Merawat Diri

Ketika kita memiliki sebuah benda kesayangan, entah itu laptop baru, handphone baru, mobil baru, atau apapun itu. Kita kerap kali selalu berhati-hati dalam menggunakannya, selalu menjaganya, merawatnya, membersihkannya, hingga tak jarang pula kita mengeluarkan biaya lebih demi untuk membuatnya terlihat baru dan menghindarkannya dari kerusakan.

Ketika kita memiliki seorang pasangan. Kita sering kali memberinya nasihat, mengingatkannya untuk makan tepat waktu, tidak boleh begadang, membelanjakannya dan menjaganya dari gangguan orang lain, semua itu tak kurang karena kita menyayanginya.

Ketika kita memiliki seorang sahabat atau teman, ada kala mereka ditimpa masalah, mereka datang pada kita, dan kita sering pula memberinya nasihat-nasihat bak seorang motivator, karena kita merasa sayang pada mereka.

Lantas, bagaimana dengan diri sendiri? Pernahkah kita sibuk memperhatikan diri kita seperti halnya memperhatikan orang lain? pernahkah kita menjaga dan merawat diri kita seperti halnya menjaga dan merawat benda kesayangan?

Kita terkadang terlalu sibuk pada hal diluar diri kita sedang kita lupa dengan diri kita sendiri. Kita tak terlalu pikir panjang mengeluarkan uang banyak untuk merawat benda kesayangan, dibanding mengeluarkan uang untuk merawat diri kita sendiri. Kita tak terlalu pikir panjang menjaga dan menasihati orang lain yang sedang butuh nasihat kita dibanding menjaga dan menasihati diri sendiri. Kita terkadang begitu dermawan pada sesuatu diluar diri kita dan terlalu pelit untuk diri kita sendiri.

Fenomena yang sering kali saya dapatkan, banyak orang yang rela menabung keras, karena untuk membeli sebuah handphone baru, laptop baru, atau mobil baru, sehingga melupakan hak tubuhnya untuk membeli makanan yang bergizi. Katanya sih menabung tapi karena menabungnya itu, dia terus-terusan menyiksa diri untuk memakan makanan murah, cepat saji, yang kandungan gizinya bisa saja sangat tak mencukupi kebutuhan.

Fenomena lain adalah kita kerap kali bercita-cita ingin menjadi seorang nomor satu dikelas, kita terus-menerus memaksa diri kita untuk belajar sampai larut malam, melupakan makan, melupakan mandi, sampai melupakan istirahat.

Mungkin saja cita-cita ingin jadi juara memang tercapai, akan tetapi kondisi kesehatannya buruk. Teringat apa kata ayah saya, “Nak, Percuma kau menjadi juara besar, percuma jadi pemimpin, jika kesehatanmu kurang dan tubuhmu tidak terawatt, itu sama saja nol besar.”

Maka dari itu, sebelum kau membereskan diluar dari dirimu, bereskan dulu apa yang ada di dalam dirimu, bereskan dulu dalamanmu sebelum membereskan luaranmu. Karena yang paling penting adalah apa yang ada dalam diri dibandingkan apa yang ada diluar diri.

Percuma kita menjadi juara, percuma kita menjadi pemimpin, jika kita tak bisa memberi manfaat pada orang lain lantaran kondisi kita saja sudah memburuk akibat kurang memperhatikan diri. untuk apa itu semua? Nol besar. Yang didapatkan hanyalah capeknya doang.

Jangan sungkan untuk membayar lebih jika itu berkaitan dengan kepentingan jiwa dan ragamu, jangan karena mobilmu yang rusak kau rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk memperbaikinya, sedang pikiranmu yang lelah kau tidak mau mengeluarkan uang untuk sekedar refreshing saja. jangan karena kau berniat membeli handphone baru lantas urusan perutmu kau kesampingkan.

Ingat! Dirimu adalah nomor satu.

Berilah perhatian pada dirimu, rawat dirimu, cintai dirimu, berilah kepuasan pada dirimu, dermawanlah pada dirimu, berikan kesenangan, pujilah dirimu, kasi hadiah, dan nomor satukan dirimu terlebih dahulu, karena tak ada yang lebih istimewa daripada kehadiran dirimu untuk dirimu sendiri, dan dengan kehadiranmu yang powerfull, juga bisa memberikan manfaat bagi orang banyak

Love Your Self

Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top