Kita semua sudah tahu, bahwa kunci dari kesuksesan ada tiga. Yakni, motivasi, eksekusi, dan konsistensi. Apapun mimpimu, apapun tujuan hidupmu, jika ingin mendapatkannya inilah tiga prinsip sukses itu.
motivasi diperlukan agar kita mau untuk bangkit melakukan satu hal, layaknya sebuah kendaraan yang ingin melaju, perlulah diisi bahan bakar, dan bagi manusia, bahan bakar ini sama halnya dengan motivasi. Eksekusi diperlukan untuk mewujudkan secara bertahap apa yang kita cita-cita kan, eksekusi adalah sebuah langkah setapak demi setapak dalam memanjat tangga satu demi satu agar kelak kita menapaki tangga tertinggi. dan konsistensi diperlukan agar dalam perjalanan eksekusi dari motivasi kita bisa berjalan sampai akhir.
Banyak orang yang baru sampai pada tahap yang pertama, masih mencari-cari motivasi, masih mencari tujuan, masih mencari mentor, masih mencari role model yang akan dijadikan patokan semangat untuk mendapatkan ide cita-cita. Banyak juga orang yang berada dalam posisi yang kedua, eksekusi. Mereka sekarang sedang proses perjalanan, berjuang melewati banyak anak tangga, segala rintangan yang ada tengah ia hadapi. Dan ada pula mereka yang sedang dalam tahap terakhir yaitu konsistensi.
Lalu bagaimana konsistensi itu?
Saya berani mengatakan bahwa tahap pertama dan kedua itu gampang-gampang saja dilewati oleh banyak orang, gampang saja kita mendapatkan role mode kita, gampang saja kita melakukan eksekusi terhadap apa yang kita targetkan dalam motivasi. Namun, untuk melewati tahap konsistensi, disinilah mental, tenaga, pikiran, fisik, waktu, semuanya di uji. Karena inilah yang akan menentukan sukses tidaknya dirimu.
Konsistensi adalah kata yang menggambarkan ketika kita berjuang, pantang mundur jika tak dapat hasil. Lebih baik mati saja jika tak mendapatkan apa yang diperjuangkan. Konsistensi adalah proses penghilangan alasan, proses penghilangan kata “toleransi diri”. Konsistensi adalah bicara profesionalisme diri, apapun yang terjadi jika sudah bilang A, jika sudah melakukan A, maka tetaplah A sampai akhir. Itulah konsistensi.
Mau katamu ingin menjadi penulis, maka konsistenlah dengan katamu, menulislah setiap hari, tak peduli rintangan apa yang sedang kau hadapi, tak peduli masalah apa yang menerpamu sehingga melegalkan alasan untuk tidak menulis barang satu haripun. Mungkin kamu targetkan ingin menulis selama satu tahun. Dan di pertengahan tahun kamu mendapatkan musibah sakit misalkan, maka kau akan mengatakan pada diri sendiri bahwa, “Ah, saya sedang sakit, tak apalah untuk alpa sehari saja untuk menulis”. Hei, tidak kawan, jangan pernah membuat alasan apapun kondisimu. Kecuali kalau kamu memang tidak bisa melakukan dalam konteks fisik dan mental. Akan tetapi selama masih bisa, maka lakukanlah. Sekarang!!! Segera!!!
Disinilah konsistensi mu di uji, jika kau merasa sudah sangat banyak berkorban terhadap sesuatu, maka ada hasrat untuk melanggar sedikit saja. tapi hei kawan. Konsistensi itu bukan persoalan banyak tidaknya yang sudah kamu lakukan. konsistensi adalah apa yang sudah kau mulai, maka akhirilah sampai kau mendapatkan tujuanmu. Itulah konsisten. Kapan sesaat kamu mengindahkannya, barang sekalipun, maka kamu sudah berkhianat atas konsistensimu, dan pada saat itulah kamu pantas disebut orang munafik, pecundang, kalah, gagal, dll.
Perihal istirahat? Ah, saya rasa konsistensi dan istirahat perlu dibedakan saat ini. Tidak mungkin juga kamu mengerjakan sesuatu selama 24 jam penuh. Istirahat lah disela waktu, akan tetapi ingat pula dengan konsistensi mu terhadap sesuatu. Maka tipsnya adalah, jangan terlalu banyak membuat berjanji untuk konsisten pada sesuatu.
Ingat wahai kawan. Konsisten bukanlah seberapa banyak yang telah kau lakukan, akan tetapi apakah kau memulai dan mengakhirinya sesuai dengan rencana?
Lantas timbul pertanyaan. Bagaimana jika konsistensi saya mulai terganggu?
Ya, tak dapat dipungkiri, konsistensi seseorang pasti akan mengalami banyak sekali kendala, namun, bagi saya, untuk menghadapi hal itu adalah dengan cara mereview kembali. Review kembali motivasimu, review kembali eksekusimu.
Hei kawan. Kamu sudah sejauh ini melangkah, apakah kau akan menghianati segala macam proses keringat dan air matamu hanya karena hal sepele ini saja? apakah kau akan menggugurkan konsistensimu karena satu hal saja? satu gangguan saja? apapun gangguan itu, ayolah, katakan pada gangguan itu, “Seberat apapun kau, maka kau tak akan aku biarkan merusak pondasi konsistensi yang telah saya bangun”.
Cobalah kembali untuk membaca kisah-kisah inspiratif orang yang selalu konsisten. Bagaimana mereka melewati rintangan-rintangannya. Bacalah artikel-artikel tentang seberapa bergunanya konsistensi itu, bacalah buku-buku motivasi yang menggiringmu untuk segera tetap pada pendirianmu, atau nontonlah video di youtube agar semangatmu tetap membara.
Hidup di saat ini sangat enak sekalli, semua fasilitas sudah ada dan banyak terjangkau. Tinggal kita mau bagaimana, apakah mau memanfaatkannya? Atau membiarkannya memanfaatkan kita?
Motivaasi – ekseskusi – konsistensi.
Itulah perjalanan yang menuntunmu ke tahap berhasil. Seperti halnya tes tes masuk perguruan tinggi. Yang paling berpengaruh pastilah hasil tes terakhir. Maka jika kita mengambil contoh itu, jelaslah bahwa konsistensi yang menjadi penentu sukses tidaknya dirimu.
Konsisten, konsisten, konsisten. Itu kunci emasnya. Terimakasih.