Menghadapi orang egois

Tak dapat dipungkiri, dalam dunia pertemanan kita sering kali dihadapkan oleh orang-orang yang berkelakuan egois, mau tidak mau, suka tidak suka, tipe orang seperti itu memang selalu ada dan hadir dikehidupan kita, bahkan diri sendiripun terkadang menunjukkan sikap egois secara sadar maupun tidak sadar.

Ketika berhadapan dengan teman yang egois, mungkin banyak diantara kita akan menjelek-jelekkannya, menjauhinya, membicarakan dari belakang, atau bahkan membencinya. Padahal tidak baik juga membenci seseorang hanya karena mereka memiliki sifat yang egois.

Lho, bukannya kita harus menjauhi orang-orang yang memberi dampak negatif?

Memang pada dasarnya lingkungan pertemanan sangat dapat mempengaruhi pribadi kita, akan tetapi bukan berarti karena ingin berada dalam kondisi yang positif, kita harus meninggalkan mereka yang memiliki tingkah laku yang negatif. Tidakkah menurutmu orang yang meninggalkan orang yang negatif, merupakan orang yang negative juga?

Orang baik sesungguhnya adalah ketika ia melihat sesuatu yang buruk dalam lingkunganya tidak langsung meninggalkannya, akan tetapi ia akan berusaha mengubah sesuatu yang buruk menjadi positif sebisanya.

Ketika melihat orang-orang egois, bukan berarti kita harus segera meninggalkan orang itu, ada berbagai cara yang sekiranya bisa dilakukan untuk menghadapi orang yang memiliki sifat egois. Diantaranya;

Pertama, kita mengetahui bahwa orang egois adalah orang yang memiliki sifat yang hanya mementingkan diri sendiri saja, tak peduli apapun yang akan dia lakukan, nomor satu adalah kebahagiaan dirinya, bahkan dengan cara merusak kebahagiaan orang lain. Nah ketika kita mengetahui hal tersebut, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memaklumi perlakuan orang egois itu kepada kita, selama ia tidak memberikan dampak negatif secara materil kepada kita. Hikmahnya adalah tingkat kesabaranmu akan diuji ketika berhadapan dengan orang jenis ini.

Kedua, ketika tengah berinteraksi dengan orang jenis ini, usahakan agar jangan gampang tersinggung terhadap apa yang ia katakan kepada kamu. Pasalnya, orang jenis ini karena kebiasaanya tak menghiraukan hati orang lain, ia akan lebih ceplas ceplos terhadapmu. Mungkin ditengah-tengah pembicaraan ia akan mengeluarkan kalimat yang sedikit membuat hatimu teriris, mungkin ia akan sedikit mengatakan keburukanmu, atau mungkin dia tidak setuju dengan pendapatmu dengan mengkrikitmu yang pedas. Tapi tak apa, hikmahnya adalah kamu lebih tahu dirimu secara jujur, intinya adalah jangan baper jika berhadapan dengan orang ini.

Ketiga, sering kali kamu mungkin sudah tak tahan dengan tingkahnya yang seolah-olah ingin selalu menang sendiri. Sebagai pribadi yang memiliki rasa empati, kamu ingin teman kamu ini menurunkan sedikit sikap egoisnya. Caranya adalah ingatkan mereka secara sangat baik-baik dengan waktu yang pas. Kapan waktu yang pas itu? Mungkin disaat kalian lagi berada di perbincangan yang hangat, penuh canda, kamu bisa menyelinapkan sedikit sindiran halus. Intinya sebisa mungkin sindirlah dengan kata ganti orang lain, misalkan dia orang yang selalu ingin didengar perkataannya, cobalah memberikan sindirian dengan mengganti dia dengan orang lain.

Hal yang harus dihindari ketika ingin menasehati orang jenis ini adalah, jangan sekali-kali membuatnya merasa dipojokkan, atau disalahkan. Apalagi pada saat kondisi lagi tidak enak, karena alih-alih ia akan sadar, justru ia akan semakin melunjak.

Namun, jika berbagai cara telah kamu lakukan untuk membuatnya sadar, dan berbagai macam tingkat kesabaran yang telah kamu berikan kepadanya belum juga membuatnya sadar, dan kamu merasa sudah cukup gelisah untuk berteman baik dengannya, saran saya adalah untuk segera membuat jarak kepadanya. Bukan memutuskan pertemanan, karena bagaimanapun dia tetaplah manusia seperti kita, dan bisa jadi kita akan membutuhkan bantuannya kelak, doakan saja mereka agar dilepaskan dari sifat egoisnya.

Lho, bukannya menjauhinya menandakan bahwa kita juga egois karena tidak menolongnya?

Ingat, kamu boleh memberi jarak asalkan kamu sudah berusaha untuk mengajaknya keluar dari sifat buruknya, kamu tidak disebut egois jika kamu sudah berusaha mungkin membantunya keluar dari sifat buruknya. Berteman baik dengan orang yang negatif, secara perlahan pasti akan membuatmu ikut berperilaku negatif, karena ciri dari perilaku negatif memberikan rasa aman dan nyaman bagi pelakunya tetapi bersifat sesaat namun menyesat.

Sayangi dirimu sendiri, lalu sayangi lingkunganmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top