Teringat pada acara porseni (pekan olahraga dan seni) sewaktu SMA dulu, saya dan kawan-kawan kelas berhasil meraih juara 1 tarik tambang. Padahal jika dilihat-lihat personil kami biasa-biasa saja dibandingkan lawan, kami berbodi tidak terlalu besar, dan tidak terlalu kecil juga. bahkan ada satu kelas yang kita temui dalam pertarungan final dengan badan yang besar-besar sehingga membuat kami sedikit tidak percaya diri untuk menang, akan tetapi dengan strategi yang kami pakai dari awal, di tambah kesolidan kawan tim. Ajaib, Kami akhirnya meraih juara pertama tarik tambang kelas.
Strategi yang kita pakai waktu itu adalah strategi bertahan. triknya, ketika sang wasit memberikan aba-aba mulai, biasanya tim lawan akan langsung menariknya dengan sekuat tenaga, dan tugas kita adalah membiarkan lawan itu menariknya dengan sekuat tenaga dan kami di posisi kuda kuda bertahan. selepas lawan merasa lelah barulah kami mengeluarkan kekuatan tarikan seutuhnya. Dan akhirnya lawan akan terhempas maju dan sebagian akan jatuh karena kaget.
Begitulah kira-kira strategi bertahan untuk menang. Tapi tips ini tidak hanya di gunakan untuk pertandingan saja. Trik ini ternyata berguna juga dalam masalah-masalah hidup.
Marcus Aurelius pernah berkata “Jadilah seperti tebing dipinggir laut yang terus dihujam ombak, tetapi tetap tegar dan menjinakkan muka air disekitarnya”.
BERTAHAN UNTUK MENANG. Ternyata strategi ini tak hanya digunakan oleh para atlet pemenang olahragawan. Akan tetapi strategi ini juga mujur di gunakan untuk melawan kejamnya hidup.
Sering kali kita menemukan masalah-masalah dalam hidup yang datang tanpa kita minta-minta. Misalkan, masalah kedatangan orang yang toxic. Korban bullyan, korban gosip, terkena musibah, dll. Nah, prinsip bertahan sekiranya cocok untuk masalah ini.
Ditengah maraknya kehidupan sosial manusia, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Pasti kita sering menemukan orang orang toxic yang sifatnya merugikan kita. Sebenarnya kita memiliki pilihan untuk meninggalkan lingkaran pertemanan itu dan menjauhinya. Lantas, tak semua orang bisa melakukannya. Karena mau bagaimanapun juga, setoxic apapun orang, bisa jadi mereka hanya tak tahu jika perbuatannya merugikan kita.
Terkadang orang yang berbuat jahat ke diri kita akan merasa puas jika perilakunya kita beri respon. Misalkan, kerap kali di media sosial ada orang yang mengomentari postingan kita dengan ujaran kebencian. Ketika kita merespon balik perkataan orang itu, maka mereka akan merasa puas. Karena salah satu tujuan utamanya menghujat adalah agar hujatannya sampai di hati sang korban. Nah jika korban memberikan respon apalagi berkesan marah, atau terusik dengan perkataan pelaku. Maka si pelaku akan merasa puas karena tujuannya dirasa tercapai.
Disinilah strategi bertahan untuk menang bisa mujur. Jadi jika bertemu atau dihadapkan dengan situasi seperti ini dan anda adalah korban. Maka biarlah mereka melakukannya sampai mereka lelah sendiri, biarkan kalimat negatifnya selalu mereka ulang-ulang sampai mereka bosan. Jangan pernah terusik, jangan pernah terpengaruh dan jangan serang balik, kalau perlu bertahanlah dengan memberikan kalimat yang menyejukkan. Terkadang serangan terbaik untuk orang yang mendzalimi kita adalah dengan memberikan senyuman.
Dengan bertahan, dan tidak memberi respon, orang yang berniat mengusik itu akan lelah dengan sendirinya, sampai akhirnya mereka akan berpikir “ahh,, percuma gue kayak gini, dianya santuy aja” lalu akhirnya ia akan berhenti dengan sendirinya. Beda halnya jika kita memberi respon. Misal “Eh, body kamu kok gendut banget sih kek gentong lu wkwk” lalu kita balas “Eh, maksud loh apa? Enak aja ngatain gue, ngaca dulu dong”. Mereka akan berkata “Asyik nih, gue berhasil buat dia marah, tambah lagi ah” begitu terus sampai akhirnya kita kehabisan energi menghadapinya.
Jadi.. bodo amatin aja..
Lalu bagaimana menggunakan prinsip bertahan ini dalam menghadapi musibah?
Musibah adalah peristiwa yang tak disangka-sangka dan tak diminta-minta datangnya. Sama halnya dengan orang toxic tadi. Jika kita tertimpa musibah, banjir misalkan. Tak ada alasan untuk kita marah-marah, tak ada alasan untuk kita merasa sial, karena lagi-lagi ini adalah hal yang tak disangka dan diminta. Satu-satunya cara terbaik untuk menghadapi adalah, dengan bertahan saja. Bertahan dengan segala kesabaran yang kita punya. Toh badai tak akan selalu badai, dan setelah badai akan datang goresan pelangi indah. Kita hanya perlu sedikit waktu untuk bertahan dengan kesabaran yang kita punya. Jangan pernah menyerah, atau melawan dengan amarah.
Bertahan untuk menang.. ketika hal buruk, kesusahan, kesialan, dan kepayahan datang dalam hidup kita, bertahan adalah cara terbaik sampai keadaan itu terlewati. Tak ada gunanya untuk melawan peristiwa yang tak bisa kita kendalikan. Seperti opini orang lain, perbuatan orang lain, peristiwa alam, dan segala hal-hal eksternal diluar dari kita. Karena ketika diri berusaha melawan dengan menyalahkan keadaan. Maka sama halnya itu membuang-buang energi kita.
Bertahan untuk menang, bukanlah sebuah bentuk kepasrahan. Akan tetapi sebuah bentuk penerimaan atau pelapangan dada atas peristiwa yang terjadi. Bertahan untuk menang tidak berarti kita tidak melakukan apa-apa. Selayaknya analogi tarik tambang tadi. Kita hanya bertahan dan menunggu waktu yang pas untuk membereskan semuanya.
Ketika menerima kejahatan dari orang, bertahanlah dengan sabar, tunggu waktu mereka lelah, dan balaslah dengan prestasi yang membanggakan. Ketika musibah datang menyerang, bertahanlah dengan sabar, tunggu waktu agar semua membaik, dan perbaikilah semuanya.
Bertahan untuk menang, berarti meniadakan kata menyerah dan terus menahan segala bentuk emosi, amarah, dan tindakan-tindakan diluar kewarasan. Sampai pada titik semuanya membaik, maka selesaikan lah… bertahan tidak membuat diri mundur, akan tetapi membuat tetap pada posisi dan bersiap untuk melangkah.
Tak ada peristiwa yang permanen di muka bumi, semua berjalan bagai sebuah roda yang silih berganti antara senang dan susah. Kita hanya perlu bertahan dengan kesabaran bertempur akan waktu. Jika ingin menyerah. Ingatlah fakta bahwa dirimu telah melalui banyak kesusahpayahan dalam hidup. dan lihat lah, dirimu sekarang. kamu tentu baik-baik saja bukan? Tunggulah sang badai berhenti, dan keluarlah menyamput sang mentari.
Salam!!!