PERIHAL PERTANDA

Hari ini hujan turun, tapi tak seperti biasanya, kali ini hujan turun tanpa percikan gerimis dan langsung datang bergerombolan dengan derasnya, menghujam secara tiba-tiba tanpa pertanda datangnya awan mendung.

Wahh tumben sekali”, kataku.. tapi untung saja tak ada jemuran yang basah karenanya.

Pernah sekali, awan begitu hitam, petir bersahutan menyambar, akan tetapi hujan tak kunjung datang, padahal kala itu ada kegiatan yang harusnya terlaksana outdor, akhirnya ditunda karena pertanda awan hitam yang katanya akan mendatangkan angin kencang serta hujan yang lebat, jikalau dilanjutkan akan berbahaya.

Ini hanya contoh kecil. Bagaimana dengan orang yang memiliki urusan atau kepentingan besar, yang terpaksa ia menunda kegiatan hanya perihal pertanda yang tak kunjung memberikan kepastian?

Ahh.. Bahwa benar, pertanda hanyalah sebuah tanda saja. tak mampu memberikan kepastian apakah pertanda menggandeng peristiwa yang nyata. Awan mendung misalkan, ia tak selamanya menjanjikan akan mendatangkan hujan, begitupun awan cerah tak bisa menjanjikan akan memberi cuaca yang indah.

Kita harus bijak membaca pertanda yang datang, bukan berarti kita harus mengabaikan kemunculannya. Bercermin dari peristiwa tadi, bahwa.. apapun itu, kita tak boleh berleha-leha dalam hidup. kita tak boleh mengandalkan pertanda untuk mawas diri dengan datangnya peristiwa. Dalam hal ini menyangkut banyak hal.

“Sedia payung sebelum hujan”. Mungkin pepatah yang cocok menjelaskan hal ini, bahwa kita memang harus bersiap siaga dalam segala hal. Kita perlu menyusun rencana, agar kiranya hal yang akan datang tanpa disangka, bisa kita tangani dengan baik. Tak perlu menunggu pertanda, sebab datangnya pun tak menjanjikan adanya kepastian.

Kita juga tak perlu untuk kecewa jika ada kejadian yang tak disangka muncul tanpa pertanda. Hidup adalah sekumpulan misteri yang didalamnya kita dapat bertemu dengan apa saja. beradaptasi atas apa yang terjadi dan mampu mengendalikan tindakan yang bijak adalah kemampuan yang harus kita punya.

Jika yang datang adalah peristiwa yang menyenangkan, maka kita mungkin tak perlu mawas diri, akan tetapi bagaimana dengan peristiwa yang tak menyenangkan? Musibah misalkan, sering kali kita saksikan berita terjadinya gempa, kebakaran, penggusuran, perampokan, atau bahkan kematian yang datang tak disangka tanpa kemunculan pertanda.

Bagaimana meyikapinya? Ya.. kita perlu mawas diri dan berjaga-jaga sebelumnya. pun jika itu terjadi, kita tak akan mengamail kesedihan yang mandalam. Sebab, peristiwa hidup memang sebagian besar datang dengan kejutan.

“Jikalau pertanda tak dapat mendatangkan kepastian, lalu untuk apa ia dicipta?” tanyamu..

Tuhan menciptakan sesuatu pasti ada sebab. Pertanda diciptakan bukan untuk kita menunggunya datang baru mulai bersiap, pertanda diciptakan untuk kita selalu ingat. Karena kita adalah makhluk pelupa, pertanda datang membawa kabar untuk mengatakan “Hei manusia, aku dikirim untuk memberimu sebuah pengigat, hadirku bukan untuk memberimu sebuah ramalan atas apa yang akan terjadi nanti, karena itu adalah kuasa penciptaku”.

Ya.. perihal pertanda, Ia hanya hadir sebagai pengingat, bahwa akan banyak kejutan alam yang datang nantinya, mungkin bukan saat ini, akan tetapi nanti. Kita yang sejatinya sebagai makhluk pelupa, sering kali lalai untuk selalu mawas diri dan berjaga-jaga. Perihal kejadian yang pasti. Itu bukan tanggung jawab sang pertanda. Akan tetapi itu adalah kuasa sang pencipta..

Maka dari itu, wahai diri yang bijak.. selalulah ingat akan kuasa pencipta, yang selalu memberikan kejutan pada hambanya, mungkin melalui pertanda atau tanpanya. Dengan ini, ikhlas adalah kunci agar tetap tabah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top