Silahkan Insecure

Insecure atau rasa iri, atau juga tidak percaya diri kini menjadi momok yang menakutkan bagi kalangan pemuda masa kini, kenapa tidak? karena dengan insecure membuat kita jadi menghalangi diri sendiri untuk tahu potensi diri, dalam arti, kebanyakan insecure atau tidak percaya diri malah justru menutup potensi untuk mengenali siapa diri kita, bagaimana keunikan kita, dan apa kelebihan kita.

Saya percaya bahwa setiap diri adalah berbeda, setiap insan yang terlahir tentu memiliki kapabilitasnya masing-masing, akan tetapi. Terkadang apa yang terjadi pada orang lain, diri ini ingin juga memilikinya. Orang lain sukses di bidang wirausaha di umur 20 tahun. Kita yang saat ini sudah berumur hampir 25 tahun malah sibuk mencaci diri dan menganggap diri layaknya orang gagal. Sayangnya, kata gagal hanya tertuju pada mereka yang sedang berhenti berjuang. Bukan pada mereka yang belum berhasil berjuang.

Insecure nya orang dulu dan kini tentu berbeda, jika dulu bapak ibu kita insecure hanya dengan jangkauan tetangga atau teman sepermainan saja, kini insecure terjadi pada anak muda kepada orang yang bahkan ia tak kenal sekalipun. Insecure kini lebih mudah di dapat karena di dukung oleh teknologi, utamanya saat ini tengah boomingnya sosial media yang memungkinakn kita untuk bersosialisasi dengan orang lain tanpa sekat ruang dan waktu. Alhasil, kita bahkan sangat mungkin insecure pada orang-orang yang notabenenya tidak akrab dengan kita, atau bahkan tidak kenal sama sekali dengan kita.

Contohnya? Sangat banyak.

Saya sering kali melihat status-status teman saya di twitter, isinya tentang insecure semua, dia iri pada temannya yang sekarang sudah wisuda, sedang ia saat ini masih banyak mata kuliah yang mesti perlu diulang. Ada yang iri karena melihat kecantikan, keseksian, dan kemolekan tubuh foto temannya yang diupload di sosial media, padahal foto itu sudah di edit sang empunya berkali-kali, Ada yang merasa tak berguna lantaran melihat teman sejawatnya sudah mendapat kelayakan finansial, dan bahkan ada pula yang merasa diri jelek dengan membandingkan diri dengan para selebgram yang fotonya cantik-cantik, yang jika dilihat pakai kacamata kuda serasa hidupnya tak ada sama sekali payahnya. Mirisnya lagi, kebanyakan penyakit insecure ini kebanyakan di rasakan oleh anak muda. Yang harusnya fokus berkarya, bukan fokus mengada-ngada.

Itulah kejamnya dunia sekarang. mempermudah diri untuk membandingkan diri. apakah ini sehat? Jawabnya Tentu tidak. mengapa?

Orang yang selalu membandingkan diri adalah tentunya orang yang tak pernah melihat potensi diri, Ya. mereka terlalu fokus dan sibuk pada apa yang dilihatnya pada orang lain, padahal apa yang dilihatnya belum tentu cocok dengan apa yang sebenarnya. Di media kebanyakan orang hanya memperlihatkan pencapaian namun tak pernah memperlihatkan kepayahan.

Ya, kita insecure, karena kita terlalu fokus pada pencapaian orang lain, tanpa melihat jerih payah yang ia lakukan. Padahal, jika apa yang Nampak pada kesuksesan seseorang, tentu tak ia raih dengan semalam saja, butuh derita berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Barulah ia mengecap upah manisnya. Padahal, jika kita tahu deritanya, mungkin kita akan lebih bersemangat dan fokus pada diri kita sendiri. Kita mungkin akan berkata “Aku ingin seperti mereka, maka aku juga harus segera bangkit dan berjuang seperti yang mereka pernah lakukan sebelumnya”.

Kita juga terlalu fokus pada kelebihan orang lain dari pada melihat ada pula kekurangan yang dimilikinya, bukankah kita sudah mengerti bahwa segala sesuatu di dunia ini ada lebih dan ada kurangnya? Lalu mengapa begitu gampang tertipu oleh mata? Jika hanya melihat yang Nampak saja, bukankah belum tentu apa yang Nampak di luar sebanding dengan apa yang tak Nampak di dalam?. Layaknya sebuah snack yang kadaluarsa. Mungkin bungkusnya terlihat begitu rapi, dikemas dengan baik, masih berkilau, namun ketika di buka dan dicoba rasanya, ternyata sudah asin, lempeng, tak layak makan.

Lantas, apakah kita selamanya tak boleh cemburu? Tak boleh insecure dengan orang lain? Jawabnya Tidak juga. Ternyata ada juga loh rasa insecure yang boleh kita rasakan, inilah insecure yang sah dan tak merugikan diri dan justru malah membangkitkan semangat diri.

Ternyata, dalam pandang islam, ada 4 jenis insecure, diantaranya ada 2 yang tak diperbolehkan dan ada 2 pula yang diperbolehkan. Apakah gerangan insecure yang tak diperbolehkan Yakni, Al-Hasadul Haqiqi atau iri yang nyata dan Al-Hasadul Akhdzi.

Al-Hasadul Haqiqi, adalah jenis iri hari yang harus dihindari, sesiapa yang memilikinya niscaya tak berbahagialah batinnya, karena ia akan sedih ketika melihat orang lain senang dan ia akan senang ketika sekelilingnya sedih.

Lalu yang kedua adalah Al-Hasadul Akhdzi, ialah suatu keadaan dimana seseorang ingin mengambil atau memiliki apa yang ada pada diri orang lain. Inilah yang paling sering menjadi penyakit hati kita sekarang, seorang teman memiliki gadget keluaran terbaru, kitapun iri dan ingin seperti dia, dan seterusnya. Kalo kata guyonan bugis, tetangga yang beli kipasnya, kita yang terputar, tetangga beli AC, kita yang kedinginan, tetangga beli mobil baru, kita yang tiap pagi di panaskan. Sungguh menderita batin yang memiliki sikap demikian.

Lantas apa gerangan insecure yang diperbolehkan? Yang pada hakikatnya dapat memantik semangat diri?  ada 2 pula, Yakni Ghibtah adalah orang yang iri atas nikmat orang lain, namun tak mengharap nikmat itu hilang darinya dan yang kedua adalah Al-Hasanud tanafusi atau iri hati untuk berlomba dalam berbuat kebaikan.

Dalam firman-Nya Tuhan berkata :

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(Q.S Al-Baqarah :148)

Silahkan insecure hanya pada kebaikan-kebaikan orang, karena jika kamu cemburu dengan hal itu, mungkin kamu akan memaksa diri seperti mereka. Memaksa diri untuk selalu berbuat baik. Bukankah hal ini akan menguntungkan diri? dari pada memaksa diri untuk membeli hal yang kita tidak butuh. Memaksa diri untuk berbuat baik, maka dampaknya kita akan memperoleh pahala dan bahagia, lain halnya memaksa diri dalam memperbanyak harta, dampaknya kita hanya mempersulit diri belaka.

Wahai saudaraku, nikmatnya cemburu dengan kebaikan orang lain adalah kita bisa melakukan hal itu sekarang juga, kita bisa berbuat baik sekarang juga, dalam kondisi apapun juga, beda halnya jika kita cemburu pada kelimpahan harta orang lain, kita tak bisa memiliki harta sedemikian itu sekarang juga, butuh usaha ekstra. Maka cemburu pada kebaikan alangkah bijaknya.

Kita butuh berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba dalam memperbanyak harta, kita butuh berlomba dalam memperdalam ilmu, bukan berlomba dalam mempercantik tubuh, kita butuh berlomba dalam ketaatan, bukan berlomba dalam ketamakan.

Karena pada hakikatnya kita dimata Tuhan adalah setara, yang membedakan kita hanyalah tingkat ketaqwaan, maka janganlah bercemburu pada mereka yang tinggi harta dan tahtanya, melainkan cemburulah, irilah, insecure lah pada mereka yang tinggi ketaqwaannya.

Maka wahai diri yang bijak, tak ada yang melarangmu untuk iri pada orang lain, namun lihatlah, bagaimana dampak iri itu terhadap dirimu, akankah berbuah kebaikan dan kemajauan, atau hanya berbuah kemunduran dan kemudharatan.

Lantas bagaimana cara memutuskan penyakit iri yang tidak diridhoi? Yakni perbanyaklah syukurmu. Jangan memakai kacamata kuda dalam menilai. Realistislah dalam memandang. Bukankah apa yang kita lihat pada diri orang lain belum tentu apa yang sebenarnya terjadi? Tahu apa kita tentang diri orang lain? Rasanya tak logis jika membandingkan hal yang nyatanya belum tentu adanya.

Biarlah tetangga kita mempunyai mobil baru, biarlah teman sekolah kita mendapati gadget baru, tak ada yang menuntut kita untuk harus mengikuti mereka, tak ada hukuman bagi orang yang tak memilki gadget keluaran terbaru.

Ingatlah wahai diri. yang kita cari sebenarnya apa? Kebahagiaan kan? Lantas jika kita memaksa terlihat wah, apakah hal itu membuat kita merasa bahagia? Mungkin awalnya begitu, akan tetapi akhirnya kita yang akan pusing sendiri. Jika kita memang membutuhkan, mungkin bisa dipertimbangkan, akan tetapi jika kita hanya ikut-ikutan, lebih baik untuk diindahkan.

Insecurelah pada hal yang memantik dirimu untuk lebih, lebih, dan lebih. Hindari insecure kepada hal yang membuatmu semakin mendengki.

Aku, kau, kita, adalah generasi bangsa yang harus fokus memperdalam ilmu, memperdalam kebaikan, memperdalam karya, agar kelak kita bisa memberi kontribusi untuk Negara, jangan sampai waktu kita disibukkan untuk menonton kehidupan orang lain, yang hanya menghabiskan energi kita dalam berkarya. Mulailah hal itu sekarang juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top