Manusia hidup tak lepas dari perihal cinta dan benci, dalam lingkungan keluarga, teman, sahabat, dan sepergaulan. Keduanya silih berganti.
Berbicara soal 2 kata ini. Kita mungkin pernah bertanya-tanya, kenapa kita bisa mencinta sesuatu dan kenapa bisa membenci sesuatu. Kita juga pernah bertanya-tanya, kenapa orang begitu cinta akan satu hal, sementara kita benci hal itu, pun sebaliknya kenapa orang begitu benci akan satu hal sementara kita sangat cinta akan hal itu? ada apa gerangan soal rasa? Mengapa kita begitu berbeda dalam menyikapi satu dari banyak persoalan dalam hidup.
Lalu, keheranan masih terus berlanjut, mengapa kita pernah mencinta satu hal, lantas kemudian seiring waktu berputar, tetiba rasa itu perlahan memudar, menjadi hambar, dan bahkan berujung pada benci. Pun sebaliknya, kita pernah merasa benci pada satu hal, lantas kemudian seiring waktu berganti, tetiba rasa itu hadir, menjadi nikmat, sejalan, dan berujung pada cinta.
Adakah cinta yang abadi? Atau semuanya berputar bak roda yang tak henti? Apa sebab dari pada benci dan cinta itu terjadi?
Mari kita ambil sebuah permisalan, tapi demi untuk menghindari satu pihak tersinggung, saya akan coba memberikan objek yang aman berupa benda saja, Karena cinta tak melulu persoal dua sejoli yang sedang dilanda kasih.
kita tentu pernah mencita-citakan untuk memiliki suatu barang, taruhlah misalkan benda electronik seperti Laptop. Entah merek apa pun itu, yang jelas anda pasti pernah mendambakan hal itu. Nah coba diingat, bagaimana perasaan kita sesaat pertama kali memiliki barang itu. bukankah kita begitu senang? Begitu cinta? Sampai kita tak rela membiarkannya terbalut oleh debu, apalagi sampai lecet, menggunakannya pun serba hati-hati. Beginilah gambaran cinta.
Lalu kemudian beberapa waktu berlalu, rasa nikmat saat pertama memiliki barang itu perlahan hilang. Kita mulai membiarkannya hidup sampai panas, membiarkannya terbentur oleh benda keras, dan kena lecet pun sudah tak jadi masalah. Lalu semakin lama, tiba jugalah kita pada masa hilang rasa pada barang itu. entah karena tak sesuai dengan ekspektasi kita, atau mungkin bosan hingga ingin menggantinya dengan yang baru lagi.
Beginilah kira cinta dan benci bergulir oleh waktu, apa pendapatmu? Kira-kira, apa sebab rasa itu hilang? Benarkah kita hilang rasa karena bosan? Kalau pikirmu “Iya” mari kita coba contoh lain.
Saat masih SMA, saya pernah punya smartphone dengan body agar lebar. Awalnya saya mensyukuri punya handphone itu, memperlakukan dengan lembut, membelikannya anti gores, pelindung karet, dll akan tetapi seiring jalan waktu, seperti kebanyakan orang, saya mulai bosan. Lalu tiba saat dimana hp saya mengalami korslet pada bagian tombol power sehingga hp itu selalu mati-nyala terus menerus.
Apa yang saya rasakan saat itu? Ya sudah pasti rasa jengkel. Berbagai cacian telah kulontarkan di mulutku walau kutau hp itu tak mengerti apa-apa. Untungnya hp tidak menggunakan battery tanam, jadinya batterai saya lepas untuk mencegah kerusakan lanjut pada mesin.
Sebenarnya saya berniat untuk menggantinya dengan yang baru saja, tapi karena uang tak ada, maka terpaksalah saya membawanya ke tukang service saja.
Sekitaran 3 bulan lamanya saya hanya menggunakan hp lipat kecil sebagai pengganti, yang bisa di gunakan hanya untuk sms dan nelpon saja. dan ternayata, rasa bosan kini berganti jadi rasa rindu.
Ya. Saya rindu dengan hp saya yang sedang menjalani rawat inap di tukang service itu. hingga saat dokter (tukang service) nya bilang bahwa hpnya sudah sembuh dan diperbolehkan untuk pulang.
Tetiba kembalinya hp itu ditangan saya, entah kenapa rasa cinta dan syukur itu datang kembali. Walaupun terlalu Lebay jika saya bilang rasanya seperti hp baru kembali. Tapi percayalah, rasa bosan yang sempat ada, kini berganti dengan rasa syukur kembali. Niat yang tadinya mau ngejual, tapi tidak jadi.
Jika kasusnya seperti ini? Lalu seperti apa sebenarnya bentuk cinta itu muncul? Mengapa cinta dan benci bisa berganti posisi sebegitu saja? apakah ini perkara waktu?
Jawabnya TIDAK.
Jika boleh saya simpulkan. Peralihan cinta menuju benci bukan persoal kebosanan. Kebanyakan orang menilai bahwa cinta itu meredup karena kebosanan. Akan tetapi bukan seperti itu mestinya. Sebenarnya kita hanya kehilangan sudut fokus.
Objek adalah hal yang netral dalam rasa. Bagaimana kita bisa cinta dan benci itu tergantung bagaimana kita menaruh fokus antara pada kelebihan ataupun kekurangan objeknya.
Jika pertanyaannya, kenapa saya mencintai perempuan itu, sementara orang lain tidak mencintainya, itu bukan berarti saya memiliki selera yang sekian. Akan tetapi, karena saya meletakkan fokus saya pada kelebihan perempuan itu. bukan pada kekurangannya.
Sederhananya.. kebosanan itu memang ada dalam diri manusia, akan tetapi bukan kebosanan yang menyebabkan cinta itu pudar dan terganti oleh benci. Akan tetapi dimana fokus pikiran kita letakkan. Apakah pada kelebihan atau pada kekurangan. Jika kita meletakkan fokus satu objek pada kelebihannya, niscaya akan cintalah kita padanya. Pun sebaliknya jika kita meletakkan fokus satu objek justru pada kekurangannya, niscaya bencilah rasa kita.
Seperti halnya jika kita yang menilai seseorang berdasarkan gosip yang jelek. Niscaya kita akan percaya bahwa orang yang digosipkan adalah orang yang buruk (karena fokus kita ke hal negatifnya), meskipun sebenarnya itu hanyalah gosip belaka. Beda halnya jika kita menilai seseorang berdasar prestasi yang ia capai. Niscaya kita akan percaya bahwa orang itu sangat hebat meskipun sebenarnya ia tidak begitu hebat (karena fokus kita ke hal yang positifnya).
Jika kita bertanya-tanya, kenapa dalam hubungan kasih, awalnya saja yang terasa nikmat, kenapa akhir-akhir malah merasa muak? Itu karena awalnya kita hanya melihat sisi kelebihannya saja, sampai lupa bahwa dibalik kelebihan ada kekurangan. Sampai akhirnya ketika bertemu dengan kekurangan itu dan fokus padanya, maka rasa muak, benci, dll pasti akan muncul.
Kita pernah jatuh cinta dan tergila-gila dengan seseorang sampai mengejar-ngejarnya, dan ketika sudah menjadi milik kita, lantas perlahan memudar lah rasa itu. sebabnya satu. Karena fokusmu sudah berganti pada kelemahan orang itu.
Lantas, bagaimana agar cinta bisa bertahan lebih lama? Ya dengan terlebih dulu kita mengantisipasi dan sadar, bahwa apa yang sekarang kita lihat adalah tak selalu bagus, tak selalu indah.
Kita harus sadar bahwa saat sedang jatuh cinta, kita hanya sedang fokus pada kelebihannya dan menghiraukan kelemahannya. Suatu saat ketika kita tiba dan menemukan kekurangannya. Ingatlah bahwa segala sesuatu di dunia memiiki kelebihan dan kekurangan. Permasalahannya Cuma dibagian mana kamu menaruh fokus terhadapnya.
Karena dinding pemisah antara cinta dan benci, adalah perihal dimana kita memfokuskan rasa.