“Some things are up to us, some things are not up to us” ungkap Epictetus seorang filsuf stoa. Kurang lebih ia menyatakan bahwa, di dalam hidup ada dua hal yang harus kita ketahui untuk menemukan bahagia, yaitu, hal yang bisa kita kendalikan dan hal yang tidak bisa kita kendalikan (Eksternal diri).
Apa pentingya menyadari kedua hal itu?
Kesadaran akan 2 hal ini yang akan membawa kita ke titik dimana kita dapat lebih berdamai dengan kondisi yang terjadi dalam kehidupan kita.
Dalam menjalani kehidupan, tentu akan sangat banyak hal yang akan terjadi dan terus menerus kita lewati. Dikeseluruhan rangkaian peristiwa itu, ada yang berhasil kita lewati dengan haru, senang, tertawa, dan ada pula yang kita lewati dengan penuh isak tangis, kecewa, marah, dan lain sebagainya. Dan tentu kedua hal ini juga merupakan sebuah keniscayaan dari sebuah emosi alami yang tak perlu kita sesalkan.
Banyak yang berpikir bahwa hidup akan berjalan begitu saja. Sudah ada takdir yang di tetapkan kesetiap ruh-ruh manusia agar bisa menjalani hidupnya. Ada senang, sedih, tertawa, menangis dan lainnya. Sehingga kita tak perlu terlalu risau dengan hal itu.
Sebenarnya ada betulnya. Dalam emosi setiap jiwa ada yang positif dan ada yang negatif, karena itu termasuk dalam sebuah prinsip keseimbangan hidup. Akan tetapi yang perlu untuk garis bawahi adalah bahwa emosi negatif yang terlalu banyak dapat menciptakan sebuah masalah bagi tubuh. Makanya dalam hal ini, memang emosi positif dan negatif itu ada, dan memang harus ada. Akan tetapi kita perlu bisa mengendalikan kedua hal ini. Jangan sampai emosi negatif lah yang banyak menguasai diri kita.
“Emang kenapa kalo emosi negatif yang menguasai diri?”
Sangat berbahaya.. bukan hanya berpengaruh untuk diri sendiri, melainkan juga akan berpengaruh kepada yang lain.
Disatu weekend, seorang lelaki melakukan family time bersama dengan keluarganya, lalu tiba-tiba sebuah notifikasi masuk dilayar handphonenya yang berisikan bahwa klien yang sedang ingin diajak bekerja sama dalam bisnis, ternyata lebih memilih bisnis pesaingnya. Mendengar kabar tersebut tentu akan berdampak pada perubahan emosinya. Yang tadinya sedang riang gembira menikmati family time tiba-tiba didatangkan sebuah kabar buruk yang mengoyakkan hati. Lalu apa yang terjadi? Karena lelaki tersebut tidak pandai dalam mengolah emosi maka ia pun melampiaskan amarahnya dengan menggerutu. Moodnya jadi hancur, suasana hatinya tak karuan hingga berdampak pula pada orang orang disekitarnya. Yang tadinya ingin diisi dengan happy time malah berujung pada ketegangan.
Tentu ini tidak akan terjadi jika ia mengenal istilah dikotomi kendali dalam hidup, sebuah temuan oleh filsuf Stoa yang bisa dipakai agar mampu mengendalkan emosi negative lewat perubahan persepsi.
Apa itu dikotomi kendali?
Dikotomi kendali adalah sebuah istilah yang memberitahukan bahwa dalam hidup, ada hal yang bisa kita kendalikan dan ada hal yang tidak bisa anda kendalikan. Epictetus menjelaskan dalam buku Enchiridion,
“Hal-hal yang ada dibawah kendali kita bersifat merdeka, tidak terikat, tidak terhambat; tetapi hal-hal yang tidak dibawah kendali kita bersifat lemah, bagai budak, terikat, dan milik orang lain.karenanya ingatlah, jika kamu mengaggap hal-hal yang bagaikan budak sebagai bebas, dan hal-hal yang merupakan milik orang lain sebagai milikmu sendiri.. maka kamu akan meratap, dan kamu akan selalu menyalahkan para dewa dan manusia”
Secara sederhana, maksud dari perkataan Epictetus adalah kau tidak akan bisa mengubah sesuatu yang ada diluar kendalimu, karena itu adalah kendali orang lain dan orang lain berhak menentukan hal itu. akan tetapi kamu memiliki sebuah kendali penuh atas bagaimana kamu menilai hal diluar kendalimu. Dan jika kamu menganggap sesuatu yang harusnya diluar kendalimu bisa kau kendalikan sendiri, maka bersiaplah untuk kecewa.
Jika kamu mampu mengelompokkan apa saja yang berada dalam kendali dan tidak dalam kendali, maka dapat dipastikan kamu akan lebih bisa mengendalikan diri. Maka dari sini, kita harus mengenali apa saja yang termasuk dalam KENDALI PENUH KITA, dan apa saja yang TIDAK DALAM KENDALI PENUH KITA.
Lalu hal-hal apa saja yang masuk dalam definisi dikotomi kendali?
Tidak dibawah kendali :
- Takdir : kelahiran dan kematian,
- Pertimbangan, opini, tindakan, dan persepsi orang lain,
- Segala sesuatu yang diluar pikiran dan tindakan kita : cuaca, gempabumi, dan peristiwa alam lainnya,
- Kondisi fisik saat dilahirkan : Jenis kelamin, orang tua, keluarga, saudara, suku, bangsa, warna kulit, dll.
Di bawah kendali :
- Pertimbangan (judgment), opini, atau persepsi kita,
- Keinginan / harapan,
- Tujuan,
- Pikiran dan tindakan.
Kita kembali ke contoh yang tadi. Seorang lelaki yang menerima kabar buruk itu tak bisa mengendalikan emosi, karena ia menganggap bahwa keputusan klien nya itu bisa ia kendalikan. Ia beranggapan bahwa dengan ia bekerja keras dalam meyakinkan klien nya untuk meng-approve bisnisnya, ia akan mendapatkan hatinya. Akan tetapi sayangnya TIDAK. Dan Jelas keputusan klien bisnis tersebut adalah hal yang ada diluar kendali lelaki itu. Dan sayangnya lagi, lelaki tadi tidak bisa mengendalikan persepsinya akan hal itu. maka jadilah ia emosi dan marah.
Andaikan saja, jika lelaki itu mengerti tentang dikotomi kendali. Ia pasti akan paham bahwa, seberapapun ia meyakinkan klien itu, jika ia ditolak, maka ia akan sadar bahwa keputusan si Kliennya untuk menolaknya adalah diluar kendalinya. Ia tak akan bisa memaksa klien nya untuk bergabung dan bekerja sama dengannya. lelaki itu akan paham bahwa, kita memiliki kendali penuh untuk berusaha dan berusaha. Akan tetapi yang menentukan keputusan diterima atau tidaknya. Itu tidak dalam kendalinya. Jika misalkan ia diterima, maka syukur, akan tetapi jika tidak, maka ia bisa memaklumi.
Kita tidak bisa mengendalikan seperti apa kita dilahirkan didunia ini, akan tetapi kita bisa mengendalikan tindakan kita mau dibawa kemana kehidupan setelah dilahirkan. Dari pada mengeluh dilahirkan dari keluarga yang miskin, mending kendalikan persepsimu dari anggapan bahwa lahir miskin itu adalah aib. Dan segera lakukan tindakan untuk keluar dari kemiskinan, karena kedua hal ini dapat kamu kendalikan.
Alih-alih kamu kecewa dengan keputusan pacar kamu untuk meminta berpisah denganmu karena kamu jelek, mendingkan kamu kendalikan persepsimu bahwa masih ada banyak wanita diluar sana yang lebih cantik, lebih baik, dan lebih bisa menerima diriku apa adanya, lalu bertindaklah untuk mencari.
Alih-alih menyesali kamu dilahirkan dengan rambut keriting dan menanggap diri kamu asing bagi teman yang lain, mendingan kamu ubah persepsimu dengan lebih menerima dirimu sebagai sesuatu yang unik dibandingkan yang lain. Toh, kamu masih bisa sukses dengan kondisi seperti itu.
Intinya, kita memang tidak bisa menghilangkan pikiran atau emosi negatif dalam diri, karena mau bagaimanapun juga, pikiran atau emosi negative bisa adalah hal normal dan alamiah bagi diri, akan tetapi jangan sampai emosi negatif yang memegang kendali atas dirimu, karena itu bisa menghambat diri mu dan berdampak pula dengan lingkungan sekitarmu. Kita hanya perlu untuk sedikit mengurangi emosi negative dalam diri agar bisa terhindar dari hal-hal buruk.
Dengan mengenal apa saja yang dapat dan tidak dapat dikendalikan oleh kita. Maka kita akan bisa lebih jauh memandang dan menentukan emosi kita. Jika ada hal yang terjadi dalam diri diluar dari kendali, maka kita bisa mengimbanginya dengan persepsi kita.
Katakan, “Ohh.. tak apalah hal ini menimpaku, toh ini bukan salah ku, ini diluar kendaliku, tapi aku bisa memaafkannya, aku bisa menentukan kemana langkah selanjutnya”.
Pahami dengan baik perihal dikotomi kendali. Maka hidupmu akan jauh lebih tenang.
Salam produktif!!!
referensi :
Buku Filosifi Teras.