Tentu setiap orang telah sadar, bahwa jaman sekarang dan jaman dahulu telah mengalami perbedaan yang signifikan. Mulai dari gaya hidup, pola pikir, hingga tingkah laku individu. Dulu orang-orang merasakan kesulitan karena kekurangan fasilitas. Entah itu pakaian, transportasi, barang, makanan, dan lainnya. Tapi sekarang orang-orang merasa kesulitan karena kelebihan fasilitas. Dan salah satu pemicu besarnya adalah teknologi
Mengapa justru kelebihan menjadi penyebab kesulitan? Bukannya itu baik?
Belum tentu, saya teringat pepatah yang mengatakan “Makanlah sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang” ketika mengkaji lebih dalam makna tersiratnya bisa ditarik arti bahwa “Sesuatu yang terlalu kurang dan terlalu berlebih itu tidak baik”. Dan saya sepakat dengan hal ini.
Dahulu sebelum adanya internet, orang-orang kesulitan terhubung satu sama lain ditempat yang jauh, dan tentu dampak kesulitannya adalah orang-orang akan kesulitan dalam membangun bisnis, kerja sama, dll, mereka hanya mampu berinteraksi sepanjang indra memandang saja. Beda halnya dengan sekarang, teknologi dalam hal ini internet menjadi sebuah alat yang seakan menerobos ruang dan waktu. Seakan semuanya tidak terbatas, orang-orang akan dengan mudah saling berinteraksi maupun berada di tempat berbeda yang jauh sekalipun. Sangat mudah bertukar informasi, bertukar ilmu pengetahuan, dan masih banyak lagi.
Saya katakan ini merupakan sebuah kemajuan yang hebat akan tetapi belum tentu baik. Jika ada yang mengatakan “Ahh.. bukannya memang segala sesuatu memiliki kelebihan dan kekurangan?” Ya.. itu betul, akan tetapi tidak selamanya kelebihan dan kekurangan itu akan seimbang, dan pastinya akan ada salah satu yang lebih menonjol, entah itu baiknya entah itu buruknya. Pertanyaannya adalah dalam penggunaan teknologi yang serba dahsyat ini, kita ada dalam posisi yang mana? Kebanyakan Kena dampak baik atau malah kebanyakan kenda dampak buruknya?
Memang dampak buruknya seperti apasih?
Dampak buruk dari pengguna teknologi tentu berbagai macam, sangat banyak yang membahas hal ini di internet, entah itu sebagai detox digital, digital decluttering, social media detox dan lainnya. Jika bertanya dampak buruk dari teknologi itu apa? Contoh kecilnya saja, dengan mudahnya berbagi informasi kepada setiap orang, dan tersebar keseluruh penjuru, dampaknya adalah kualitas informasi itu perlu untuk dipertanyakan. Entah itu sebagai berita hoax, menipu, dan berbagai kerugian lainnya.
Jika kita tak pandai dalam memfilter teknologi yang semakin merajalela ini, dikhawatirkan bukan positifnya yang menguasai diri kita melainkan negatifnya.
Lalu bagaimana cara agar penggunaan teknologi kita bisa lebih dapat kebaikan dari pada keburukan? Tentu hal ini saya kembalikan ke pepatah yang tadi. “Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang” atau dalam artian “segala sesuatu alangkah baiknya tidak kekurangan dan juga tidak kelebihan”
Maka dari itu, dalam tulisan kali ini saya akan membahas tentang pentingnya prinsip Digital Minimalism diterapkan dalam diri kita sebagai orang yang hidup dijaman digitalism
Apa itu digital minimalism?
Berbicara minimalism mungkin sebagian dari kita sudah agak paham, namun tentu setiap pemahaman individu berbeda. Yang banyak salah paham terhadap kata minimalisme adalah kita dituntut untuk membatasi barang-barang dari kita dengan kuantitas tertentu. Misalkan, baju hanya boleh warna polos, celana jeans hanya boleh satu, cat tembok rumah harus warna putih polos, gak boleh punya ranjang, harus keluar dari pekerjaan yang menyibukkan, harus jadi introvert dan banyak harus-harus yang lain. Padahal sebenarnya tidak seperti itu minimalisme.
Minimalisme adalah mengurangi segala sesuatu yang berlebihan dan hanya berfokus pada sesuatu yang kita benar-benar butuhkan.
jadi sah-sah saja kamu memiliki baju sebanyak 50 jika memang itu adalah kebutuhanmu, sah-sah saja kamu tidak keluar dari pekerjaanmu jika memang itu pekerjaan yang kau cintai dan butuhkan, sah-sah saja kamu punya hp dua jika itu memang kau butuhkan untuk hidupmu, yang dihindari dalam minimalisme adalah memperbanyak sesuatu yang semestinya tidak terlalu kita butuhkan. Jadi secara sederhana, minimalisme berarti memfokuskan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhannya.
Jika minimalisme merupakan sebuah mindset berpikir tentu hal ini bisa diterapkan diberbagai lini, entah itu minimalis dalam pola hidup, minimalis dalam bersikap sosial, dan minimalis dibidang lainnya.
Lalu bagaimana dengan digital minimalisme?
Jika makna minimalisme yaitu mengurangi hal-hal yang berlebih dan berfokus ke hal-hal yang penting. Maka jika diterapkan dalam dunia digitalisme, maka kita dituntut untuk mengurangi penggunaan digital kita sesuai dengan kebutuhan kita saja.
Maksudnya bagaimana?
Tentu kasus digitalisme ini berbeda dengan setiap orang. Caranya adalah Tanyakan pada dirimu sendiri, seberapa banyak waktu yang kau gunakan untuk menggenggam gadgetmu disaat yang sebenarnya tidak begitu penting atau butuh? Misalkan hari ini kamu menghabiskan waktu untuk scrolling timeline sampai berjam-jam, buka tutup layar handphone padahal kamu tahu tidak ada yang menarik saat kamu membukanya, menyimpan foto yang begitu banyak sehingga membuat memorimu penuh, atau menginstal aplikasi yang sebenarnya tidak terlalu kau butuhkan (Hanya penasaran saja) dan masih banyak lainnya.
Jika memang betul hal-hal diatas terjadi padamu, itu berarti kamu harusnya perlu menjalani digital minimalisme. Yaitu meminimalkan penggunaan digitalmu hanya pada saat kamu butuh saja.
Caranya bagaimana?
Jika kamu ingin digital minimalisme pada smarthphonemu, maka kurangi penggunaan smarthphonemu sesuai kebutuhanmu saja, misalkan kamu hanya membukanya saat kamu perlu berkomunikasi dengan orang lain, mencari berita factual, atau sekedar mencari hiburan disaat butuh, dll. Hindarilah untuk memakai smarthphonemu tanpa tujuan. Misalkan hanya buka tutup screen hape, scrolling timeline sosial media sampai mentok (walaupun gak aka nada mentok-nya).
Lho bukannya ini sama sama dengan sosial media detox?
Beda. Jika sosial media detox melarang kamu untuk mengakses media sosial, maka digital minimalisme tidak melarang kamu untuk membuka sosial media. Silahkan saja untuk membuka sosial media selama itu benar-benar dibutuhkan. Inilah mengapa saya lebih menerima melakukan digital minimalisme dibandingkan social media detox yang mengharuskan saya untuk putus koneksi dengan sosial media.
Apakah digital minimalisme hanya berlaku dalam pengurangan bermain sosmed saja?
Tidak. Tentu yang namanya digital tidak hanya sesempit sosial media saja. Digital minimalisme berarti meminimalisir semua penggunaan digitalmu. Seperti hp, laptop, tv, dll. Saya hanya memberikan contoh lewat smartphone saja.
Hal lain yang dianjurkan dalam digital minimalisme yakni mengunduh aplikasi yang hanya sering kamu gunakan saja (Uninstall aplikasi yang jarang dipakai atau tak di pakai), kurangi penggunaan sosial mediamu (hanya gunakan saat perlu), hapus semua foto sampah yang ada di ponselmu (biasanya dari grup Whatsapp), matikan notifikasi ponsel (menghindari efek ingin melihat ponsel) dll.
Apa untungnya melakukan digital minimalisme?
Jika menerapkan prinsip minimalisme, kita akan terhindar dari kecanduang digital, entah itu kecanduan game, sosmed, dll. Kamu lebih sedikit teratur dengan pengurangan aplikasi karena jika kebanyakan kamu akan kesulitan untuk mencari aplikasi yang ingin kamu buka. Dan hal ini tentu berdampak positif bagi diri seperti memiliki banyak waktu yang bisa digunakan untuk hal lain, tidak hidup didunia maya, terhindar dari informasi hoax, mengurangi kelebihan pikiran akibat kebanyakan informasi yang sejatinya tidak begitu penting bagi diri, dan masih banyak lagi.
Intinya dari prinsip digital minimalisme ini adlaah Kurangi penggunaan digital selama hal itu tidak kita butuhkan dan gunakan digital selayaknya fungsinya.
Sebenarnya untuk mengetahui efek baik dari digital minimalisme bisa kita bayangkan akan tetapi tentu dampaknya bagi tiap individu berbeda, maka dari itu Yuk.. mulai melakukan hidup digital minimalism.