Kata toleransi, mungkin menjadi kata yang damai terdengar di telinga kita, toleransi atau toleran, secara bahasa kata ini berasal dari bahasa latin “tolerate” yang berarti sabar dan menahan diri. kalau dalam keseharian kita, sering sekali kata toleransi diartikan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kita antar kelompok atau golongan yang mempunyai perbedaan dengan kita.
Misalkan, kamu yang beradat dari sumatera seringkali ketika berbicara melontarkan suara yang keras dan tegas, sedangkan saya yang beradat dari jawa barat seringkali berbicara dengan suara kecil dan lembut. Dan ketika kita dipertemukan dalam sebuah pembicaraan, seringkali terjadi bentrok adat. Saya yang pada dasarnya tak terbiasa berhadapan dengan orang yang bersuara tegas, harus bertoleransi dengan orang yang memang pada dasarnya bersuara tegas. Begitupun sebaliknya.
Si A misalkan yang memiliki kepercayaan beragama Kristen, dan si B yang memiliki kepercayaan beragama Islam, ketika saat itu tengah terjadi obrolan yang serius dan datanglah suara adzan berkumandang, maka pada saat itu, sisi toleransi harus hidup. yakni memberikan waktu kepada si B untuk melaksanakan ibadah terlebih dahulu. Itulah arti toleransi yang baik.
Namun, bicara tentang toleransi, ada satu bentuk toleransi yang tak boleh kita lakukan, apa itu? yakni toleransi pada ke istiqomahan diri. Ya, toleransi kepada apa yang sedang menjadi perjuangan kita.
Maksudnya apa?
Kadang kala, kita sebagai manusia sering kali melesetkan satu kata untuk arti yang sebenarnya berbeda. Toleransi misalkan, seringkali toleransi menjadi sebuah dalih atau alasan untuk menurunkan semangat perjuangan kita terhadap sesuatu.
Misalnya, pernahkah kita membuat sebuah perencanaan atau jadwal harian yang harusnya kita laksanakan akan tetapi kita menundanya dengan alasan “Mentolerir” diri? penulis sendiri tentu mengaku pernah, bahkan sering.
Pernah suatu ketika saya menuliskan To do List di catatan harian (ini memang kebiasaan saya), disitu tertulis bahwa pada hari esok, saya harus berolahraga, tidak boleh makan makanan junk food, harus mandi 2 kali sehari, harus membaca 10 menit, harus menulis 1 tulisan, shalata 5 waktu, dan baca Al-Qur’an.
Namun, Ketika keesokan harinya tiba, saya sudah melaksanakan 90% dari apa yang sudah saya tulis, yang belum saya kerjakan pada saat itu hanya satu, yakni berolahraga. Saya lalu berkata “Ahh,, tak apa saya tak melakukan olahraga hari ini, toh saya sudah melakukan hampir semua yang telah saya jadwalkan, mungkin esok saya bisa lakukan” Nah, disinilah letak kata toleransi disalahgunakan.
Toleransi terhadap diri sendiri seringkali berubah fungsi dan dijadikan dalih untuk mendukung kita melakukan sebuah alasan pendundaan terhadap apa yang sedang kita perjuangkan.
Kepada para muslimah, akhir-akhir ini mungkin kamu sedang ingin merubah diri, yang sebelumnya tak memakai hijab, shalat sering bolong-bolong, kini lantas memutuskan untuk konsisten berhijab dan shalat tepat waktu 5 kali sehari. Lantas pada suatu hari rasa malas datang menghampiri, lantas kamu berkata “Ah, tak apalah untuk tidak shalat maghrib dulu, Namanya juga berubah tak ada yang instant, semua harus bertahap. Toh saya sudah menggunakan hijab hampir selama saya berada di luar rumah”.
Disinilah letak godaannya, godaan untuk mengubah makna toleransi menjadi alasan untuk menunda, bahkan melunturkan keistiqomahan kita terhadap apa yang kita pejuangkan.
Maka dari itu untuk mu wahai para pejuang diri, jika kamu ingin mendapatkan sesuatu yang kamu idamkan, ingin istiqomah terhadap suatu perjuangan, atau ada yang ingin kau ubah dari kebiasaan buruk dirimu. Maka STOP untuk menolerir diri, STOP untuk mengkambinghitamkan kata toleransi pada apa yang saat ini kamu perjuangkan.
Mungkin kata toleransi baik kedengaran ditelingamu, karena lingkungan kita sudah membuat kata tolerasni menjadi kata yang paling indah untuk diucap. Akan tetapi letakkan kata toleransi tepat pada tempatnya. Jangan menjadikan kata toleransi sebagai dalih untuk kamu berhenti memperjuangkan apa yang sedang kamu perjuangkan.
Itulah godaan diri, yang selalu merubah wujud arti. Menghalalkan apa yang sebenarnya tidak layak, dan mengharamkan apa yang sebenarnya layak.
Hati-hati dengan kambinghitam makna.
Jika hari ini kamu memutuskan untuk shalat 5 waktu tepat pada waktunya, maka perjuangkan itu sampai benar-benar kamu dapatkan. jangan berdalih bahwa kamu sudah melaksanakan shalat 4 waktu tepat pada waktunya, lantas yang terakhir kamu mentolerir dirimu untuk menunda shalat tepat waktumu. Jangan. Sekali lagi jangan. Itu hanya godaan.
Godaan seringkali datang untuk membuatmu menghalalkan kata toleransi, sehingga membuat dirimu menjadi “Sah” untuk mengabaikan apa yang sebenarnya kau perjuangkan. Padahal jika kamu berhasil melakukan apa yang telah kamu rencanakan, maka nikmat kesenangan pasti akan kamu dapatkan. kamu pasti akan berbangga pada dirimu dan berkata “Ya, saya berhasil melewati tantangan hari ini”.
Mungkin saja kamu berdalih saat ini, “Ah tak mengapa, ini hanya sekali saja”. Namun ingat, kata “sekali” dapat menjadi dalih kembali untuk kamu mengulang lagi, hingga berkali-kali. Alhasil, perjuanganmu hanya jalan ditempat saja.
Mungkin ada pepatah yang mengatakan “Jangan memaksakan segala sesuatu, karena itu akan berdampak tidak baik”.
Sebenarnya saya agak sedikit kurang sepakat dengan pepatah ini, mengapa? Bukan kata “Memaksa” yang membuat sesuatu itu menjadi tidak baik. Akan tetapi dimana kata “memaksa” itu kita posisikan?
Memaksa seseorang untuk jatuh cinta denganmu, memaksa seseorang untuk satu pandangan dengan dirimu, memaksa seseorang agar menuruti permintaanmu, memaksa diri untuk terus bergadang demi menyelesaikan tugas, memaksa diri untuk makan apabila sudah kenyang. Mungkin saya sepakat jika narasi “Paksaan itu berdampak buruk” diposisikan pada situasi yang seperti ini. Akan tetapi memaksa diri untuk memperjuangkan hal-hal yang baik? Apakah tidak boleh?
Bukankah banyak contoh paksaan yang membuahkan hal baik?
Bercermin pada pengalaman saya sendiri. Saya dulunya adalah orang yang sangat malas untuk shalat 5 waktu, jangankan 5 waktu, satu waktupun sangat jarang saya laksanakan. Hingga tiba masanya saya meniatkan diri untuk berubah, Ya. saya ingin membuat diri saya bisa melaksanakan shalat 5 waktu. Itu saja. memang pada awalnya saya harus memaksakan diri, saya paksakan, melawan rasa malas yang selalu datang. Hingga akhirnya rasa terpaksa itu menjadikan ku bisa, hingga terbiasa. Dan sampai saat ini, meninggalkan shalat 5 waktu menjadi hal yang tidak mengenakkan bagi diri saya.
Seringkali saya mendengar kisah seorang penulis besar. Ketika ditanya “Mengapa kamu menjadi penulis yang begitu hebat? Apakah latar belakang keluargamu adalah penulis?” jawab sang penulis besar itu “Tidak, sama sekali tidak, dahulu bahkan saya tidak suka tulis menulis, Namun saya memaksa untuk menulis, maka jadilah saya seorang penulis”.
Begitupun dengan saya sendiri. Orang yang dulunya sangat jarang bahkan malas untuk membaca apalagi menulis. Akan tetapi saya bertekad untuk menjadikan itu bagian dari kebiasaan saya. Dengan cara apa? Ya. memaksanya hingga terbiasa.
Maka benarlah pepatah berkata “Ala bisa karena biasa, ala biasa karena terpaksa”.
Bukankah semasa kecil juga kita dipaksa untuk bisa berjalan hingga akhirnya kita bisa berjalan? Bukankah semasa kecil kita dipaksa untuk berbicara agar kita bisa terbiasa berbicara?
Maka dari itu, wahai pejuang istiqomah. Hentikan dalih toleransi pada diri yang sedang berjuang. Memaksa tak mengapa, karena dengan terpaksa maka kita akan biasa.
***