SEMUA BUTUH JEDA

Terkadang hidup tak seindah dengan rencana. Terkadang realita tak seindah dengan ekspektasi. Begitulah kehidupan mampu mempermainkan rencana manusia. Tak seperti robot yang harus selalu bergerak mengikuti  perintah, manusia adalah makhluk yang bergerak diikuti keterbatasan. Ada yang dikatakan siklus hidup. Dimana kita kadang merasa diatas, dilain waktu kita akan merasa dibawah.

Terkait masalah menjadi manusia yang produktif. saya rasa tak selalu harus produktif. terkadang hal yang baik yang dijadikan sebagai rutinitas, akan sampai pula pada titik jenuhnya. Seorang traveler pun yang katanya bekerja hanya dengan jalan-jalan, ketika hal itu menjadi rutinitas, rasa jenuh akan pasti menghampiri. Seorang penulis, yang katanya bekerja fleksibel dan menunggu datangnya inspirasi, ketika hal itu dijadikan sebagai rutinitas, akan sampai pula pada titik dimana ia akan kehabisan kata.

Ya.. saya rasa dalam hidup ini semua butuh jeda. Mental, pikiran, tubuh, adalah sesuatu yang memiliki batas. Ketika semuanya telah menghampiri batas, akan berbahaya jika terus menerus dipaksa.

Terkadang pemaksaan tidak melulu akan menjadikan kita terbiasa hingga luar biasa. Tubuh perlu adaptasi. Dalam hal ini Kita butuh jeda,  sejenak mengambil langkah mundur untuk melompat lebih jauh lagi.

Bukankah seorang pesepakbola juga membutuhkan waktu jeda untuk sampai ke tahap finish? Bukankah seorang pendakit harus rehat di pos sebelum mencapai puncak? bukankah seorang bertubuh atletis memiliki ruang jeda untuk beristirahat dari latihan yang keras?

Begitu pula kita. Tak peduli seperti apa kita, seperti apa pekerjaan kita, ketika lelah ambil jedah dan bersitirahatlah.

Awalnya saya berpikir, untuk mencapai sesuatu kita harus terus menerus berusaha dan memaksa  sampai ia tercapai. Akan tetapi kembali lagi, ekspektasi akan terkalahkan oleh realita, selayaknya pendaki awam yang menggebu-gebu ingin menuju kepuncak dengan berlari pada akhirnya ia butuh istirahat. Betapa egonya saya dulu berkata, ketika ingin sukses, berkerja keraslah dan paksalah sampai dapat.

Seketika sampai di titik jenuh, saya sadar bahwa dalam hidup, tak ada salahnya untuk mengambil jeda sesaat sebelum kembali bergerak, berjalan, hingga tiba di puncak. Entah itu puncak karir, percintaan, cita-cita, atau perjalanan.

Istirahat bukan suatu kesalahan, yang salah adalah ketika istirahat itu kemudian menjadi alasan untuk tidak kembali bergerak dan memilih untuk berada di posisi nyaman terus menerus.

Berhati-hati dengan jeda, karena ia adalah antara dari pada mati dan hidup kembali. Selayaknya ketika kita tidur.  Jeda bukan berarti berhenti, jeda adalah proses pengisian energi agar dapat pulih dan lebih bergairah kembali.

Aku, kamu, kita sekalian perlu jeda dalam hidup.

Jika merasa jenuh dan buntu akan semuanya, alangkah baik untuk sejenak memberi jeda dalam diri, atau mungkin ini adalah pertanda alam bahwa ada banyak hal yang lebih menarik juga dari kesibukanmu sekarang, ada banyak hal yang mungkin meminta perhatian kita yang selama ini terhalang oleh rutinitas. Ada banyak hal yang dapat kita ambil pelajaran untuk hidup kedepan.

Jangan pernah merasa hina jika dirimu sedang lelah, tak ada orang yang sehebat pikirmu. Kau boleh merasa hina ketika jedamu kau teruskan hingga mati. Kita juga harus realistis akan sesuatu. Semua ada porsinya. Beristirahat bukan berarti bahwa kamu sedang bermalas-malasan, beristirahat adalah pertanda bahwa kita sedang butuh ruang untuk bernafas. terkadang ambisi harus menurunkan ego agar pikiran, tubuh, dan mental tetap selaras.

Perihal jeda. Ketika kau lelah, beristirahatlah. Terkadang kita perlu mundur selangkah untuk dapat melompat jauh melangkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top