Penyakit yang paling sering terlihat dan terjangkit oleh generasi muda sekarang adalah terlalu banyak bicara. Sebab derajat dikaguminya orang-orang adalah ketika mereka terlihat banyak bicara di depan orang banyak. ketika sedang banyak bicara, maka banyak pulalah perhatian yang tertuju padanya, dan saat itulah yang menjadi kegembiraan tersendiri buat sipembicara.
Apakah itu buruk? Belum tentu, namun yang harus kita perhatikan adalah apakah yang kita bicarakan itu adalah sesuatu yang bermanfaat?
Benar kata pepatah mengatakan, “Mulutmu harimaumu” bahwa apa yang kau keluarkan dari mulutmu adalah apa yang menjadi senjata bagimu untuk orang lain.
Perkataan itu bagaikan sebuah nikotin. Dimana baik tidaknya tergantung penggunanya. Baik jika penggunaannya pas dengan dosis yang dibutuhkan, namun buruk jika penggunaannya melebihi dosis yang dibutuhkan. Apa pertanda cukupnya dosis yang pas itu? yakni berbicara ketika diminta, dan berbicara yang penting dan baik saja.
Hati-hati dalam perkataan, sebab perkataan adalah hal yang keluar dari diri, namun tak bisa ditarik kembali. Perkataan juga bisa memberi dampak bagi diri dan juga orang lain. ketika misalkan kita mengeluarkan kata negatif seperti mencaci, memaki, menghina orang lain, dampaknya bukan hanya kepada yang dihina. Namun juga berdampak pada diri sendiri.
Petuah islam mengatakan bahwa perkataan itu sama nilainya dengan doa. Dan benar, hati-hatilah dalam berkata sebab apa yang kau keluarkan dari mulut, itu akan kembali lagi pada diri sendiri. Mengapa? Sebab apa yang keluar dari mulut, itulah yang dipikirkan oleh akal, dan apa yang dipikirkan oleh akal, itulah yang diyakini oleh hati, dan apa yang diyakini oleh hati maka seperti itulah diri akan bertindak.
Ketika kita berdo’a, kita dituntut untuk meyakini bahwa apa yang kita minta, adalah apa yang benar-benar kita inginkan, kita dituntut untuk percaya bahwa perkataan kita yang dilontarkan dalam do’a itu, maka itulah yang akan kejadian nantinya.
Tidak ada perkataan yang keluar tanpa melalui pikiran terlebih dahulu. Makanya, semakin sering kita berkata negatif menandakan semakin negatif juga apa yang ada dalam pikiran kita. Semakin sering kita berpikir negatif, semakin negatif juga tindakan yang keluar.
Makanya sebuah pepatah bijak mengatakan bahwa jangan sekali-kali kau memikirkan hal yang negatif, sebab pikiran negatif akan mempengaruhi tindakanmu. Apa yang kau pikirkan hari ini adalah seperti apa dirimu beberapa tahun kedepannya.
Sinkronlah antara perkataan dan perbuatan, sebab kesemuanya akan mempengaruhi pikiran dan hati.
Perkataan juga bisa menusuk orang-orang yang mendengarnya. Sebab apa yang keluar dari mulut kita adalah apa yang terdengar oleh telinga orang lain. dan apa yang terdengar oleh telinga orang lain maka bisa jadi masuk dalam pikiran, hati, dan berpengaruh pula pada tindakan seseorang.
Ingat, jangan sampai kita menjadi parasit dihidup orang lain, jangan sampai kita yang menjadi sebab ketidakberuntungan orang lain lantaran ucapan kita. mungkin bagi kita perkataan kita hanyalah sebuah candaan. Akan tetapi bagaimana dengan si pendengar kita? Apakah mereka menganggap hal itu sebagai sebuah candaan? Atau malah mengganggu hati dan pikirannya?
Jika kita sejatinya ingin menjadi orang yang baik, yang bermanfaat, maka sepatutnya kita selalu mengeluarkan perkataan yang baik dan bermanfaat pula. Sebab perkataan yang keluar dari mulutmu, adalah cerminan dari sikap pribadimu.
Sangat gampang untuk menilai orang lain. jangan tertipu oleh tingkah laku seseorang saat didepanmu. Sebab bisa jadi yang dia kerjakan hanyalah “acting” dari dirinya saat didepanmu. Jika ingin menilai orang lain. maka nilailah ia dari caranya berbicara sehari-hari, yang mana lebih mendominasi perkataannya, negatif kah atau positifkah. Maka seperti itu pulalah kepribadian dirinya secara keseluruhan. Jika ingin menilai pemikiran orang lain, maka nilailah ia dari tulisan-tulisannya. Jika ia pernah menuliskan satu buku, lihatlah bukunya. Atau kalau tidak, yang paling gampang adalah lihatlah sosial medianya, lihatlah status-statusnya. Maka seperti itulah representatif dirinya. sebab cara kedua mengetahui pribadi orang lain selain perkataan, adalah tulisan. Karena keduanya berasal dari pikiran, dan pikiran yang akan menentukan tindakan.
Kawanku, hati-hatilah dalam perkataan. Sebab kita tak pernah tahu, perkataan yang baru saja terlontarkan dari mulut kita apakah berbuah kebaikan atau keburukan. Jangan banyak berbicara sebab ingin diperhatikan, jangan banyak bicara sebab ingin terlihat wow di hadapan orang, jangan banyak bicara sebab ingin disegani dihadapan orang. Sebab salah sedikit kita berkata, maka nasiblah yang bermain.
Kita tentu selalu melihat berita-berita di media yang tengah viral dan mengundang ujaran kebencian oleh netizen. Ya, sebabnya adalah perkataan. Hanya sedikit kata saja yang dikeluarkan, maka bisa jadi semua orang akan tersinggung.
Maka benarlah pepatah mengatakan, “Diam itu emas”. Emas itu bernilai tinggi, namun cara mendapatkannya susah sekali. Diam itu bernilai tinggi, namun cara implementasinya susah sekali.
Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin, yakni orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan al-laghwu (perkataan dan perbuatan yang tidak berguna)
(QS al-Mukminun : 3)
Kawanku, Berbicaralah seperlunya saja, berbicaralah sebaiknya saja. sebab perkataan yang baik, pasti akan mengundang hal yang baik, maka dampaknya juga baik, baik untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. kita tak pernah tahu dampak perkataan kita bagaimana kedepannya, namun kita selalu bisa mengendalikan seperti apa perkataan yang bisa kita lontarkan. Berbicara yang baik, niscaya alam pun akan memberikan yang terbaik bagi diri.
terimakasih