan itu ada, dan ia merancang computer mac pertama dengan tipografi yang indah. Ia berpikir, jika seandanya ia tidak memutuskan untuk berhenti kuliah, ia tidak mungkin mengikuti kelas kaligrafi, dan personal computer yang ia buat tidak akan memiliki tipografi yang indah.
Ia percaya akan suara hati, intuisi, takdir, keberanian, karma, atau apapun dan menyebut ini sebagai TITIK TITIK. Ia percaya bahwa TITIK TITIK kehidupan yang ia lalui sekarang akan terhubung ke masa depan. Ia berkata “Tidak mungkin bisa menghubungkan titik-titik dengan memandang kedepan; anda hanya bisa menghubungkannya jika mengingatnya kembali. Jadi anda harus percaya kalau titik titik itu akan terhubung dimasa depan entah bagaimana caranya”.
Percaya akan TITIK-TITIK akan terhubung dikemudian harilah yang membuatnya begitu percaya diri akan setiap keputusan yang ia ambil.
Kisah kedua tentang CINTA DAN KEHILANGAN
Ia berpikir sangat beruntung, karena telah menemukan apa yang ia cintau dalam hidup sewaktu masih muda. Woz (rekan pendiri Apple) dan ia memulai perusahaan Apple di garasi orangtuanya pada saat usia 20 tahun. Mereka bekerja keras dan dalam kurun waktu 10 tahun Apple sudah berkembang sampai akhirnya menjadi perusahaan senilai $ 2 Milyar dengan 4000 karyawan. Ketika berusia 30 tahun steve jobs dipecat dari pekerjaannya sendiri. Pasalnya, ia mempekerjakan seseorang yang dirasa sangat berbakat untuk menjalankan perusahaan bersama selama setahun pertama dan berikutnya sampai segalanya berjalan dengan baik. Tapi kemudian visi mereka tentang masa depan berbeda dan bahkan tidak cocok. Dewan direksi berlain pihak dengan Steve Jobs sampai akhirnya Steve jobs dipecat diusia 30 tahun dan keluar dari perusahaan.
Hal ini membuat steve jobs menjadi merasa gagal dan ingin kabur dari permasalahan. Ia stress selama beberapa bulan dan tidak tahu ingin berbuat apa. Tetapi beberapa bulan kemudian Ia sadar – Ia masih mencintai apa yang ia lakukan, menurutnya, kejadian di Apple tidak merubah apapun. Ia pernah ditolak, tapi ia tetap cinta dengan apa yang ia lakukan dan memutuskan untuk memulai dari awal.
Lalu selama 5 tahun setelahnya, ia mulai menjalankan perusahaan bernama NeXT dan Pixar, kemudian bertemu dan jatuh cinta dengan seorang wanita yang sekarang menjadi isitrinya, Pixar menjadi studio animasi paling sukses di dunia, dan NeXT dibeli oleh Apple dan Steve Jobs kembali ke Apple.
Ia kembali percaya dengan TITIK-TITIK itu, seandainya ia tidak dipecat, ia pasti tidak mendirikan NeXT dan Pixar dan bertemu dengan kekasih hatinya.
Steve Jobs berpesan bahwa, “ Terkadang hidup mengejutkanmu. Jangan pernah kehilangan kepercayaan. Aku Yakin hal yang terus membuatku maju adalah aku mencintai apa yang kulakukan. Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai, baik untuk pekerjaanmu maupun pasanganmu. Pekerjaanmu akan mengisi bagian besar dalam hidupmu, dan satu-satunya cara mencapai kepuasan hidup adalah percaya bahwa apa yang kamu lakukan adalah karya besar, dan satu-satunya cara untuk melakukan karya besar adalah mencintai apa yang kau lakukan. Jika kau masih belum menemukannya, tetaplah mencari. Jangan pernah diam disatu tempat. Begitu kata hatimu berbicara, kau akan tahu betapa kau telah menemukannya. Dan, seperti hubungan yang luar biasa, segalanya akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi seiring waktu berjalan. Tetaplah mencari sampai kau menemukannya. Jangan pernah berhenti.”
Kisah ketiga tentang KEMATIAN
Berawal dari usianya 17 tahun, ia membaca sebuah ungkapan “Jika kau menjalani harimu seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, kau mungkin benar suatu hari”. Sebuah ungkapan yang banyak mengubah hidupnya. Ia selalu tiap pagi berkaca dan bertanya pada diri sendiri “Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup, apakah aku mau melakukan apa yang aku lakukan hari ini?” jika jawabannya adalah “Tidak” ia akan merubah hal itu
Mengingat bahwa kita semua akan mati adalah hal yang paling penting untuk membantu dalam mengambil keputusan besar dalam hidup.
Steve jobs berkata :
“Waktu kalian terbatas, jadi jangan menyia-nyiakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terjebak oleh dogma (hidup dalam hasil pikiran orang lain). Jangan biarkan pendapat orang lain menenggelamkan kata hatimu. Dan hal yang paling penting adalah memiliki keberanian untuk mengikuti kata hatimu dan intuisimu. Entah bagaimana mereka sudah mengetahui apa yang kau inginkan. Yang lain menjadi kurang penting.”
Itulah 3 kisah inspiratif dari seorang pendiri perusahaan Apple. Yang dapat kita tarik dan jadikan pembelajaran kehidupan.
Percaya akan titik-titik kehidupan. Percaya akan kekuatan cinta. Percaya akan kematian.