Kerap kali saya berpikir, apakah kejahatan itu benar-benar ada? Apakah ada orang yang memang berniat menjadi orang jahat dalam hidup? Kalau dipikir-pikir, saya rasa itu tidak mungkin. Tidak mungkin ada orang yang dengan tekad membaktikan dirinya untuk menjadi racun di dunia ini. Kalaupun memang sekiranya ada. Ya paling tidak populasinya hanya sekira 2% saja.
tapi kalo sekiranya begitu? Mengapa masih ada orang yang selalu berselisih?
Berselisih menurut saya bukan dikarenakan ada protagonist dan antagonis. Kita terlalu sering dikonsumsikan drama oleh media, sedari kecil kita hobi sekali disusupi cerita rakyat. Yang dimana cerita tak akan seru jika tak ada si baik dan si jahat, cerita akan hidup jika ada konflik di dalamnya. Sehingga gambaran ini terbawa-bawa oleh diri kita ke dunia nyata. Dimana sering kali kita mendapati sebuah selisih paham, lalu tiba tiba saja kita menjudge bahwa ini baik dan ini jahat, ini benar dan ini salah.
Padahal kenyataan kehidupani tak sedrama film-film di tv. Hidup ini adalah bukan tentang mengkotak-kotakan yang baik dan yang jahat, apalagi jika merasa saya adalah baik dan kamu adalah jahat.
Seringkali pertengkaran terjadi karena perbedaan sudut pandang saja, Kesalahpahaman tata komunikasi saja, atau karena gengsi untuk meminta maaf. Itu saja.
Belum pernah saya melihat pertengkaran di sebabkan oleh ada orang yang memang benar-benar menginginkan pertengkaran itu terjadi. Misalkan. “Ahh,, sepertinya seru nih jika bikin konflik dengan tetangga, besok aku mau cari gara-gara ah”. Saya rasa ini adalah hal gila.
Pertengkaran yang seringkali terjadi adalah didominasi oleh sebab merasa diri paling benar sehingga menyalahkan kebenaran orang lain. Misalkan “agama saya adalah yang paling benar, dan agama kalian adalah agama yang salah”.
Disini muncul rasa terlalu membenarkan diri, tanpa memperluas sudut pandang. Sehingga yang terjadi adalah orang yang merasa di sudutkan akan merasa terdzolimi. Dan orang yang terdzolimi secara otomatis pasti ingin membela dirinya dan merasa dirinya benar pula. Dan terjadilah perang antara benar dan benar disini. Si A mengklaim bahwa dirinya menyampaikan hal yang benar dan memperjuangkan kebenarannya, si B mengklaim bahwa kepercayaannya di usik, dan ia merasa harus membela sesuatu yang diusik itu. sehingga siapa yang merasa jahat disini? Tidak ada. Semua berasa benar.
Keluasan sudut pandang saya rasa adalah hal yang paling vital disini. Kita sering kali merasa benar sehingga menyalahkan kebenaran orang lain. Tanpa melakukan cross check terlebih dahulu, apakah saya betul-betul berada dalam kondisi benar? Atau jangan-jangan malah saya yang salah? Hal ini yang paling tidak nyaman dilakukan oleh orang lain, rasa gengsi untuk mengakui diri salah adalah hal yang paling menakutkan dan dianggap menjatuhkan harga diri. tapi apakah benar seperti itu?
Harga diri. saya rasa ini adalah penyebab dari pertengkaran yang tanpa ujung. Harga diri juga kerap kali dijadikan sebagai penghalang untuk meminta maaf duluan. Terkadang kita sudah tahu bahwa dalam satu pertengkaran kitalah yang salah, akan tetapi enggan untuk meminta maaf duluan karena gengsi akan harga diri. padahal semakin gengsi diri untuk mengakui kesalahan disitu pulalah letak harga diri kamu semakin tercabik-cabik.
Sudah jelas salah, tapi tidak mau minta maaf duluan karena gengsi harga diri, disitu pula kamu akan terus merasa bersalah dan memakan sendiri harga dirimu..
Pertengkaran sering kali disulut oleh emosi, emosi menjadikan seseorang buta akan kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga kerap kali ketika emosi itu telah reda, terlihatlah siapa yang berada dalam posisi yang benar, siapa yang dalam posisi yang salah. Namun yang menjadikan rasa pertengharan itu terus berlanjut adalah gengsi akan harga diri. hingga yang harusnya pertengkaran itu telah usai, malah jadinya berlanjut tiada akhir.
Kita sebagai manusia yang bijak sudah seharusnya sadar dan menghindari hal-hal ini. Pertengkaran adalah sesuatu yang kekanak-kanakan untuk orang yang sudah beranjak remaja maupun dewasa. Sudah sepatutnya kita menggunakan akal terlebih dahulu dibandingkan emosi.
Merasa benar atas apa yang diyakini benar adalah hal yang bagus, akan tetapi menyalahkan kebenaran orang lain adalah hal yang salah. Kunci untuk meredakan pertengkaran adalah memperluas sudut pandang kebenaran, memisahkan emosi dan memperluas toleransi.