Suatu pagi saya iseng scrolling social media, kudapati sebuah postingan penulis bernama Ahmad Rifa’I Rif’an, seorang penulis yang telah menerbitkan lebih dari 100 buku dan banyak diantaranya best seller. Dia jugalah yang menjadi role model saya dalam berkarya. Pagi itu ia memposting sebuah fotonya yang sedang melakukan acara bedah buku di sebuah mall Surabaya. Dipostingan, ia menuliskan bahwa kondisi saat acara bedah buku itu yang hadir hanya satu orang. Bukan, tiga orang. Termasuk dirinya, moderator, dan satu orang peserta. Ku perhatikan kembali fotonya, raut mukanya, benar-benar sedih. lalu mas Rifa’I dalam captionnya tertulis sebuah pelajaran.
“Hidup itu jangan mudah baper. Karena ada banyak anak muda yang gak berani memulai impiannya karena ketakutan-ketakutan dalam jiwanya. Pingin mulai jualan, tapi takut gak ada yang beli. Pingin bisnis, tapi takut gagal. Pingin nulis buku, tapi takut gak diminati. Pingin banget live IG, tapi takut gak ada yang nonton. Pingin bikin channel Youtube, tapi malu kalo gak ada yang subscribe. Akhirnya gak mulai apapun. Jadi Mulai saja dulu. Berproses gak ada yang instan. Saat gagal. Kita selalu punya pilihan, menyerah atau lanjut. Kalo nyerah, selesai. Tamat cerita. Kalo lanjut, kita masih peluang untuk berhasil”.
Membaca tulisan postingan itu, lagi-lagi hati saya merasa sangat tertampar. Saat itu saya sedang memasarkan buku perdana saya, baru hari pertama, saya sudah ngeluh karena yang pesan baru dua orang. Padahal, kalau dipikir-pikir hal itu sangat wajar, mengingat saya hanya penulis yang baru tumbuh biinya. Hehe..
Dan benar, bahwa semua kesuksesan yang terlihat itu tidak dibangun dalam semalam saja, butuh perjuangan yang tak biasa untuk menjadi luar biasa. Rumus kesuksesan dapat saya simpulkan yakni akumulasi dari kerja keras, usaha,keringat, air mata, mental, waktu dan doa.
Kita sebagai manusia suka ngeyel. Kenapa? kita sudah sangat tahu bahwa kesuksesan itu tidak dibangun dalam semalam saja, namun mengapa kita masih saja suka menyerah padahal perjuangan masih 5 meter dari garis start? Kita sangat terburu-buru untuk mendapat hasil namun usaha hanya sekian persen. Kita tahu persoalan teori itu, namun saat prakteknya kita kadang menjadi orang yang tak tahu diri.
Dan benar, berdasar kisah yang dipaparkan oleh mas Rifa’I tadi, perjuangannya tidak dibangun hanya sekedar jadi buku, lalu sukses, best seller, dan dapat makan dari penghasilan nulisnya itu. Ketika dilihat hari ini, memang ia sudah bisa dikata sebagai penulis sukses, namun lihatlah 9 tahun yang lalu, begitu malunya yang ia rasakan mengadakan acara bedah buku tapi yang datang hanya satu orang. Pertanyannya? Sanggupkah kita menjadi orang yang bermental baja seperti itu? atau jangan-jangan baru dikritik dikit aja langsung hancur.
Kawanku. Mari, jangan Cuma untuk disadari, namun serapilah dalam-dalam makna bahwa sukses itu butuh waktu, dan waktunya bukan hanya hitungan bulan, bahkan sampai bertahun-tahun perjuangan itu. maka dari itu, berikanlah penghargaan pada mereka yang sedang berjuang menggapai citanya, jangan menjadi parasit atas perjuangan seseorang, jangan pernah memberi kritik yang menjatuhkan orang lain. Sebab, kalau mereka sukses, kita sendirilah yang malu.
Begitupun kita, jangan gampang baper, perihal kritik saja sudah down mental. Perihal jualan tidak laku saja sudah memilih putar balik. Perihal tulisan yang tak mendapat respon saja sudah bilang, “Ah, ini bukan passionku”.
Mari kita kembali belajar pada orang-orang sukses jaman dahulu, seorang penemu lampu bernama Thomas Alfa Edison, yang pada awalnya mencurahkan sangat banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk melakukan percobaannya membuat sebuah lampu pijar. Dalam perjalanannya ia tak tanggung-tanggung mengeluarkan uangnya, konon tak kurang dari 40,000 dollar ia keluarkan hanya untuk percobaan yang tak pastinya itu. dan uang tersebut pada waktu itu merupakan jumlah yang sangat banyak. belum lagi percobaannya itu gagal sebanyak 9000 kali. Thomas pun berkata dalam kesuksesannya, “Saya sukses, karena saya telah kehabisan apa yang disebut kegagalan”.
Kawanku, niatkanlah melakukan sesuatu itu untuk menebar kebermanfaatan, niscaya perjuanganmu itu bukan hanya kau nikmati di dunia saja, namun juga di akhirat kelak. Mari kita melihat karya-karya orang sukses, ada satu kesamaan dari karya mereka sehingga namanya bisa melesat maju. Yakni, sama-sama memberikan manfaat.
Gagal, gagal, gagal, sukses. begitulah kiranya. Jika kita belum pernah merasakan pedihnya kegagalan, berarti kita belum pantas merasakan nikmatnya kesuksesan. Belum pernah saya temukan orang sukses yang tidak pernah gagal. Selalu pasti ada gagalnya.
Kawanku… marilah untuk menanamkan hal ini pada pikiran bawah sadar kita, pada hati kita, pada mental kita, bahwa jangan mudah untuk berputus asa. Tidak ada kata gagal jika diri masih terus melakukan perjuangan. Sukses itu ada dan nyata, dimanapun pilihanmu berkiprah, mau bagaimanapun bakatmu, mau bagaimanapun kondisimu. Ingatlah, sukses itu ada dan nyata, dan sukses itu adalah sebuah piihan.
Ketika kita memilih untuk sukses, berarti kita sudah bersepakat untuk alami jatuh bangun derita. Itulah hukum mutlaknya.
“Tapi bro, diliuar sana ada juga yang terlihat sukses, namun tak banyak melakukan usaha” katamu.
Ah.. jangan sok tahu, ayo ajak mereka untuk berbincang, coba tanyakan perjuangannya dari nol sampai sekarang. apa benar-benar hanya semalam? Pasti dan pasti tidak.
Sebelum kita menghakimi diri sebagai orang yang tidak berbakat. Mari kita hitung-hitung dulu sudah berapa perjuangan yang telah kita lalui. Jangan-jangan Cuma secuil saja usaha dan keringat kita korbankan, lalu mengharapkan kesuksesan yang besar.
Jangan hanya jadi pemimpi yang besar, mimpilah sebesar-besarnya, namun jangan lupa untuk bertindak lebih besar lagi.